Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Istilah - Istilah Khusus Dalam Madzhab
Istilah - Istilah Khusus Dalam Madzhab
B. ISTILAH-ISTILAH KHUSUS DALAM MADZHAB Ada istilah-istilah yang sering digunakan dalam setiap madzhab. Istilah ini digunakan dengan tujuan untuk meringkas, supaya tidak muncul rasa jemu dengan pengulangan dan juga untuk ...
Minggu, 23 Desember 2012

B. ISTILAH-ISTILAH KHUSUS DALAM MADZHAB

Ada istilah-istilah yang sering digunakan dalam setiap madzhab. Istilah ini digunakan dengan tujuan untuk meringkas, supaya tidak muncul rasa jemu dengan pengulangan dan juga untuk mengetahui mana pendapat yang kuat dan yang mu’tamad. Di antara istilah- istilah khusus dalam madzhab ialah: Istilah-istilah Madzhab Hanafi

1. Zhahir ar-riwayat: Biasanya istilah ini digunakan untuk menunjuk kepada pendapat yang rajih dari tiga imam madzhab Hanafi, yaitu Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad Hasan.

2. Al-Imam maksudnya adalah Abu Hanifah. Asy-Syaikhan adalah Abu Hanifah.  dan abu yusuf. Ath-Tharafan  maksudnyaa dalah Abu Hanifah dan Muhammad. Ash-Shahiban adalah Abu Yusuf dan Muhammad. Ats- Tsani maksudnya adalah Abu Yusuf. Ats- Tsalits maksudnya adalah Muhammad.

Kata lahu maksudnya adalah menurut Abu Hanifah. Kata lahuma atau ‘indahuma atau madzhabuhuma ialah madzhab dua sahabat (Abu Yusuf dan Muhammad). Jika mereka mengatakan ashabuna, maka menurut pendapat yang masyhur ialah menunjuk kepada imam yang tiga, yaitu Abu Hanifah dan dua orang sahabatnya, Adapun istilah al-Masyayikh artinya adalah orang yang tidak sempat bertemu imam.

3. Yufta Qat’an adalah istilah yang menunjukkan kepada sesuatu yang disepakati oleh Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya dalam riwayat-riwayat yang zahir. Apabila mereka berselisih pendapat, maka yang difatwakan secara mutlak adalah pendapat Abu Hanifah, khususnya dalam bab ibadah. Pendapat kedua-dua sahabatnya atau pendapat salah seorang dari mereka tidak boleh ditarjihkan kecuali ada sesuatu yang pasti, yaitu-seperti kata Ibnu Nujaim-karena lemahnya dalil yang di-pegang oleh imam ataupun karena daru- rat dan menjadi amalan (muamalah) seperti mentarjih pendapat kedua sahabat (Abu Yusuf dan Muhamad) dalam masalah muzara’ah dan musaqah (dengan alasan menjadi amalan), ataupun karena perbedaan masa.

Dalam kasus-kasus kehakiman, kesaksian, dan harta pusaka yang difatwakan adalah pendapat Abu Yusuf, karena dia lebih berpengalaman dalam perkara-per- kara ini.
Dalam seluruh kasus mengenai dzawil arham pendapat yang difatwakan adalah pendapat Muhammad. Dan dalam 17 masalah yang difatwakan adalah pendapat Zufar.

4. Jika tidak ada riwayat imam dalam suatu masalah, maka hendaklah difatwakan mengikuti pendapat Abu Yusuf, kemudian mengikuti pendapat Muhammad, kemudian mengikuti pendapat Zufar dan al- Hasan bin Ziyad.

5. Apabila dalam suatu masalah dapat digunakan pendekatan qiyas dan istihsan hendaklah menggunakan istihsan kecuali dalam beberapa masalah yang masyhur, yaitu 22 masalah.
Jika suatu masalah tidak disebutkan dalam zhahir ar-riwayat, tetapi ia terdapat dalam riwayat yang lain, maka riwa yat yang lain itu hendaklah digunakan.

Jika terdapat perbedaan riwayat dari imam atau tidak terdapat riwayat darinya, dan juga tidak ada riwayat dari para sahabatnya sama sekali, maka dalam kasus yang pertama, riwayat yang di- ikuti adalah riwayat yang mempunyai hujjah yang terkuat; dan dalam kasus kedua hendaklah diikuti pendapat yang disepakati oleh para masyayikh (al-ma- shayikh al-muta’akhkhirun), jika mereka berselisih pendapat hendaklah yang diikuti adalah pendapat mayoritas. Jika tidak terdapat pendapat mereka sama sekali, maka seseorang mufti hendaklah mengkaji masalah berkenaan, meneliti, dan berijtihad untuk menemukan hukum agar terlepas tuntutan dan janganlah dia mengeluarkan fatwa sesuka hatinya. Hendaklah dia takut kepada Allah SWT yang senantiasa memerhatikannya. Se- bab, keberanian mengeluarkan fatwa tanpa dalil merupakan masalah besar yang tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang jahil dan jahat.

Apabila terdapat pertentangan di antara pendapat yang shahih dengan pendapat yang difatwakan, umpamanya dikatakan pendapat yang shahih adalah demikian sedangkan pendapat yang difatwakan adalah begini, maka yang lebih utama ialah mengikuti pendapat yang sesuai dengan teks Hanafiah (mutun). Jika tidak terdapat pendapat yang sesuai dengannya, maka hendaklah diikuti pendapat yang difatwakan. Sebab, kata fatwa adalah lebih kuat dari kata shahih, ashah asybah, dan lain-lain.

Apabila dalam suatu masalah itu terdapat dua qaul yang sama-sama dishahih- kan (qaulan mushahhahan), maka boleh menetapkan hukuman dan fatwa dengan salah satunya. Dan salah satunya dirajih- kan dengan mempertimbangkan mana yang lebih sesuai dengan masa atau dengan ’uruf (adat), atau yang lebih memberi manfaat kepada fakir miskin, atau mana yang dalilnya lebih nyata dan lebih zhahir. Karena, tarjih memang dibuat berdasarkan kekuatan dalil.

Kata bihi yufta (pendapat itu difatwakan] adalah lebih kuat dari kata al- fatwa ‘alaih, sebab kata yang pertama lebih khusus.
Lafaz al-ashah (lebih shahih) adalah lebih kuat dari lafaz shahih, dan lafaz al- ahwath (lebih hati-hati) adalah lebih kuat dari lafaz al-lhtiyath (hati-hati).

7. Maksud kata mutun (teks) ialah teks Hanafiah yang diakui, seperti kitab Mukh- tasar al-Qaduri, al-Bidayah, an-Niqayah, al-Mukhtar, al-Wiqayah, al-Kanz, dan al- Multaqa, karena kitab-kitab ini ditulis dengan tujuan memindahkan (menyatakan) zahir ar-riwayat dan pendapat yang mu’tamad (al-aqwal al-mu’tamadah).

8. Tidak boleh beramal dengan riwayat yang lemah (dhaif), walaupun untuk diri sendiri. Dalam masalah ini, tidak ada bedanya apakah dia adalah seorang qa- dhi ataupun mufti. Perbedaan di antara keduanya adalah mufti menceritakan (memberi tahu) tentang hukum syara’, sedangkan qadhi menetapkannya. Abu
Hanifah menyatakan, "Apabila ternyata hadits itu sah, maka itulah madzhabku." Pendapat para imam madzhab lain juga sama.34 Tetapi dalam keadaan tertentu, boleh mengeluarkan fatwa dengan pendapat dhaif, untuk memberi kemudahan kepada orang banyak.

Menurut ulama Hanafi, aturan hukum dari berbagai madzhab yang dicampuradukkan (talfiq) adalah bathil. Demikian juga menarik kembali taqlid (kepada satu madzhab) sesudah melaksanakan satu amalan juga batal. Ini adalah menurut pendapat yang terpilih dalam madzhab. Oleh sebab itu, siapa yang shalat Zhuhur dan sewaktu wudhu dia mengusap kepala dengan bertaqlid dengan madzhab Hanafi, maka dia tidak boleh membatalkan sha- latnya mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan dalam madzhab Maliki yang mewajibkan mengusap seluruh kepala ketika wudhu.

Sebagian ulama Hanafi menyatakan taqlid setelah melaksanakan amalan adalah boleh. Contohnya adalah jika seseorang melaksanakan shalat dengan dugaan kuat bahwa shalat yang dilaksanakan itu sah mengikuti madzhabnya. Kemudian ternyata shalat yang ia lakukan itu tidak sah menurut madzhabnya, tetapi sah menurut madzhab lain, maka dia boleh bertaqlid kepada madzhab yang lain itu. Shalatnya itu juga dianggap sah. Dalam al- Fatawa al-Bazzaziyyah disebutkan, "Diriwayatkan dari Abu Yusuf bahwa dia shalat Jumat setelah mandi dari sebuah telaga, kemudian dia diberi tahu bahwa bangkai seekor tikus telah dijumpai di dalam telaga itu. Lalu dia mengatakan kita ikut pendapat sahabat-sahabat kita dari ahli Madinah (yang berpendapat), ‘Apabila air telah sampai ukuran dua kulah (270 liter atau 15 tanakah) ia tidak terpengaruh dengan najis."’

10. Sebagian ulama Hanafi mengatakan bahwa apabila seorang muqallid melaksana-kan amalan dengan berdasarkan madzhab lain atau dengan berdasarkan riwayat yang dhaif atau pendapat yang lemah (qaul dha’if), maka amalannya itu terlaksana. Dan orang lain tidak boleh membatalkannya.

11. Hasyiyyah Ibn Abidin (seorang ulama Syria yang meninggal dunia pada 1252 H), yang berjudul Radd al-Mukhtar ‘ala ad- Durr al-Mukhtar dianggap sebagai usaha tahqiq (penyunting) dan tarjih yang penghabisan dalam madzhab Hanafi.

 







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa