Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Syarat - Syarat Niat
Syarat - Syarat Niat
Niat dalam semua bentuk ibadah mempunyai beberapa syarat, namun niat dalam masing-masing ibadah juga mempunyai sya- rat-syarat tersendiri. Syarat niat dalam semua bentuk ibadah adalah sebagai berikut.
Selasa, 05 Februari 2013

H. SYARAT-SYARAT NIAT

Niat dalam semua bentuk ibadah mempunyai beberapa syarat, namun niat dalam masing-masing ibadah juga mempunyai sya- rat-syarat tersendiri. Syarat niat dalam semua bentuk ibadah adalah sebagai berikut.

A. ISLAM

Niat yang dapat menghasilkan pahala dan dapat menyebabkan sahnya suatu amalan adalah niat yang dilakukan oleh orang Muslim. Ibadah yang dilakukan oleh orang kafir tidak sah. Oleh sebab itu, tayamum dan wudhu yang dilakukan oleh orang kafir dianggap tidak berarti sebagaimana ditegaskan oleh jumhur ulama. Namun menurut madzhab Hanafi, wudhu dan mandinya orang kafir adalah sah, karena niat menurut mereka-hanya disyaratkan sewaktu tayamum tidak pada waktu wudhu. Apabila setelah melakukan wudhu dan mandi orang kafir itu masuk Islam, maka dia boleh malakukan shalat dengan wudhu dan mandi yang dilakukan sebelum masuk Islam tersebut. Menurut madzhab Hanafi kafarat yang dilakukan oleh orang kafir tidak sah, begitu juga dengan sumpah yang diucapkannya. Karena, Allah SWT berfirman,

"... Sesungguhnya mereka adalah orang- orang yang tidak dapat dipegang janjinya..." (at-Taubah: 12) dan Allah juga berfirman, "Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian...." (at-Taubah: 12) maksudnya adalah janji-janji lahiriah mereka. Namun menurut madzhab Syafi’i, kafarat orang kafir selain dalam bentuk ibadah (puasa) seperti memerdekakan budak dan memberi makan fakir miskin adalah sah. Dan supaya sah, mereka disyaratkan berniat, karena yang ditekankan di sini adalah sisi denda dan hukumannya. Sehingga, niat adalah untuk membedakan dari kegiatan untuk maksud yang lain bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pembayaran kafarat ini hampir sama dengan pembayaran utang. Mandi setelah berhenti dari haid yang dilakukan oleh wanita Ahli Kitab yang menjadi istri seorang Muslim adalah sah. Ketetapan ini diputuskan supaya sang suami dibolehkan menggauli istrinya tersebut tanpa ada perbedaan pendapat, karena darurat. Menurut madzhab Syafi’i supaya mandinya itu sah, maka wanita itu disyaratkan niat terlebih dulu.

Adapun orang yang murtad, maka mandi atau amalan lainnya yang dilakukan tidak sah. Namun apabila orang murtad tersebut mengeluarkan zakat sewaktu dalam keadaan murtad, maka hal itu sah dan cukup.

B. TAMYIZ
Ulama bersepakat bahwa, ibadah yang dilakukan oleh anak kecil yang belum mumayyiz (belum dapat membedakan yang baik dan yang buruk) dan orang gila adalah tidak sah. Namun menurut madzhab Syafi’i, seorang wali yang mewudhukan anaknya untuk keperluan thawaf-yaitu ketika dia melakukan ihram untuk anaknya-adalah sah. Begitu juga apabila seorang suami memandikan istrinya yang gila setelah berhentinya darah haid adalah sah, apabila suami tersebut berniat. Hal ini adalah menurut pendapat yang ashah.Oleh sebab itu, perbuatan anak kecil dan orang gila yang dilakukan dengan sengaja adalah dianggap tidak sengaja. Madzhab Ha- nafi menambahkan baik anak kecil tersebut sudah mumayyiz atau belum. Sedangkan madzhab Syafi’i, menetapkan bahwa kesengajaan orang gila dan anak kecil yang belum mumayyizdianggap ketidaksengajaan. Namun apabila yang melakukan adalah anak kecil yang sudah mumayyiz, maka tetap dianggap sebagai kesengajaan.

Wudhu orang yang mabuk menjadi batal karena mabuknya tersebut. Begitu juga sha- latnya menjadi batal, karena orang tersebut berada dalam kondisi tidak dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Adapun madzhab Syafi’i menegaskan bahwa orang yang mabuk tidak dihukumi sebagai orang yang berhadats. Sehingga, shalat dan amalannya yang lain tidak batal, kecuali jika dia sampai mabuk berat dan keluar bau dari mulutnya.

C. MENGETAHUI PERKARA YANG DINIATI
Barangsiapa tidak mengetahui kewajiban melaksanakan shalat lima waktu, maka niat- nya tidak sah. Begitu juga orang yang hanya mengetahui bahwa yang wajib hanyalah beberapa shalat saja dari shalat lima waktu. Namun syarat ini tidak berlaku dalam ibadah haji, karena haji berbeda dengan shalat. Dalam haji tidak disyaratkan menyatakan dengan jelas perkara yang diniati (ta’yin), melainkan ihram akan sah hanya dengan niat yang mut- lak. Ali r.a. melakukan ihram (dengan niat) "melakukan ihram yang dilakukan oleh Nabi Muhammad," dan Nabi membenarkan tindakan Ali tersebut. Apabila sebelum melakukan amalan seseorang menyatakan dengan jelas (ta’yin) bahwa amalannya adalah amalan haji atau umrah, maka amalannya itu sah. Namun apabila ta’yin itu dilakukan setelah memulai amalan, maka ia menjadi amalan umrah.

Imam as-Suyuthi menjelaskan apabila ada orang mengucapkan kata talak dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti, kemudian orang tersebut berkata, "Saya menghendaki maknanya dalam bahasa Arab," maka menurut pendapat yang ashah, ucapan talaknya tersebut tidak berlaku.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa