Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » » BAB HUDUD - Had Zina ( bag2 )
BAB HUDUD - Had Zina ( bag2 )
d. Cara memberlakukan had zina terhadap wanita yang berzina 1.Pemberlakuan had terhadap perawan: Para fuqaha telah sepakat bahwa jika seorang perawan merdeka berzina, maka dia harus didera seratus kali dera. Hal itu sesuai
Jum'at, 05 Oktober 2012

d. Cara memberlakukan had zina terhadap wanita yang berzina

1.Pemberlakuan had terhadap perawan:
Para fuqaha telah sepakat bahwa jika seorang perawan merdeka berzina, maka dia harus didera seratus kali dera. Hal itu sesuai dengan apa yang difir-mankan Allah Azza wa Jalla:
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah setiap orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah, jika kalian beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pe-laksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang- orang yang beriman. " (An-Nuur: 2)

Firman Allah yang artinya: "Janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah, " melarang tidak diber-lakukannya hukuman had. Ada yang mengartikan bahwa hal itu dimaksudkan untuk meringankan pukulan. Ada juga yang mengatakan, pemberlakuan hukuman had harus dihadiri oleh tiga orang atau lebih.

Abu Hanifah mengatakan, harus dihadiri oleh seorang imam dan para saksi, jika penetapan hukuman had itu melalui kesaksian. Dari Abu Hurairah Radhiyalla.hu Anhu dan Zaid bin Khalid. Para sahabat menuturkan: "Ketika kami sedang berada bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau didatangi oleh seorang badui seraya mengatakan: ‘Demi Allah, sudikah engkau menghukum atas dasar Kitab-Nya?’ Lalu orang (yang menjadi lawannya dalam beperkara), yang dia lebih arif daripadanya mengatakan: ‘Benar ya Rasulullah, putuskan perkara kami ini berdasarkan Kitabullah dan perkenankanlah aku mengutarakannya.’ Nabi menjawab: ‘Terangkanlah, apa masalahnya.’ Orang yang kedua berkata, ‘Puteraku adalah bekerja pada orang ini (orang yang pertama). Lalu puteraku itu berzina dengan isterinya. Untuk itu aku telah menebus hukumananya dengan seratus ekor kambing yang belum beranak dan seekor kambing yang sudah beranak. Lalu aku tanyakan lagi kepada ahli ilmu hukum, lantas mereka memberitahukan kepadaku, bahwa puteraku itu harus dijatuhi

hukuman berupa seratus kali dera dan diasingkan selama satu tahun. Sedangkan terhadap isteri orang itu (orang pertama) harus dijatuhi hukuman rajam.’ Mendengar penuturan itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku akan memutuskan perkara kalian berdua ini atas dasar Kitabullah. Seratus ekor kambing yang belum be-ranak dan yang sudah beranak dikembalikan kepadamu (orang yang kedua) dan atas diri puteramu akan dijatuhkan hukuman dera seratus kali serta diasingkan selama satu tahun. Dan kamu, wahai Unais0, temui isteri laki-laki ini (orang pertama) dan tanyakan kepadanya, jika ia mengalcu, maka rajamlah ia. (HR. Ibnu Majah)

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu, dia menceritakan: "Setiap kali turun wahyu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau merasa sangat gundah dan wajah beliau berubah kusam. Pada suatu hari turun wahyu kepada beliau, dan begitulah keadaan yang beliau alami. Setelah tenang, beliau bersabda: ‘Berpeganglah padaku, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan untuk mereka. Janda hukumnya adalah sebagai janda, dan perawan juga sebagai perawan. Hukuman bagi janda adalah didera seratus kali, kemudian dirajam atau dilempari batu. Sedang hukuman bagi perawan adalah didera seratus kali dan diasingkan seiama satu tahun.’" (HR. Muslim)

Dalam kitab Ar-Raudhak disebutkan: "Para ulama masih berbeda pendapat mengenai siapakah yang menentukan hukuman pengasingan tersebut, dan apakah seorang wanita itu perlu diasingkan atau tidak." Menurut Al-Auza’i dan Imam Malik: "Seorang wanita tidak perlu diasingkan, karena dirinya merupakan aurat. "
Pengasingan merupakan salah satu bentuk hukuman yang menyakitkan yang diperintahkan Al-Qur’an. Pendapat yang terakhir ini juga dikemukakan Imam Syafi’i. Sedangkan Abu Hanifah mengemukakan bahwasanya tidak ada hukuman pengasingan bagi wanita.

2. Pemberlakuan hukuman had bagi janda:
Wanita itu sama dengan laki-laki, namun demikian masih terdapat per-bedaan di antara keduanya, dimana wanita senantiasa menutup tubuhnya supaya tidak terlihat mata orang lain.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia menceritakan:

hadits

"Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah. Ketika beliau sedang berada di dalam masjid. Orang itu memanggil seraya menuturkan: ‘Wa-hai Rasulullah, aku telah berbuat zina, tetapi Rasulullah tidak mengiya- kannya. ’ Ucapan ini diulanginya sampai empat kali. Setelah Nabi men-dengar pengakuannya tersebut, beliau pun memanggilnya seraya berta-nya, ‘Apakah kamu ini gila ? ’ ‘Tidak, ’jawab orang tersebut. Nabi bertanya lagi, ’Adakah kamu ini orang yang muhshan?’ ‘Ya, ’ jawabnya. Kemudian Nabi bersabda, ‘Bawalah orang ini bersama kalian dan rajam-lah. ’ Jabir bin Abdullah mengatakan: ‘Aku termasuk orang yang ikut merajam laki-laki tersebut. Kami merajamnya di dekat mushalla. Ketika baru satu kali dilempar batu, tiba-tiba laki-laki itu melarikan diri. Seke-tika itu ia dikejar sampai di daerah yang bertanah hitam. Dan situlah hukuman kami teruskan. (Muttafaqun ‘Alaih)


Dan juga sebuah hadits yang bersumber dari Umar bin IChaththab Ra- dhiyallahu Anhu:

hadits
"Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan sebenar-be-narnya dan telah pula menurunkan kepadanya sebuah Kitab Suci. Salah satu dari ayat-ayat yang terkandung dalam kitab suci itu terdapat ‘Ayat Rajam’yang telah kita baca, fahami serta menyadarinya bersama. Ra-sulullah sendiri pernah melaksanakan rajam dan setelah itu kita pun melakukannya. Hal ini saya tegaskan kembali lantaran akujchawatir, karena telah lama berselang, akan ada seorang yang mengatakan: ‘Demi Allah, kami tidak mendapatkan ayat rajam dalam Kitabullah’. Dengan meninggalkan suatu kewajiban yang benar-benar diturunkan Allah, maka mereka telah sesat. Hukuman rajam yang terdapat dalam Kitabullah itu harus dijatuhkan kepada laki-laki maupun perempuan yang berbuat zina muhshan, dengan syarat adanya bukti-bukti, kehamilan a tau pengakuan oleh dirinya sendiri. " (Muttafaqun ‘Alaih)


"Ayat Rajam" yang di dalam Al-Qur’an tersebut berbunyi: "Orang yang sudah tua, laki-laki dan perempuan, jika berzina, maka rajamlah keduanya," lalu lafadz tersebut dinaskh (dihapuskan), tetapi hukumnya masih tetap berlaku. Rajam ini dalam Kitabullah benar-benar harus dijalankan. Hal itu tercermin pada firman-Nya yang berbunyi, "Atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya2 " (An-Nisa’: 15)
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menerangkan, bahwa yang dimak-sudkan dengan hal itu adalah pemberian hukuman rajam kepada janda dan dera kepada yang masih perawan.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa