Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Bahasa Arab » » Mendahulukan Musnad Ilaih dari Musnad
Mendahulukan Musnad Ilaih dari Musnad
Selasa, 00 0000
Tulisan Terkait

 


Artinya:
"Ulama ahli ilmu Ma'ani mendahulukan musnad ilaih dengan maksud: 1.sebab asalnya; 2. mengukuhkan berita dalam hati pendengar; 3. sebab enak mendahulukannya; 4. memuliakan musnad ilaih".

Contohnya, seperti:
1.Sebab asal serta dianggap penting, seperti:
2. Mengukuhkan berita dalam hati pendengar, seperti kata sya'ir:
Artinya: "Adapun yang menggoncangkan daratan itu, ialah kejadian hidup baru bagi seluruh jiwa pada hari kiamat".
3. Karena enak mendahulukannya, seperti:
4.Mengagungkan, seperti:

Artinya: "5. Untuk menghinakan; 6. mementingkan; 7. darurat nadham atau sajak; 8. mengharap sempana/berekah; 9. mengkhususkan musnad ilaih bagi musnad; 10. untuk maksud umum kalau musnadnya menyertai hurul salah (nafi), sebab kalau begitu menunjukkan umum nafi (meskipun tidak berarti keseluruhannya, melainkan umumnya saja dan kebalikan dari umum nafi, ialah nafi umum, maksudnya menafikan keseluruhannya, tiada sebagianpun yang tidak manfi)".
5. Menghinakan, seperti:
6. Mementingkan, seperti:
7.a. Darurat nadham karena wazan, seperti:

Artinya: "Cukuplah saksi bagi kecintaanku kepadamu dengan hatimu, sebab hati itu saksi yang paling adil untuk diangkat saksi".
Dan firman Allah:
Artinya: "Tiadalah hati itu berdusta terhadap apa-apa yang ia pandang".
b.Darurat qafiyah (ujung bait), seperti:

Artinya: "Janganlah menipumu pakaian yang bersih itu, sebab dengan sabun dan airpun bisa bersih. Laksana telur yang rusak, kulitnya putih, akan tetapi di dalamnya bau seperti bangkai".

c. Darurat sajak, seperti:


Artinya: "Kataku: Kapankah bersua lagi wahai kekasih! Jawabnya: Jangan panik! sebentar lagi bisa berjumpa".

8.Mengharap berkah, seperti:
9.  Menganggap keji, seperti: = Pebuatan keji itu di rumahmu.
10.Mengkhususkan musnad ilaih bagi musnad, yaitu terbagi atas:
 a.Bila didahului huruf nafi, seperti: = Saya sama sekali tidak mengucapkan ini.
 b.Kalau tidak didahului nafi, gunanya untuk tahshish, seperti: = Saya telah berbuat mengenai kebutuhanmu, bukan untuk orang lain.
 c.Untuk menguatkan hukum, seperti: = Dia memberi barang yang berharga, atau seperti: = Kamu tidak berdusta. Kalimat ini lebih menguatkan hukum dari kata: , sebab kalau lafazh tekanannya pada kalimat , sedangkan pada lafazh pada lafazh . Yang demikian itu kalau musnad ilaihnya dengan isim ma'rifat dan musnadnya fi'il. Kalau musnad ilaihnya isim nakirah, dimaksudkan untuk mentakhshish jenis, seperti: atau dimaksudkan hanya seorang, tidak banyak dari laki-laki yang datang itu.
11.

Untuk mengumumkan nafi, ialah bila lafazh "kullu" diidhafatkan kepada musnad ilaih dan musnadnya disertai nafi, seperti: = Seluruh manusia tidak berdiri. Yakni: seorangpun tiada yang berdiri. Kalau lafazh "kullu" didahului nafi, maksudnya untuk salab-umum menafikan umum, meskipun mengecualikan salah satunya, seperti sya'ir: Artinya: "Tiadalah setiap perkara yang diharapkan oleh manusia itu bisa tercapai, sebab anganpun suka bertiup dengan tidak sekehendak tukang perahu". Sebagian tercapai, sebagian lagi tidak.

Meskipun demikian, adakalanya angin itu bertiup sesuai dengan keinginan tukang perahu.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa