Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Lainnya » Status Hukum Perkara Yang Tidak Pernah Dikerjakan Rasulullah SAW
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Status Hukum Perkara Yang Tidak Pernah Dikerjakan Rasulullah SAW
Pertanyaan : Assalamu`alaikum Wr. Wb. Apakah kalau kita melakukan suatu perbuatan baik tapi perbuatan tersebut tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW, seperti maulidan, istighatsahan, menonton TV, menggunakan spiker dll, hukumnya adalah bid`ah dhalalah dan pelakunya berdosa? Mohon jawabannya ustadz. Syukron
Kamis, 17 Juli 2014 08:48 WIB |

Jawaban : Wa`alaikum Salam Wr. Wb.

Sumber hukum yang disepakati dalam lingkup Ahl Sunnah wal Jama`ah adalah al-Qur`an, Hadis, Ijma dan Qiyas. Sedangkan Dalam hadis yang dijadikan acuan untuk menentukan hukum adalah ucapan, perbuatan, dan pengakuan/tidak menolaknya Nabi SAW atas apa yang dilakukan sahabatnya. Sedangkan apa yang tidak pernah dilakukan beliau, seperti yang anda pertanyakan, tidak termasuk wilayah sumber untuk menetapkan hukum. Begitu juga dalam rangkain dalil-dalil yang perselisihkan: istihsan, maslahah mursalah, `urf, istishabm syar`u man qablana, qawl sahabi, sadz dzar`aih, tidak satupun ulama salaf maupun khalaf menyatakan bahwa at-tarku (sesuatu yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW) dimasukkan sebagai salah satu dalil hukum. Karena para ulama menyatakan bahwa:

الترك ليس من أدلة الأحكام. 

"Sesuatu yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah tidak boleh dijadikan dalil hukum (bahwa sesuatu tersebut haram/bid`ah)"

Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa apa yang tidak dilakukan beliau termasuk sumber hukum  الترك من أدلة الأحكام

"Sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah SAW termasuk dalil hukum, (bahwa sesuatu tersebut hukumnya tidak boleh, bid`ah)."

Pendapat minoritas bertentangan dengan ruh Islam dan tidak sesuai dengan perintah Rasulullah SAW untuk mempermudah urusan

يسروا ولاتعسروا

"Permudahlah kalian semua dan jangan mempersuliat, (diri sendiri dan orang lain)."

Kenapa bertentangan dengan ruh Islam? Karena endapat minoritas diatas akan mempersempit ruang gerak umat dalam beragama.Padahal jutaantradisi baru yang tidak pernah ada ketika Rasulullah SAW masih hidup, kini bermunculan dihadapan kita dan menjadi kebutuhan primer umat. Apakah semuanya akan diharamkan? Hal yang perlu difahami juga bahwa sesuatu yang tidak pernah dilakukan beliau belum tentu konotasinya selalu haram atau dilarang.

Dalam menyikapi polemik ini (at-tarku) seorang pakar hadis kenamaan al-Hafidz al-Ghumari berpendapat bahwa ketika Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakan sesuatu itu ada beberapa kemungkinan:

Pertama, Meninggalkannya karena tidak sesuai dengan tradisi di daerah beliau tinggal.

Diceritakan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi SAW. tidak memakan daging dhobb (biawak Arab) ketika disuguhi, lalau beliau ditanya "Apakah daging tersebut haram?", beliau menjawab; "Tidak haram, tetapi daging itu tidak ada di daerah kaumku".

Kedua, Meninggalkannya karena lupa.

Seperti ketika beliau meninggalkan sesuatu dalam salat, lalu ditanya "Apakah terjadi sesuatu dalam salat?" Beliau menjawab: "Aku juga manusia, yang bisa lupa seperti halnya kalian. Kalau aku lupa meninggalkan sesuatu, ingatkanlah aku."

Ketiga, Meninggalkannya karena khawatir diwajibkan atas umatnya.

Seperti meninggalkan salat tarawih berjamaah setelah melihat para sahabat berkumpul menunggu untuk salat bersama belliau.

Keempat, Meninggalkannya karena memang tidak pernah terpikirkan dan terlintas dalam benak beliau.

Pada mulanya Rasulullah SAW. berkhutbah dengan bersandar pada pohon kurma dan tidak pernah berpikir untuk membuat kursi tempat berdiri ketika khutbah. Setelah sahabat mengusulkannya, maka beliau menyetujuinya. Begitu juga usulan para sahabat untuk membuat tempat duduk dari tanah agar beliau dapat terlihat dan dikenali orang-orang asing, dan ternyata beliau menyetujuinya, padahal belum pernah memikirkannya.

Kelima, Meninggalkannya karenal hal tersebut masuk dalam keumuman ayat al-Qur`an dan hadis, seperti kebanyakan amal mandub (dianjurkan) yang beliau tinggalkan karena sudah tercakup dalam firman Allah:

"Berbuatlah kebajikan, pastia kalian akan bahagia." (Al-Baqoroh: 77)

Keenam, meninggalkannya karena menjaga perasaan sahabat.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwa beliau berkata kepada Aisyah : "Seandainya kaummu telah lama meninggalkan kekufuran, tentu Ka`bah itu aku bongkar lalu aku bangun sesuai dengan fondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim as. karena orang-orang Quraisy dulu tidak mampu membangunnya secara sempurna". Nabi saw. tidak merekonstruksi Ka`bah karena menjaga perasaan sebagian sahabat yang baru memeluk Islam.

Walhasil sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah tidak otomatis menjadi haram dikerjakan. Secara status hukum, ada 5 kemungkinan: bisa haram, makruh, mubah, sunah bahkan bisa wajib dikerjakan. Tergantung apakah perkara tersebut bertentangan dengan Islam? Atau sebaliknya, tidak bertentangan dengan nilai Islan dan sangat dibutuhkan umat dalam rangka mewujudkan kemaslahatan dan mewujudkan Islam rahmatan lil`alamin? Wallahu `alam





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa