Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Perbedaan Perkara yang Membatalkan Wudhu
Perbedaan Perkara yang Membatalkan Wudhu
Muntah, baik berupa makanan, air, `alaqah (darah beku yang keluar dari usus) atau mirrah (cairan empedu yang berwarna kuning) dapat mem¬batalkan wudhu. Wudhu tidak batal dengan keluarnya dahak, baik ia keluar dari usus, dada,
Selasa, 24 Juni 2014

Perbedaan tersebut terbagi menjadi dua pendapat:

(a) Pendapat ulama madzhab Hanafi dan Hambali. Ia dapat membatalkan wudhu jika yang keluar itu seukuran kadar satu mulut penuh. Pendapat ini menurut pendapat yang ashah. Yaitu, kadar apabila mulut tidak dapat ditutup melainkan dengan cara memaksanya. Ulama madzhab Hambali mengatakan apabila muntah yang keluar terlalu banyak menurut perasaan seseorang, maka ia dianggap buruk (fahusy).

Muntah, baik berupa makanan, air, `alaqah (darah beku yang keluar dari usus) atau mirrah (cairan empedu yang berwarna kuning) dapat mem¬batalkan wudhu. Wudhu tidak batal dengan keluarnya dahak, baik ia keluar dari usus, dada, atau kepala, sama seperti ingus dan ludah (yang tidak membatalkan wudhu) karena ia merupakan sesuatu yang bersih yang keluar dari tubuh. Wudhu juga tidak batal dengan disebabkan menguap, yaitu angin yang keluar dari mulut seseorang.
Dalil mereka adalah hadits riwayat Aisyah, "Siapa yang muntah, keluar darah hidung, qals (air gumoK), ataupun air madzi, hendaklah dia berhenti shalat, kemudian berwudhu, setelah itu meneruskan shalatnya. Dalam kondisi seperti ini, hendaklah jangan berbicara.

Qals adalah sesuatu yang keluar dari kerongkongan seseorang, baik ia memenuhi mulut ataupun tidak. Ia bukanlah muntah. Jika ia berulang lagi, maka ia menjadi muntah. Mereka juga berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda` bahwa Nabi Muhammad saw. muntah, tetapi beliau terus berwudhu. Kemudian saya bertemu dengan Tsauban di dalam masjid Damsyik. Saya menceritakan perkara itu kepadanya, dia mengatakan, "Benar, saya yang mengucurkan air wudhu kepadanya."

Sebagai kesimpulan, sesungguhnya menurut pendapat mereka muntah dapat membatalkan wudhu dengan tiga syarat, yaitu ia keluar dari usus, kadarnya memenuhi mulut atau lebih banyak dan ia keluar serentak atau sekaligus.

(b) Bagi ulama madzhab Maliki dan Syafi`i, wudhu tidak batal disebabkan oleh muntah. Hal ini karena Nabi Muhammad saw. pernah muntah dan Rasul tidak mengambil air wudhu setelahnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tsauban dinyatakan, "Aku bertanya, `Wahai Rasulullah saw., adakah wajib berwudhu karena muntah?` Rasul menjawab, `Jika ia wajib, tentulah kamu akan menemukannya di dalam kitab Allah!"

Selain itu, karena ia tidak keluar melalui kemaluan yang biasa, maka oleh sebab itu, ia tidak membatalkan thaharah se¬seorang. Kedudukannya sama seperti hukum air ludah saja. Mereka menjawab tentang maksud Hadits Abu Darda`, dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata wudhu dalam hadits tersebut adalah membasuh kedua tangan.

Yang jelas bagi saya adalah segala sesuatu yang keluar tidak melalui dua saluran kemaluan dapat membatalkan wudhu, jika jumlahnya banyak seperti yang dikatakan oleh ulama madzhab Hambali. Hukum ini diqiyaskan kepada najis yang keluar melalui dua saluran kemaluan. Hal ini karena hadits-hadits yang telah disebutkan mengandungi perselisihan dalam hal keshahihannya. Oleh sebab itu, ia tidak terhindar dari dianggap sebagai hadits-hadits dhaif.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa