Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Najis
Najis
Dalam bagian ini akan bincangkan lima pembahasan. 1. JENIS-JENIS NAJIS SECARA UMUM DAN HUKUM MEMBERSIHKANNYA Perkataan annajaasah adalah lawan kata dari perkataan.. ath-thahaarah, dan perkataan an-najas juga kebalikan kata
Kamis, 07 Maret 2013

Dalam bagian ini akan bincangkan lima pembahasan.

1. JENIS-JENIS NAJIS SECARA UMUM DAN HUKUM MEMBERSIHKANNYA

Perkataan an-najaasah adalah lawan kata dari perkataan ath-thahaarah, dan perkataan an-najas juga kebalikan kata ath-thahir. Kata al-anjaas merupakan bentuk jamak dari kata najis, yaitu nama bagi benda yang kotor menurut pandangan syara’. Najis ada dua jenis, najis hukmi dan najis haqiqi. Kotoran (al- khubuts) khusus bagi najis haqiqi, sedangkan hadats adalah sebutan khusus bagi najis hukmi. Kata an-najas, jika huruf jim-nya dibaca dengan fathah, maka ia menjadi isim. Tetapi jika dibaca dengan kasrah (an-najis), maka ia menjadi kata sifat.

Najis terbagi kepada dua jenis, yaitu najis haqiqi dan najis hukmi. Dari segi bahasa, najis haqiqi ialah benda-benda yang kotor seperti darah, air kencing, dan tahi. Menurut syara’, ia adalah segala kotoran yang menghalangi sahnya shalat. Najis hukmi ialah najis yang terdapat pada beberapa bagian anggota badan yang menghalangi sahnya shalat. Najis ini mencakup hadats kecil yang dapat dihilangkan dengan wudhu dan hadats besar (janabah) yang dapat dihilangkan dengan mandi. Najis haqiqi terbagi kepada beberapa jenis, yaitu mughallazhah (berat), mukhaffafah (ringan), najis yang keras, najis yang cair, najis yang dapat dilihat, dan najis yang tidak dapat dilihat.

Hukum menghilangkan najis yang tidak dimaafkan dari pakaian, badan, dan juga tem- pat shalat bagi orang yang hendak mengerjakan shalat adalah wajib. Ini menurut pendapat jumhur fuqaha kecuali ulama Madzhab Maliki, karena Allah SWT berfirman yang artinya:

"Dan bersihkanlah pakaianmu." (al-Mud- datstsir: 4)


Ada dua pendapat yang masyhur dalam Madzhab Imam Malik berkenaan dengan masalah ini, yaitu wajib dan sunnah. Jika orang yang berkenaan dalam keadaan sadar, mampu dan dapat menghilangkan najis itu, maka pendapat yang mu’tamad dan masyhur mengatakan bahwa hukumnya sunnah. Namun menurut pendapat lain, hukumnya adalah wajib. Oleh sebab itu, siapa yang menunaikan shalat dalam keadaan terkena najis dengan sengaja, sedangkan dia mampu menghilangkannya, maka dia wajib mengulangi shalatnya, karena shalatnya itu tidak sah. Tetapi kalau berdasarkan pendapat yang masyhur dari Madzhab Maliki, yang menyatakan hukum menghilangkan najis hanya sunnah saja, sekiranya dia sadar dan mampu menghilangkannya. Maka, mengulangi shalat tersebut hanyalah sunnah. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka mengulangi shalat bagi orang yang terlupa, orang yang tidak me-ngetahui keberadaan najis, dan orang yang tidak mampu menghilangkannya adalah sunnah. Pembahasan ini mengandung dua cabang permasalahan.

Insya Allah kelanjuatannya besok di teruskan







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa