Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Lainnya » Bekerja pada Non Muslim?
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Bekerja pada Non Muslim?
Pertanyaan : Assalamu`alaikum Wr. Wb. Bagaimana hukum bekerja pada orang non musliam?
Rabu, 17 Desember 2014 09:52 WIB |

Jawaban :

Wa`alaikum Salam Wr. Wb.

Pada dasarnya Islam membolehkan kaum muslimin bermuammalah dengan non muslim. Bahkan tradisi semacam ini dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para  sahabatnya. Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah SAW membeli makanan dan menggadaikan baju perangnya dengan dua puluh sho` makanan kepada seorang Yahudi bernama Abu Syahm1, sebagaimana  beliau juga mengadakan akad muzara`ah (bagi hasil bumi) dengan Yahudi Khaibar2 ketika kaum muslimin menaklukkan tanah Khaibar, dikarenakan mereka dianggap lebih mengerti dalam bidang pertanian dan tekstur tanahnya3.


Imam al-Bukhari sendiri memberikan sebuah judul dalam kitabnya باب الشراء والبيع مع المشركين  وأهل الحرب (bab jual beli dengan orang musyrikin dan ahli harbi. Imam Ibnu Baththal, dalam syarah hadis di atas mengatakan bahwa tidak mengapa kita berjual beli dengan orang-orang kafir selama tidak menjual barang yang bisa digunakan untuk menghancurkan orang-orang Islam berupa perbekalan atau senjata4. Keterangan-keterangan di atas menunjukan kebolehan orang Islam untuk mengadakan bisnis dengan non muslim selama tidak ada unsur merendahkan martabat Islam dan pemeluknya.


Nah, bagaimana apabila posisinya seorang muslim bekerja pada non muslim. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat; menurut mazhab Hanafi diperbolehkan namun hukumnya makruh karena ada unsur merendahkan diri kepada non muslim. Menurut mazhab Maliki ditafsil menjadi empat hukum: boleh, makruh, dilarang, dan haram. Yang diperbolehkan seperti mengerjakan pesanan non muslim yang dikerjakan di rumahnya (muslim) sebagaimana pengrajin. Yang makruh seperti mendagangkan hartanya non muslim atau menjadi pekerja dalam akad musaqah (bagi hasil kebun). Yang dilarang seperti menjadi pembantu di rumah non muslim. Dan yang haram seperti  menjadi pekerja dalam mengerjakan hal yang diharamkan seperti membuat minuman keras atau menggembala babi.


Sedangkan menurut mazhab Syafi`i orang Islam dilarang menjadi pelayan non muslim baik secara langsung seperti menuangkan air atau mendekatkan sandal untuknya, atau pun tidak secara langsung seperti disuruh mencari kebutuhan-kebutuhanya, baik dengan adanya akad ataupun tidak. Hal ini dikarenakan terdapat unsur merendahkan martabat orang muslim, padahal Allah SWT. berfirman: ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا“Dan Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman” (QS. Al-Nisa: 141) Dan menurut mazhab Hambali –dalam riwayat yang shahih- haram hukumnya seorang muslim menjadi pelayan non muslim,berlandaskan ayat Al-Qur`an di atas tetapi dalam riwayat lain mengatakan boleh5.


Melihat keempat mazhab di atas, bisa disimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka mengatakan ketidakbolehan orang Islam bekerja pada non muslim karena dihawatirkan terjadi pelecehan atau merendahkan martabat orang Islam. Maka, diusahakan bagi orang Islam untuk mencari pekerjaan di tempat orang yang seiman dengannya, agar tidak terjadi penistaan terhadapnya. Namun apabila sudah berusaha tetapi tidak menemukan juga pekerjaan di tempat orang Islam, maka diperbolehkan baginya untuk bekerja padanon muslim dengan catatan bukan pekerjaan yang sampai merendahkan martabatnya, dan juga bukan pekerjaan yang diharamkan. Wallahu A`lam.

______________________________________

Maktabah Syamilah:

1Badruddin al-`ayni, Umdah al-Qori, 17/281

2Al-Mubarokfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, 4/529

3Al-Bassam, Taisir al-`Allam, 2/6

4Ibnu Baththal, Syarh Shahih al-Bukhari, 6/338

5Al-Mausu`ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 19/46.





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa