Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Perkara yang Membatalkan Wudhu II
Perkara yang Membatalkan Wudhu II
Pendapat yang rajih di kalangan madzhab Hanafi adalah pendapat ash-Shahibain (yaitu Abu Yusuf dan Muhammad Hassan asy-Syaibani) yang mengatakan bahwa tidak ditetapkan hukum bernifas bagi perempuan tersebut. Hal ini karena....
Selasa, 03 Juni 2014

2. Bersalin tanpa keluar darah. Pendapat yang rajih di kalangan madzhab Hanafi adalah pendapat ash-Shahibain (yaitu Abu Yusuf dan Muhammad Hassan asy-Syaibani) yang mengatakan bahwa tidak ditetapkan hukum bernifas bagi perempuan tersebut. Hal ini karena nifas berkaitan dengan darah, sedangkan darah tidak wujud pada perempuan tersebut. Dia hanya diwajibkan berwudhu karena lembab yang berlaku pada farjinya. Abu Hanifah berkata, "Dia wajib mandi sebagai langkah berhati-hati (ihtiyath), karena pada kebiasaannya dia tidak terhindar dari keluarnya darah yang sedikit."

3. Sesuatu yang keluar tidak melalui dua kemaluan yang biasa seperti darah, nanah, dan nanah yang bercampur dengan darah, bisa membatalkan wudhu dengan syarat (menurut pendapat ulama madzhab Hanafi) ia mengalir ke tempat yang wajib disucikan, yaitu sisi luar badan. Artinya, anggota yang wajib disucikan semuanya meskipun sunnah, hal itu seperti darah yang mengalir keluar melalui hidung. Maksud mengalir di sini adalah apabila darah melimpah dari tempat keluarnya kemudian mengalir ke bawah. Oleh sebab itu, tidak diwajibkan berwudhu jika darah yang keluar itu hanya sekadar setetes atau dua tetes saja. 

Tidak diwajibkan berwudhu, sebab terdapat bekas darah yang diakibatkan oleh menggigit sesuatu atau dihasilkan dari bersiwak. Begitu juga wudhu tidak diwajibkan, dengan sebab darah yang keluar dari suatu tempat yang tidak harus disucikan, seperti darah yang keluar dari tempat luka di dalam mata atau telinga, buah dada atau pusar, kemudian ia mengalir ke bagian yang lain. Ulama madzhab Hambali mensyaratkan, hendaklah sesuatu yang keluar itu dalam kadar yang banyak. Maksud kadar yang banyak adalah apabila kondisinya menjadi buruk menurut diri seseorang. Maksudnya, kondisi badan seseorang diperhitungkan, baik ia kurus ataupun gemuk. Oleh sebab itu, jika darah keluar dari badan seorang yang kurus misalnya, dan ia dianggap banyak berdasarkan atas badannya, maka wudhunya menjadi batal. Jika tidak dianggap banyak, maka wudhunya tidak batal. Hal ini karena Ibnu Abbas pernah berkata, "Perkara yang buruk itu adalah apa yang dirasakan buruk mengikut pertimbangan hatimu.” Hujjah bagi ulama madzhab Hanafi adalah sabda Rasulullah saw.,


"Wudhu hendaklah dilakukan bagi setiap darah yang mengalir.”

Rasul saw. juga bersabda,


"Barangsiapa muntah atau keluar da¬rah dari hidungnya sewaktu shalatnya, maka hendaklah ia berhenti, lalu berwu¬dhu dan menyempurnakan shalatnya itu jika ia masih belum berbicara."

Sabda Rasul saw. yang lain,


"Tidak diwajibkan berwudhu karena setetes atau dua tetes darah, kecuali jika keadaan darah itu mengalir."

Dalil ulama madzhab Hambali adalah hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah binti Abi Hubaisy yang telah disebutkan menurut catatan at-Tirmidzi, "Ia merupakan pendarahan. Oleh sebab itu, hendaklah kamu berwudhu untuk setiap shalat."

Selain itu, karena darah adalah najis yang keluar dari badan, maka dari itu ia diberi hukum seperti sesuatu yang keluar dari dua kemaluan.

Kadar yang sedikit dari darah tidak membatalkan wudhu, karena berdasarkan mafhum kata-kata Ibnu Abbas tentang darah, "Jika ia buruk (kadarnya banyak), hendaklah dia mengulangi (wudhunya)." Ibnu Umar pernah memijit jerawat di mukanya, lalu keluar darah dan dia terus menunaikan shalat tanpa mengulangi wudhunya. Ibnu Abi Aufa pula telah memijit bisulnya, dan begitulah yang dilakukan oleh orang lain selain mereka berdua.

Ulama madzhab Maliki dan Syafi`i memutuskan bahwa wudhu tidak akan batal dengan keluarnya darah dan sejenisnya. Mereka berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan Anas, "Rasulullah saw. telah melakukan bekam, lalu Rasul menunaikan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu. Yang Rasul lakukan hanya sekadar membasuh tempat bekam saja.”

Hadits riwayat Abbad bin Bisyr juga mengatakan bahwa dia telah terkena panah ketika sedang shalat, lalu dia meneruskan shalatnya. Sudah tentu dia tidak menyampaikan kondisi tersebut kepada Nabi Muhammad saw., dan tidak diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. telah mengatakan shalatnya itu batal.

4. Muntah. Perbedaan pendapat mengenai hal ini adalah seperti yang berlaku pada masalah darah dan sejenisnya, yang keluar melewati jalan lain selain dua kemaluan.

Bersambung...







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa