Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Lainnya » Tradisi Bersaksi Atas Kebaikan Mayit Sebelum Proses Penguburan?
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Tradisi Bersaksi Atas Kebaikan Mayit Sebelum Proses Penguburan?
Pertanyaan : Ust. Ane mau tanya, Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ketika ada orang meninggal dunia kemudian orang muslim bersaksi atas kebaikan orang yang meninggal tersebut maka ia dijamin masuk surga. Di beberapa daerah ada tradisi mengucapkan kata baik/sejenisnya secara bersama-sama yang ditujukan kepada mayit setelah salah seorang diantara hadirin menanyakan kepada jamaah apakah mayit ini adalah orang yang baik? Mereka serentak menjawab: baik. Bagaimanakah hukum mempersaksikan kebaikan yang dikomandoi oleh salah seorang diantara mereka? Bukankah yang dimaksud dalam hadis adalah kesaksian orang muslim secara spontan dan atas kehendaknya sendiri. Kemudian apakah kesaksian seperti itu berpengaruh?
Rabu, 25 Februari 2015 07:26 WIB |

Jawaban :

Penanya yang budimana, Hadis yang dimaksud dalam pertanyaan terdapat dalam beberapa kitab hadis, diantaranya dalam kitab Sahih al-Bukhari yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dengan redaksi:

 

حدثنا عبد العزيز بن صهيب قال سمعت أنس بن مالك رضي الله عنه يقول : مروا بجنازة فأثنوا عليها خيرا فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( وجبت ) . ثم مروا بأخرى فأثنوا عليها شرا فقال ( وجبت ) فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه ما وجبت ؟ قال ( هذا أثنيتم عليه خيرا فوجبت له الجنة وهذا أثنيتم عليه شرا فوجبت له النار أنتم شهداء الله في الأرض

 

Abdul Aziz bin Shuhaib berkata, Aku mendengar Anas bin Malik ra. berkata: mereka dilewati jenazah kemudian mereka memuji kebaikan jenazah tersebut, lalu Nabi saw. bersabda: wajib (baginya). Kemudian lewat jenazah yang lain namun mereka membicarakan kejelekkannya, lalu Nabi saw. bersabda: wajib (baginya). Umar ra.bertanya: apa yang wajib? Nabi saw. menjawab: kalian memuji kebaikan jenazah ini maka wajib baginya surga dan kalian membicarakan kejelekkan jenazah ini maka wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini.

 

Juga diriwayatkan dari Abi al-Aswad, masih dari hadis Imam Bukhari, dengan redaksi hadis sebagai berikut:

 

عن أبي الأسود قال : قدمت المدينة وقد وقع بها مرض فجلست إلى عمر بن الخطاب رضي الله عنه فمرت بهم جنازة فأثني على صاحبها خيرا فقال عمر رضي الله عنه وجبت ثم مر بأخرى فأثني على صاحبها خيرا فقال عمر رضي الله عنه وجبت . ثم مر بالثالثة فأثني على صاحبها شرا فقال وجبت . فقال أبو الأسود فقلت وما وجبت يا أمير المؤمنين ؟ قال قلت كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ( أيما مسلم شهد له أربعة بخير أدخله الله الجنة ) . فقلنا وثلاثة قال ( وثلاثة ) . فقلنا واثنان قال ( واثنان ) . ثم لم نسأله عن الواحد

 

Dari Abi al-Aswad dia berkata: Aku datang ke Madinah ketika sedang terjadi wabah peyakit dan Aku duduk berdekatan dengan Umar bin Khattab ra. Kemudian ada jenazah yang lewat dimana orang-orang membicarakan kebaikan jenazah tersebut.Umar ra.berkata: wajib baginya. Kemudian ada jenazah lagi yang lewat dan dipuji-puji atas kebaikannya Umar ra.pun berkata: wajib baginya. kemudian lewat jenazah yang ketiga dimana orang-orang membicarakan kejelekan jenazah tersebut, Umar ra. berkata: wajib baginya. Abu al-Aswad berkata: Aku bertanya, apa yang wajib wahai amirul mukminin?  Beliau menjawab: Aku berkata seperti perkataan Nabi saw. “muslim mana pun yang disaksikan kebaikannya oleh empat orang maka Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga, kami bertanya: bagaimana kalau tiga orang, beliau menjawab: atau tiga orang, kami bertanya lagi: bagaimana kalau dua orang, beliau menjawab: atau dua orang. Kami tidak bertanya bagaimana kalau satu orang.

 

Yang dimaksud dengan kata “wajib” dalam hadis ini adalah sebuah ketetapan atau bagaikan sebuah keharusan terjadinya, artinya Allah Swt. menetapkan surga bagi orang yang dipuji atas kebaikannya dan neraka bagi orang yang disebut-sebut kejekelekannya, bukan wajib dengan arti sebuah keharusan karena hal tersebut mustahil bagi Allah swt. bagi-Nya tidak ada yang wajib, semua terserah kehendak-Nya. Apabila ada orang diberi pahala itu adalah murni anugerah dari-Nya dan ketika ia disiksa itu adalah sebagai bentuk keadilan-Nya.

 

Menurut Imam Badr al-Din al-`Ayni, pujian yang terucap dari jamaah adalah sebagai bukti bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan mayit semasa hidupnya adalah baik sehingga layak baginya surga. Sedangkan penilaian jelek dari jamaah kepada mayit itu sebagai tanda bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selama hidup adalah jelek, maka layak baginya neraka. Karena orang mukmin adalah sebagai saksi bagi mukmin yang lain seperti yang dipaparkan dalam hadis di atas.

 

Menurut Imam al-Daudi, yang dimaksud dengan jamaah adalah orang-orang yang memiliki keutamaan (orang yang bertaqwa) serta kejujuran dalam bersikap, bukan orang-orang yang suka maksiat (fasiq) karena bisa jadi mereka akan memuji kepada sesamanya atas perbuatan yang sebenarnya tidak baik menurut agama. Dan penilaian baik mereka terhadap sesamanya tidak dianggap sebagai kesaksian seorang muslim kepada muslim lainnya. Mereka bukanlah orang-orang yang dimaksud dalam hadis di atas. Begitu juga tidak dianggap kesaksian seseorang yang terjadi permusuhun antara dia dengan mayit karena permusuhannya itu akan membawanya pada penilaian subjektif yang sesuai dengan hawa nafsunya maka persaksiannya tidak diterima, bahkan bisa jadi ia akan menilai  seorang `alim yang salih tapi tidak cocok dengannya sebagai orang yang tidak baik.

 

Ketika jamaah menganggap mayit adalah orang yang baik padahal kenyataannya ia adalah pelaku maksiat (mungkin ketika melakukan maksiat secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya), apakah kesaksian jamaah itu berpengaruh dan sebagai bukti bahwa mayit ini diampuni dosanya? Sebagian ulama mengatakan bahwa penilaian jamaah harus sesuai dengan kenyataan dan keluar dari orang-orang baik (ahl al-Fadl) bukan penilaian kosong dari ketidaktahuaan dan bukan pula karena berpura-pura. Namun ulama lain mengatakan bahwa penilaian baik dari jamaah apabila keluar dari hati yang terdalam bukan karena dibuat-buat, itu sebagai pertanda bahwa mayit itu meninggal dalam keadaan baik (meskipun ketika hidup sering melakukan maksiat) dan penilaian jamaah terhadapnya adalah ilham dari Allah swt bahwa Allah swt telah mengampuni dosanya dan dia termasuk ahli surga.

 

Dalam pertanyaan diatas apakah boleh atau tidak mempersaksikan mayit dengan cara dikomandoi oleh salah seorang dari jamaah itu hukumnya boleh (mubah) alasannya karena tidak ada larangan terhadap praktek tersebut. Meski begitu bisa jadi itu adalah sebagai doa dan harapan agar mayit termasuk golongan orang baik dan bisa masuk surga. Sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah saw. kemudian kita adakan sekarang tidak selalu berarti  perbuatan itu adalah bid`ah. Contohnya seperti kita membayar zakat fitrah dengan beras, Rasulullah saw tidak pernah mengeluarkan zakat dengan beras tapi bukan berarti mengeluarkan zakat dengan beras adalah perbuatan bid`ah.

 

Kemudian, apakah persaksian yang dikomandoi itu berpengaruh kepada mayit atau tidak? Hal ini tergantung apakah penilaiannya benar-benar keluar dari hati nurani jamaah atau karena sekedar tidak enak sama yang lain/keluarga mayit. Apabila benar-benar keluar dari hati yang jujur maka akan berpengaruh kepada mayit karena itu berasal dari petunjuk dari Allah swt yang diilhamkan kepada mereka sedangkan apabila karena tidak enak maka penilaian baiknya tidak berpengaruh bahkan penilaian ini tidak boleh karena berbohong.

 

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kalian” dalam hadis adalah sahabat Rasulullah saw. karena merekalah orang-orang yang berbicara dengan hikmah (kejujuran) dan juga orang-orang yang beriman yang memiliki sifat seperti sahabat. Apabila ada orang bertanya, mengapa diperbolehkan menyebut-nyebut kejelekan mayit padahal ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam yang melarang mencela mayit dan hanya diperbolehkan menyebut-nyebut kebaikannya? Jawabannya adalah larangan dalam hadis tersebut ditujukan kepada selain orang kafir, munafik, pelaku bid`ah, dan orang fasik yang terang-terangan melakukan kefasikannya dan kebid`ahan. Adapun menyebut kejelekan mereka tidaklah dilarang bahkan dianjurkan agar orang-orang menghindari kejelekan-kejelekan yang mereka lakukan dan tidak mengikutinya.

 

Kesimpulan:

1.      Penilaian baik kepada mayit dari orang-orang yang memiliki keutamaan adalah sebagai tanda bahwa mayit meninggal dalam keadaan baik.

2.      Penilaian jelek kepada mayit dari orang-orang yang memiliki keutamaan adalah sebagai tanda bahwa mayit meninggal dalam keadaan tidak baik.

3.      Mengomandoi pernyataan “baik” yang sering dilakukan di sebagian daerah hukumnya boleh karena tidak ada anjuran atau larangan atas praktek tersebut.

4.      Pernyataan dari jamaah tidak akan berpengaruh kepada mayit apabila tidak keluar dari hati nurani.

 

Wallahu `alam

Sumber Rujukan

-          Al-`Asqalani, Ibn Hajar, Fath al-Bari, Dar al-Misr, Mesir, 2001.

-          Al-Bukhari , Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Sahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2009

-          Al-Mubarakfuri, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim, Tuhfah al-Ahwadzi, Dar al-hadis, Kairo, 2001

-          Al-Nawawi, Muhyiddin, Shahih Muslim, Dar al-Hadis, Kairo,  1994





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa