Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag3)
Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag3)
Cara ini dapat membersihkan air mani manusia yang mengenai pakaian kemudian kering. Jika bekasnya masih ada setelah dikeruk, maka ia tetap bersih sama seperti bekas yang masih ada selepas dibasuh.
Jum'at, 07 Desember 2012

7. Mengeruk (al-Farku)
Cara ini dapat membersihkan air mani manusia yang mengenai pakaian kemudian kering. Jika bekasnya masih ada setelah dikeruk, maka ia tetap bersih sama seperti bekas yang masih ada selepas dibasuh. Syaratnya ialah kepala kemaluan yang dilalui oleh air mani tersebut adalah suci. Umpamanya kelamin itu sebelumnya disucikan (dibasuh) dengan air, bukan disucikan secara istinja’ dengan kertas atau batu. Sebab, batu dan semacamnya tidak dapat menghilangkan kencing yang menyebar di atas kepala kemaluan itu. Jika air kencing tidak menyebar dan mani tidak melewati di atas kepala kemaluan, maka mani yang terkena pakaian dan sudah kering itu dapat dibersihkan dengan cara mengeruknya. Karena, mani itu tidak dianggap najis sebab melewati air kencing yang ada pada bagian dalam kemaluan.

Hukum ini berlaku bagi air mani lelaki dan juga air mani perempuan. Jika air mani itu masih basah atau air mani itu ialah air mani binatang ataupun air mani manusia, namun keluarnya adalah dari kemaluan yang kencingnya dibersihkan dengan kertas, batu atau seumpamanya, maka air mani itu tidak menjadi suci dengan cara mengeruknya, la harus dibasuh. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah yang menceritakan bahwa dia membasuh kain Rasulullah saw. yang terkena mani.

Dalam Hadits riwayat Imam ad-Daru- quthni dari Aisyah juga disebutkan, "Saya mengeruk mani dari pakaian Rasulullah saw.
jika ia kering. Dan saya membasuhnya, jika ia basah."263 Oleh sebab itu, mengeruk (al-farku) dan menggosok (ad-dalku) dapat dikatakan sebagai hal yang sama.

Ulama Maliki sepakat dengan ulama Hanafi mengenai najisnya mani. Ulama Syafi’i dan Hambali mengatakan bahwa mani manusia adalah suci berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah yang ada pada ad- Daruquthni. Ibnu Abbas mengatakan, "Usaplah dengan dzkhirah (sejenis rumput yang berbau] atau dengan sepotong kain, karena ia adalah sama seperti ingus dan ludah."

Sebab terjadinya perbedaan pendapat ini ada dua. Pertama, hadits riwayat Aisyah tidak sama. Satu riwayat dikatakan bahwa ia mem-basuhnya, tetapi pada hadits lain yang diriwayatkan bahwa dia mengeruknya. Kedua, karena di sat j sisi mani menyerupai hadats yang keluar dan badan, dan di sisi lain ia menyerupai unsur-unsur lebihan yang suci seperti susu dan lain-lain.

Saya lebih condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa air mani adalah suci, karena pendapat ini memberi kemudahan kepada banyik orang. Pakaian yang terkena air mani patut dibasuh bukan karena najis, te-tapi karem kotor berdasarkan hadits Aisyah yang pertama, yang mengatakan bahwa cukup dengan mengeruk air mani. Meskipun dalil ini sesuai untuk menjadi hujjah kepada ulama Hanafi, bahwa najis dapat dihilangkan dengan bahan sela n air.


Dikutip dari Fiqih Islam WA ADILLATUHU

Prof. DR. Wahab AZ-Zuhali







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa