Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Lainnya » Hukum Membatalkan Tunangan?
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Hukum Membatalkan Tunangan?
Pertanyaan : Assalamu`alaikum Wr. Wb. Ustadz bagaimana hukumnya membatalkan tunangan?
Rabu, 10 Desember 2014 08:42 WIB |

Jawaban :

Jawab:

Wa`alaikum Salam Wr. Wb

Kesepakatan antara peminang dengan yang dipinang untuk menerima Khitbah/pinangan/lamaran, baik yang menerima pinangan tersebuk pihak wanita secara langsung ataupun Walinya termasuk Akad Jaiz sebagaimana Akad Wakalah (perwakilan), Wadi`ah (titipan), Syirkah (perseroan) dan semisalnya bukan Akad Lazim seperti akad jual beli,akad Ijaroh (perkontrakan), akad Salam (pembelian uang dimuka) dan semisalnya. Akad Jaiz boleh difasakh (dibatalkan) secara sepihak (dengan tidak ada konsekuensi dosa apapun) tanpa persetujuan pihak yang lain, semantara akad Lazim tidak bisa difasakh tanpa persetujuan kedua belah pihak yang berakad. Dalil yang menunjukkan mubahnya membatalkan pinangan adalah hadis berikut;

 

“Dari Al A`raj ia berkata; Abu Hurairah berkata; Satu warisan dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian perasangka, sebab perasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. Janganlah seorang laki-laki meminang atas pinangan saudaranya hingga iamenikahinya atau meninggalkannya.” (H.R.Bukhari)”

Lafadz ” hingga ia menikahinya atau meninggalkannya ” menunjukkan orang yang telah mengKhitbah (meminang) wanita punya dua pilihan sesudah pinangan tersebut diterima; melanjutkan dengan akad nikah atau meninggalkan pinangannya. Jika dia memilih meninggalkan pinangannya maka hal itu bermakna dia membatalkan pinangan. Pembatalan pinangan dalam hadis ini tidak disertai lafadz dari Rasulullah SAW. yang mengesankan ancaman dosa atau sekedar celaan. Oleh karena itu membatalkan pinanganhukumnya mubah, bukan makruh apalagi haram. Kebolehan membatalkan bersifat mutlak, karena lafadz hadis di atas tidak diikat kondisi tertentu untuk menunjukkan kebolehan pembatalan tersebut. Jadi, pembatalan pinangan baik dengan alasan maupun tanpa alasan hukumnya tetap mubah tanpa ada celaan. Alasan pembatalan pinangan tidak mempengaruhi status hukum dan tidak dipertimbangkan.

 

Sahabat Ali RA pernah melamar seorang wanita, kemudian membatalkan pinangannya.

: : :

Dari Az Zuhriy berkata, telah bercerita kepadaku `Ali bin Husain bahwa Al Miswar bin Makhramah berkata; “`Ali pernah meminang putri Abu Jahal, lalu hal itu didengar oleh Fathimah. Maka Fathimah menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan berkata; “Kaummu berkata bahwa baginda tidak marah demi putri baginda. Sekarang `Ali hendak menikahi putri Abu Jahal”. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berdiri dan aku mendengar ketika beliau bersyahadat bersabda: “Hadirin, aku telah menikahkan Abu Al `Ash bin ar-Rabi` lalu dia berkomitmen kepadaku dan konnsisten dengan komitmennya kepadaku. Dan sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari diriku dan sungguh aku tidak suka bila ada orang yang menyusahkannya. Demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan putri dari musuh Allah pada satu orang laki-laki”. Maka `Ali membatalkan pinangannya. (H.R.Bukhari)

 

Adapun hadis tentang tanda-tanda orang munafik, misalnya hadis berikut;

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tanda-tanda munafiq ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat”. (H.R.Bukhari)

Maka hadis ini juga tidak bisa dijadikan dalil untuk mencela pembatalan pinangan. Hal itu dikarenakan, meskipun diakui bahwa Syariat mencela sifat mengingkari janji, namun pinangan bukanlah janji dan tidak bisa dimasukkan dalam janji. Pinangan adalah  (permintaan Nikah). dalam Mu`jam Lughati aL-Fuqoha dinyatakan;

: ,

khithbah, dengan mengkasrohkan Kho` adalah; permintaan menikahi wanita kepada wanita itu sendiri atau kepada walinya” (Mu`jam Lughati AL-Fuqoha, vol.1, hlm 237)

Jadi, keputusan membatalkan pernikahan baik dari pihak lelaki maupun wanita dengan alasan apapun tidak bisa disalahkan secara hukum syara.

Pemberian suatu barang dari pihak laki-laki baik itu berupa pakaian, perhiasan, makanan, minuman atau yang lainnya, jika memang diberikan dengan tujuan hadiah kepada wanita yang dilamar, maka tidak boleh diminta kembali jika pertunangan dibatalkan, baik dibatalkan atas kesepakatan kedua belah pihak atau dibatalkan oleh salah satu pihak, termasuk kalau perkawinannya tak jadi dilaksanakan karena salah satunya meninggal dunia.

Sedangkan jika barang-barang tersebut diberikan supaya wanita tersebut menikah dengan pria yang memberikan barang-barang tersebut, maka barang-barang yang diberikan saat lamaran tersebut boleh diminta kembali jika masih ada, jika sudah rusak maka ia boleh meminta ganti. Begitu juga jika barang-barang tersebut diberikan tanpa ada ucapan (tidak jelas apakah diberikan agar wanita tersebut menikah dengannya atau tujuannya memberi hadiah) sebab umumnya seorang laki-laki memberikan sesuatu saat lamaran bertujuan agar wanita tersebut menikah dengannya. Pendapatyang menyatakan bahwa pihak lelaki boleh meminta kembali barang yang diberikan saat lamaran, baik yang membatalkan pihak lelaki atau wanita adalah pendapat yang difatwakan Imam Romli. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab beliau "Tuhfatul Muhtaj" juga berpendapat demikian, namun dalam kitab Fatawi-nya beliau membedakan dua hal tersebut. Berdasarkan penjelasan Imam Rofi`i dalam bab shidaq (mas kawin) Ibnu Hajar Al-Haitami menyimpulkan bahwa jika pihak perempuan yang membatalkan pertunangan, maka pihak lelaki boleh meminta kembali barang-barang tersebut,namun bila yang membatalkan pertunangan adalah pihak lelaki sendiri, maka pihak lelaki tidak boleh meminta kembali barang-barang itu. Kesimpulan jawabannya, cincin tersebut boleh harus dikembalikan jika diminta oleh laki-laki tersebut menurut pendapat Imam Romli dan salah satu pendapat Ibnu Hajar. Sedangkan menurut pendapat Ibnu Hajar dalam itab Fatawi-nya lelaki tersebut tidak berhak untuk meminta kembali cincin yang telah ia berikan





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa