Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Lainnya » Iddah Wanita Hamil dan Sesar?
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Iddah Wanita Hamil dan Sesar?
Pertanyaan : Assalamu`alaikum. Wr. Wb. Ustadz bagaimanakah iddah seorang wanita hamil yang ditinggal mati suaminya kemudian ia melahirkan bayinya dengan jalan sesar?
Kamis, 15 Januari 2015 10:37 WIB |

Jawaban :

Wa`alaikum Salam Wr. Wb.

 

Iddah adalah masa penantian (untuk tidak menikah dulu) bagi seorang istri dalam waktu yang sudah ditentukan oleh agama, yang bertujuan untuk mengetahui kosongnya rahim seorang istri (bagi istri yang masih berpotensi hamil) atau karena peribadatan/ta`abbud/taken for granted (bagi istri yang masih kecil atau sudah menopause) sebagai bentuk duka cita atas wafatnya suami. Pada mulanya,iddah disyariatkankan untuk menjaga turunan dari percampuran sperma. (Sayyid Alawi bin Sayyid Ahmad As-Segaf, Tarsyihul Musstafidin, (Beirut, Darul Fikr) h. 323-324.).

Iddah disebabkan dua faktor.pertama, karena ditinggal mati suami, kedua, karena dicerai suami. Dan kondisi wanita yang sedang iddah dibagi dua; hamil dan tidak hamil. Bagi wanita yang sedang hamil, iddahnya akan selesai dengan sebab melahirkan, baik melalui persalinan normal ataupun dengan jalan sesar, karena tujuan utamanya adalah keluarnya bayi (Asy-Syarwani & al-`Abbadi, Syarh Tuhfatul Muhtaj, Juz 8, h. 106). Namun ada juga pendapat yang mengatakan, konsekwensi hukum persalinan melalui jalur tidak normal berbeda dengan persalinan melalui jalur normal).). Ketentuan ini berlaku bagi semua wanita yang sedang iddah baik karena faktor ditinggal mati ataupun karena dicerai, sesuai dengan pesan al-Qur`an dalamsurat ath-Thalaq ayat 4.

Jadi, bagi wanitahamil yang sedang iddah kemudian melahirkan maka ia berhak untuk menikah kembali kapanpun dan kepada siapapun yangia kehendaki. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Rasulullah Saw. berkata kapada Subay`ah binti al-Haris al-Aslamiyah: “Engkau telah halal, maka nikahlah kepada siapapun yang engkau mau”, padahal ia baru setengah bulan ditinggal mati oleh suaminya (Nomor hadis 3770, Bab Fadl Man Syahida Badr.). Bahkan Sahabat Umar bin al-Khaththab Ra. berkata: “Apabila seorang istri telah melahirkan meskipun suaminya (yang sudah meninggal) masih di atas ranjang, maka ia telah halal” (Taqiyuddian Abi BakarMuhammad bin Abdul Mui`n, Kifayatul Akhyar, (Jiddah, Darul Minhaj, 1430/2009) cet. 2, h. 559.).

Sedangkan bagi wanita yang tidak sedang hamil hukumnya dirinci sebagai berikut:

Apabila karena ditinggal mati suaminya, maka iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 234.Adapun bagi wanita yang dicerai suaminya, maka hukumnya dirinci lagi: Apabila usianya masih berpotensi haid maka iddahnya adalah tiga kali suci dari haid, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah ayat 228. Namun apabila masih kecil atau sudah menopause maka iddahnyaadalah tiga bulansebagaimana firman Allah Swt. dalam surat ath-Thalaq ayat 4 (Taqiyuddian Abi BakarMuhammad bin Abdul Mui`n, Kifayatul Akhyar, (Jiddah, Darul Minhaj, 1430/2009) cet. 2, h. 558-559.).

 

Kesimpulan: Batas iddahnya wanita hamil yang ditinggal mati suaminya adalah dengan melahirkan, baik melalui persalinan normal ataupun jalan sesar.

Wallahu A`lam





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa