Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Bahasa Arab » » Tata cara berbicara dengan orang lain
Tata cara berbicara dengan orang lain
Selasa, 00 0000
Tulisan Terkait

Artinya:

("Maka oleh karena pemberita itu sekedar untuk memberitahu mukhotob), maka seyogianya dalam memberitahukan sesuatu itu ia mempersingkat kata kepada yang memberi faedah (seperlunya) saja, sebab khawatir terlalu banyak omong (yang tidak berfaedah).

Kalau tujuannya sedikit, sedangkan pembicaraannya panjang/bertele-tele, biasanya sukar dimengerti atau membosankan orang lain.

Contoh yang cukup, seperti :

yang diucapkan kepada kholil-dzihni (orang yang mengetahui atau tak ragu).

 

Artinya:

"Maka harus memilihlah mutakallim itu bagi kholil-dzihni; dengan tanpa taukid, selama menurut hukum tidak mempunyai rasa ragu. kalau ia (mukhothob) ragu, sebaiknya memakai taukid. Adapun bagi orang yang menginginkan berita, wajib memakai taukid dengan memperhitungkan keingkarannya".

 

Contoh bagi yang mungkir :

Contoh bagi yang amat mungkir :

 

Selain dengan taukid, bisa diperkuat dengan lam qosam, qosam, taqdim-kalam dll.

 

Artinya :

"Seperti firman Allah SWT: Sesungguhnya kami diutus kepada kamu sekalian". Maka mutakallim berhak menambah sesudah memperhatikan kondisi mukhothobnya akan alat tauhid yang diperlukan sesuai dengan nilai keingkarannya"

 

Contoh lainnya seperti perkataan utusan Nabi Isa.a.s yang pertama kali: , kemudian kedua kalinya:

 

Artinya :

"Menisbatkanlah kamu bagi ketiga macam itu dengan : kalam ibtida'i bagi sistem pertama, lalu kalam tholabi bagi sistem kedua dan kalam ingkari bagi sistem yang ketiga".

Ketiga sistem pemberitaan itu sesuai dengan tuntutan zhohirnya (muqtadho-dhohirnya).

 

Artinya :

"Dan dianggap baik memakai taukid (padahal untuk kholi-dzihni), ialah kalau kamu mengisyaratkan akan taukid itu kepada mukthothob, sebab ada khabar yang pada dejaratnya seperti bertanya".

Maksudnya : dianggap baik memakai taukid dalam pemberitaan kepada kholi-dzihni, bila ia memperlihatkan sikap bertanya atau ada tanda-tanda seperti yang ragu.

Contohnya seperti teguran Allah kepada Nabi Nuh a.s sebab Nabi Nuh a.s pernah mendo'akan kaumnya supaya dihancurkan:

 

Artinya :

"Janganlah engkau berdo'a kepada-Ku mengenai orang-orang zhalim itu".

 

Lalu firman-Nya lagi : = sesungguhnya mereka ditenggelamkan".

Dengan firman-Nya yang kedua kali, Allah memakai taukid dengan : Inna, padahal tanpa taukidpun Nabi Nuh a.s pasti percaya. Maka dengan sebab adanya teguran Allah tadi dapat menimbulkan keragu-raguan kepada Nabi Nuh a.s tentang nasib kaumnya, khawatir kalau-kalau Allah membiarkannya.

 

Artinya :

"Dan mengikutkan Ulama akan tanda ingkar kepada ingkar, demikian sebaliknya yaitu yang mungkir dianggap mengaku, sebab ada tandanya masing-masing".

1. Contoh ada tanda ingkar padahal tidak, kata sya'ir :

Artinya :

"Telah datang saudara kandung sambil melintangkan tombaknya (sebagai tanda tidak bersiap-siap akan perang), padahal dia tahu, sesungguhnya pada anak-anak pamanmu mempunyai tombak yang banyak".

2. Contoh yang mungkir dianggap mengaku, seperti kata orang : , seharusnya :







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa