Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Lainnya » Hukum Mushafahah?
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Hukum Mushafahah?
Pertanyaan : Assalamu`alakum Wr. Wb. Ustadz tolong jelaskan hukum bersalaman atau mushafahah terutama dengan lawan jenis yang bukan mahram. Syukran.
Senin, 05 Januari 2015 05:42 WIB |

Jawaban :

Wassalamu`alaikum Wr. Wb.

 

Mushafahah dengan sesama muslim disunahkan. dengan catatan mushafahah itu dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, ataupun antara laki-laki dengan perempuan yang masih dalam kategori mahramnya. Termasuk juga dengan anak perempuan kecil yang tidak membangkitkan syahwat dan istri sendiri atau budak perempuan. ( Fatawa ar-Romliy , V,181)

Diantaranya pendapat Syekh Muhammad Syarbini Al- Khotib :

وتسن مصافحة الرجلين والمرأتين

“dianjurkan salaman pria dengan pria, atau wanita dengan wanita”

Sabda Nabi juga:

ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا

“Dua orang muslim yang bertemu lalu bersalaman akan diampuni oleh Allah keduanya sebelum berpisah”. ( Sunan at-Tirmidzy, IX, 372)

Sebelum bicara lebih mendalam mengenai mushafahah dengan wanita lain, setidaknya kita tahu dulu tentang hukum melihat kepada wanita lain( ajnabiyyah). Karena ketentuan umumnya, sesuatu yang haram dilihat itu haram disentuh berdasar qiyas aulawy . ( Asna al-Mathalib, XIV, 292) Berikut adalah beberapa klasifikasi hukum dalam hal melihat wanita tersebut antara lain:

1.    Melihat wanita lain tanpa adanya suatu hajat atau keperluan perihal melihat wanita tersebut. Maka hal itu tidak boleh (haram).

2.    Melihat istri atau budaknya sendiri. Dalam hal ini diperbolehkan.

3.    Melihat mahramnya atau budak yang dinikahkan dengan orang lain. Hukumnya boleh selain antara pusar dan lutut.

4.    Melihat wanita yang akan dinikahi. Hukumnya boleh tetapi hanya pada anggota tubuh tertentu yaitu pada wajah dan telapak tangan.

5.    Melihat dengan tujuan mengobati. Diperbolehkan pada bagian manapun yang dibutuhkan.

6.    Melihat karena musyahadah (menjadi saksi), seperti halnya ketika melihat lahirnya seorang bayi dari kandungan ibunya, atau menyaksikan perbuatan zina untuk menjadi saksi. Hukumnya boleh.

7.    Melihat calon budak perempuan pada saat akan membelinya, pada seluruh bagian badan diperbolehkan. Ini dikarenakan untuk melihat kualitas atau cacat tidaknya budak tersebut. ( Kifayah al-Akhyar , II, 35-40) Selain hukum jawaz (boleh) melihat perempuan yang disebutkan di atas, ada lagi melihat yang diperbolehkan. Yaitu pada saat pandangan pertama, karena adanya udzur. Melihat pada pandangan pertama artinya melihat sebagaimana sewajarnya melihat.

Pada dasarnya semua pandangan yang menimbulkan syahwat hukumnya haram, walaupun kepada mahramnya, Kecuali terhadap istri atau budaknya, karena keduanya diciptakan untuk diajak bersenang-senang, dan telah dihalalkan syara` karena adanya suatu akad. ( Hasyiyah al-Jamal , XVI, 260) begitu juga dengan mushafahah hukumnya haram karena  terjadi kontak kulit antara laki-laki dan perempuan. Meskipun tidak terjadi syahwat. Ini di-qiyas aulawiy- kan dengan melihat. Melihat saja tidak boleh, apalagi menyentuh. Karena ada sebuah kaidah fiqhiyyah yang mengatakan, مَا حَرُمَ نَظَرُهُ حَرُمَ مَسُّهُ  Jadi laki-laki tidak diperbolehkan melihat wanita, tidak diperbolehkan pula bermushafahah dengannya. Shohibu asnal matholib memberi argumen, yaitu karena kontak kulit lebih “greng”. Buktinya, inzal (keluar sperma) yang disebabkan kontak kulit itu membatalkan puasa, sedangkan inzal yang disebabkan pandangan itu tidak membatalkan puasa. ( Asna al-Mathalib , XIV, 292), Dr. Wahbah Zuhaili juga berpendapat :

ويحرم مصافحة المرأة

“laki-laki haram bersalaman dengan perempuan”.

Bersalaman antara laki-laki dengan perempuan kalau pakai lapis atau kain tangan misalnya boleh menurut Syekh Ibrahim Baijuri, demikian juga pendapat Dr.Wahbah Zuhaili yang  menyatakan :

تجوز المصافحة بحائل يمنع المس المباشرة

“boleh bersalaman diantara yang berbeda jenis dengan pakai lapis yang menegah bersentuhan kulit”.

 Realita sekarang, mushafahah antara lawan jenis sudah sering terjadi. Hingga ada yang menganggap sudah menjadi sebuah adat. Adat sering kali dijadikan alasan untuk menentukan dasar hukum. Di Indonesia, adat memang dianggap suatu yang patut untuk dicontoh. Akan tetapi seringkali adat masyarakat dapat bertentangan dengan hukum syara`. Karena ada sebuah kaidah fiqhiyyah mengatakan:

العادة محكمة مالم يخالف الشرع

 

Adat dapat dijadikan dasar hukum selama tidak bertentangan dengan syara` Sudah jelas kaidah ini menunjukkan penolakan bahwa mushafahah antar lawan jenis bukanlah adat yang patut diteruskan. Sedangkan kebiasaan (` urf) sendiri dibagi menjadi dua bagian. Pertama , `urf sahih, yaitu kebiasaan yang benar. Kedua , `urf fasid yaitu kebiasaan yang salah. Rupanya adat di dikita itu termasuk dalam kategori yang kedua karena hal itu melanggar syara`. Itu artinya kaidah al-Adah Muhakkamah tidak pas jika digunakan pada bab mushafahah ini. Dengan demikian, seseorang harus menghindari kontak kulitdengan lawan jenis yang bukan mahram dan tanpa ada hajat. ( al-Asas Fi at-Tafsir , VII, 3730) Hukum-hukum tentang musafahah yang telah disebut semuanya di atas tadi, tidak berlaku hanya pada laki-laki kepada perempuan saja. WALLAHU A`LAM





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa