Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Filsafat Islam » » Tokoh-tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya (Bag 4)
Tokoh-tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya (Bag 4)
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epi
Selasa, 02 Juli 2013

FILSAFAT ILMU

Diatas telah dijabarkan tentang pengertian Filsafat yang mengandung arti cinta kebijaksanaan atau kebenaran, sedangkan orang yang menjalani proses berFilsafat, atau orang yang berfilsafat disebut sebagai Filosof. Lalu dalam pembahasan ini kita melihat kaitan antara kata Filsafat dan kata Ilmu, serta kaitannya antara penggabungan dua kata tersebut.

Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis).

Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).

Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empriris. Ilmu mengalami perkembangan, yaitu perkembangan tahap awal dan tahap akhir. Pada perkembangan tahap awal ilmu masih menggunakan norma filsafat sebagai dasarnya, sedangkan metodenya adalah metode normatif dan deduktif. Pada tahap akhir ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai dasarnya dan menyatakan diri sebagai sesuatu yang otonom (mandiri) yang terlepas dari filsafat, adapun metodenya adalah deduktif dan induktif. Telaah ilmu dari segi filosofis adalah telaah yang berusaha menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Telaah tersebut dinamakan filsafat ilmu. Pertanyaan yang diusahakan untuk dijawab oleh filsafat ilmu adalah yang berkenaan dengan :

a. Obyek telaah suatu ilmu.
b. Wujud hakiki obyek tersebut.
c. Hubungan antara obyek dan manusia yang membuah ilmu dan pengetahuan.
d. Cara memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang benar.
e. Penggunaan ilmu dan pengetahuan.

Hakekat ilmu atau landasan-landasan ilmu yang menjadi garapan filsafat ilmu, akan dapat dipahami dengan tidak membahas tiga aspek yang ada dalam ilmu/sains, seperti aspek ontologi (apa), epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (untuk apa). Aspel ontologi mengenai apa yang dikaji ilmu atau tentang ada sebagai obyek sains, aspek epistemologi mengenai bagaimana proses mendapatkan ilmu, dan aspek aksiologi mengenai untuk apa ilmu itu digunakan. Namun masih terbuka lebar dan masih banyak kajian permasalahan yang berkait dan yang tidak dengan ketiga aspek tersebut dalam lingkup ilmu, yang akan memperjelas penemuan kebenaran terdalam dari ilmu yang selalu didambakan manusia pencari ilmu.

Ilmu yang merupakan hasil usaha manusia, kini berkembang pesat dan menjadi salah satu senjata manusia guna memerangi/mengatasi permasalahan-permasalahan manusia yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan manusia penuh dengan kejadian dan lika-liku yang oleh paham fatalisme kejadian itu sebagai nasib yang telah ditentukan lebih dahulu, menjadi fenomena yang menarik untuk ditelaah lebih dalam; selain alam yang mengherankan.

Langit yang tiada satupun pilar penyangga, disiang hari nampak matahari yang bercahaya menyinari bumi, kadang megapun menghias manis. Dimalam hari bulan dan bintang menghias langit dan menerangi bumi. Benda-benda langit itu rapi bergerak dijalannya, tak ada yang bertabrakkan. Dan bila kita melihat bumi, maka tampak gunung yang menjulang tinggi di tumbuhi pohon, dihiasi sungai dengan penuh bebatuan yang airnya bermuara di lautan. Laut yang penuh gelombang berarak dan badai, binatang laut, dan ikan-ikan yang dicari nelayan dengan kapalnya. Selanjutnya ikan-ikan itu diperjual belikan diantara manusia. Manusia yang memiliki akal, berpikir dan bertingkah laku. Manusia yang hidup dalam suatu dunia yang dipenuhi dengan barang-barang. Manusia yang bisa mencipta barang dan menghilangkannya. Manusia yang membutuhkan air, angin, dan panas. Dan manusia yang terdiri atas badan dan jiwa. Semua itu merupakan bahan kajian ilmu. Pendeknya alam dan manusia dengan segala unsurnya sepanjang pengalaman dan kemampuan indera manusia menjadi obyek kajian ilmu. Bingkai penjelajahg ilmu menjadi jelas tiada lain alam dan manusia. Alam yang tertib, rapi dan seimbang. Alam yang penuh energi dan materi serta misteri.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa