Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » » BAB HUDUD - Pencurian
BAB HUDUD - Pencurian
Pencurian berarti mengambil barang orang lain secara sembunyi-sembunyi. Ibnu Arafah mengatakan: "Menurut masyarakat Arab, pencuri adalah orang yang datang secara sembunyi-sembunyi ke tempat penyimpanan barang orang lain unt
Kamis, 11 Oktober 2012

Pencurian berarti mengambil barang orang lain secara sembunyi-sembunyi. Ibnu Arafah mengatakan: "Menurut masyarakat Arab, pencuri adalah orang yang datang secara sembunyi-sembunyi ke tempat penyimpanan barang orang lain untuk mengambilnya dengan cara yang tidak benar. "
a. Hukum Mencuri:
Pencurian merupakan salah satu dari dosa besar yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya:
"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan
sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana. " (Al-Maidah: 38)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melalui sebagian hadits telah melaknat pencuri.
Dari Ibnu Abbas Radhiyalla.hu Arihu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

hadist had 1
"Seorang pezina tidak berzina selama dia masih beriman, dan seorang pencuri tidak mencuri selama dia masih dalam keadaan beriman. " (Mut- tafaqun ‘Alaih)
Aku pernah menanyakan kepada Ibnu Abbas: "Bagaimana iman bisa lepas dari dirinya?" tanya Ikrimah. Maka Ibnu Abbas menjawab: "Demikianlah, jika dia bertaubat, maka iman itu akan kembali kepadanya.. "
Dari Abu Hurairah Radhiyalla.hu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda:

hadist had 2
"Allah melaknat pencuri. Pencuri telur dihukum potong tangan. Pencuri unta dihukum potong tangan. "
Al-A’masy mengatakan: "Mereka mengartikan kata ‘baidhah’ sebagai helm (tutup kepala) dari besi. Sedangkan mengenai unta mereka memandang harganya sama dengan beberapa dirham. "
b. Melalui Apa Pencurian itu Ditetapkan:
1. Melalui pengakuan pencuri itu sendiri secara terus terang.
2. Melalui kesaksian para saksi yang adil yang memberikan kesaksian bahwa dia benar-benar telah mencuri.


c. Syarat-syarat Had Pemotongan Tangan:
1. Islam.
2. Berakal.
3. Baligh.
4. Nilai barang yang dicuri tidak kurang dari seperempat dinar. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia menuturkan: "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjatuhkan had potong tangan atas pencuri sebanyak seperempat dinar ke atas." (HR. Muslim)


Al-Qadhi Iyadh mengatakan: "Allah Subhanahu wa Ta ’ala melindungi harta kekayaan manusia melalui diwajibkannya had potong tanga n terhadap pencuri. Dia (Allah) tidak mewajibkan hal itu terhadap selain pencurian. Misalnya perampas atau ghasab. Karena jika dilihat dari jumlahnya adalah tidak banyak. Selain itu, juga karena dimungkinkan untuk menyerahkan bentuk- bentuk tindak kejahatan tersebut kepada penguasa. Dan cukup mudah untuk membuktikannya.


Berbeda dengan hal tersebut, pencurian agak sulit dibuktikan, sehingga masalahnya menjadi lebih berat dan sanksinya pun lebih berat agar benar- benar menyentuh hati. Kaum muslimin telah sepakat untuk memberikan had potong tangan kepada pencuri yang mencakup seluruh bentuknya.


5. Harta atau barang yang dicuri itu tersimpan, misalnya di bank, rumah, laci, dan lain sebagainya.
6. Pencuri bukan sebagai orang tua, anak, atau isteri dari orang yang dicuri, karena mereka semua berhak atas harta atau barang tersebut.
7. Bukan pencurian minuman khamr atau minuman yang memabukkan lainnya.
8. Barang atau harta itu benar-benar dicuri dan bukan disambar dari tangan pemiliknya, karena harta yang disambar dari tangan pemiliknya bukan termasuk pencurian.


d. Kewajiban Pencuri Setelah di Jatuhi Hukuman:
Seorang pencuri berkewajiban menjamin harta atau barang yang dicuri, jika masih berada di tangannya. Jika mengalami kerusakan, maka dia yang mempertanggungjawabkannya kepada pemiliknya. Para fiiqaha berbeda pendapat mengenai pencuri yang dipotong tangannya, apakah dia berkewajiban mem-pertanggungjawabkan harta yang dicuri tersebut atau tidak.


Imam Ahmad dan Imam Syafi’i mengatakan: "Dia harus bertanggung jawab atasnya. "
"Dia hanya bertanggung jawab atas yang ringan saja dan tidak pada yang berat," kata Imam Malik. Sedangkan Abu Hanifah mengatakan: "Dia tidak bertanggung jawab atasnya."


Jika syarat-syarat dijatuhkannya had potong tangan itu tidak terpenuhi, maka tanggung jawab barang atau harta yang dicuri tersebut berada di tangan pemiliknya, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, baik pencuri itu kaya maupun miskin.


e. Cara Eksekusi Pemotongan

1. Pemotongan pada telapak tangan kanan pencuri.
2. Setelah dipotong, tangan si pencuri diletakkan pada minyak untuk menghentikan keluarnya darah.


f. Pencurian yang Wajib Dijatuhi Hukuman Potong Tangan
Dari Abdullahbin Umar RadhiyallahuAnhu, Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam pernah memotong tangan orang yang mencuri sebuah tameng yang harganya tiga dirham." (HR. Bukhari, Muslim, dan Malik)







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa