Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Konsultasi Syariah » Thaharah » Menghilangkan Najis
Ustadz Aang Asy'ari, Lc
 
Konsultasi Syariah bersama Ustadz Aang Asy'ari, Lc
Direktur Eksekutif Aswaja Center & Dosen UNISA Kuningan

Kirim Pertanyaan

Menghilangkan Najis
Pertanyaan : Assalaamualaikum Ustadz, Bagaimana cara menghilangkan Najis?
Minggu, 20 September 2015 13:22 WIB |

Jawaban :

Wa’alaikum Salam Wr.Wb

Definisi najis

Najis menurut bahasa adalah sesuatu yang menjijikan, sedangkan menurut istilah syariat adalah sesuatu yang dianggap (secara syar’iy) menjijikan yang mencegah sahnya sholat (seandainya mengenai atau terbawa dalam shalat) dengan tanpa ada suatu hal yang memperkenankan (murahkhish).
Pembagian Najis
Najis dibagi dua macam yaitu:
• Najis Hukmiyah
• Najis ’Ainiyah
Najis hukmiyah adalah najis yang tidak ada jirim (bentuk), rasa, warna atau bau. Sedangkan anjis ’Ainiyah adalah najis yang ada salah satu dari jirim, rasa, warna ataupun bau.
Cara menghilangkan najis Hukmiyah
Terbagi menjadi tiga kategori :
1. Hukmiyah Mukhaffafah (yang ringan hukumnya)
Yakni berupa kencingnya anak laki-laki yang belum mencapai usia 2 tahun dan belum makan atau minum selain air susu ibunya sebagai makanan pokok seta najis tersebut telah hilang Jirim, rasa, warna maupun baunya.
Cara Menghilangkan : adalah dengan memercikan air dipermukaan sesuatu yang terkena najis sampai merata, sekalipun tidak sampai mengalir.
2. Hukmiyah Mutawasithoh (yang sedang hukumya)
Adalah selain najis mukhaffafah diatas dan selain najis anjing dan babi, seperti kotoran manusia, darah dana lain-lain serta najis tersebut telah hilang Jirim, rasa, warna maupun baunya.
Cara menghilangkan: adalah cukup dengan hanya mengalirkan aiar pada sesuatu yang terkena najis, sekalipun hanya sekali, asalkan air merata pada permukaan sesuatu yang terkena najis.
3. Hukmiyah Mughalladloh (yang diperberat hukumnya)
Yaitu berupa najis dari segala hal yang berrasal dari anjing dan babi serta keturunannya, sekalipun kawin silang dengan hewan lain serta najis tersebut telah hilang jirim, rasa, warna maupun baunya.
Cara Menghilangkan : adalah dibasuh sebanyak tujuh kali, salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci sekaligus bisa mensucikan atau sesamanya, seperti lumpur atau pasir yang mengandung debu, dan basuhannya harus merata pada seluruh permukaan sesuatu yang terkena najis.
Cara menghilangkan Najis ‘Ainiyah
Juga dibedakan dalam tiga kategori :
1. ‘Ainiyah Mukhaffafah (yang ringan hukumnya)
Yaitu berupa kencingnya anak laki-laki yang belum mencapai usia 2 tajun dan belum makan atau minum selain air susu ibunya sebagai makanan pokok serta najis tersebut bmasih ada jirim, rasa, warna maupun baunya.
Cara menghilangkan : bila tidak bercampur najis lain adalah dengan menghilangkan jirim, rasa, warna dan baunya air kencing tersebut, kemudian melakukan cara seperti dalam hukmiyah mukhaffafah di atas.
2. ‘Ainiyah Mutawasithoh (yang sedang hukumnya)
Yaitu selain najis mukhaffafah di atas dan selain najis anjing dan babi, seperti kotoran manusia, darah dan lain-lain serta najis tersebut masih ada jirim, rasa, warna maupun baunya.
Cara menghilangkan : adalah dengan menghilangkan jirim dan semua sifat-sifatnya (bukan warna dan bau), kemudian melakukan cara seperti dalam hukmiyah mutawasithph di atas.
Catatan : jika setelah dihilangkan masih tersisa warna atau baunya saja {rasa, warna dan bau) yang sulit dihilangkan, sesuatu yang terkena najis sudah dihukumi suci. Batasan sulit dihilangkan adalah ketiak digosok tiga kali disertai basuhan, warna atau bau tersebut tidak hilang.
3. ‘Ainiyah Mughalladloh (yang dipeberat hukumnya)
Yaitu berupa najis dari segala hal yang berasal dari anjing dan babi serta keturunannya, sekalipun kawin silang dengan hewan lain
Cara menghilangkan : adalah dengan menghilangkan jirim dan semua sifat-sifatnya (rasa, warna dan bau), kemudian melakukan cara seperti dalam hukmiyah mugholladloh diatas.
Catatan : Basuhan mulai dihitung satu apabila sudah menghilangkan jirim (bentuk), rasa, warna dan bau najisnya, sekalipun membutuhkan cara berulang-ulang. Sedangkan basuhan yang dicampur debu tidak harus diletakkan pada hitungan tertentu, hanya diletakkan pada basuhan yang pertama itu lebih utama.
Kemudian dalam mencampur debu dengan air muthlak bisa menggunakan salah satu dari tata cara sebagai berikut:
1. Debu dicampur dengan air sebelum digunakan mebasuh sesuai yang terkena najis.
2. Air disiramkan atau diguyurkan pada sesuatu yang terkena najis, kemudian diikuti dengan debu.
3. Debu diratakan pada sesuatu yang terkena najis, kemudia diikuti dengan air.
Ketiga cara tersebut, bila sesutu yang terkenan najis dalam keadaan kering dan najisnya tidak ada jirim (bentuk)nya. Dan jika tempat yang terkena najis basah, maka cara yang bisa digunakan adalah pertama dan kedua. Namun jika najis dan jirimnya, maka ketiga cara tersebut tidak mencukupi. Dengan demikian basuhan yang disertai dengan debu disyaratkan, sesuatu yang terkenan najis sudah dilhilangkan bentuk najisnya, meskipun masih tersisa sebagian sifat-sifatnya.
Sedangkan najis mugholladhoh dibasuh dalam air sungai yang mengalir dan keruh sebab lumpur, maka cukuip digerak-gerakkan sebanyak tujuh kali tanpa harus dicampur dengan debu.





Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa