Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag1)
Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag1)
Thaharah adalah wajib menurut syara`. Kewajibannya ditetapkan menurut dalil qaath`i yang telah disepakati ulama. Perkara yang diwajibkan adalah wudhu, mandi junub, mandi karena menyucikan diri dari hadi, dan mandi nifas
Rabu, 05 Desember 2012

Thaharah adalah wajib menurut syara’.
Kewajibannya ditetapkan menurut dalil qaath`i yang telah disepakati ulama. Perkara yang diwajibkan adalah wudhu, mandi junub, mandi karena menyucikan diri dari hadi, dan mandi nifas dengan air. Jika ridak ada atau apabila tidak dapat menggunakan air, hendaklah diganti dengan tayamum dan diwajibkan juga menghilangkan najis.
Para ahli fiqih sepakat mengatakan boleh bersuci dengan menggunakan air yang menyucikan atau air yang mutlak, yaitu air yang disebut sebagai "air" saja tanpa disertai dengan sifat apa pun seperti air musta`mal (yang telah digunakan) atau disertai sandaran apa pun seperti air mawar. Allah SWT berfirman,

1

 

 

"...dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih." (al-Furqaan: 48)
Demikian juga firman Allah SWT,
"...dan Allah menurunkan air (hujan) dan langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan [hujan] itu...." (al-Anfaal: 11)


Para ahli fiqih juga sepakat untuk mengatakan boleh bersuci dengan cara mengusap dengan kertas atau dengan batu dalam kasus istinja`. Ini artinya boleh menggunakan kertas atau batu untuk menghilangkan najis kencing dan berak, dengan syarat air kencing atau tahi itu tidak mengotori daerah sekitar tempat keluarnya. Para ahli fiqih juga sepakat mengatakan bahwa bersuci dengan debu dianggap sebagai suci dari segi hukumnya saja (taharah hukmiyyah). Mereka juga sepakat mengatakan bahwa arak akan menjadi suci dengan cara tertentu, sehingga ia berubah menjadi cuka.


Namun, para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai alat-alat bersuci lainnya. Berikut ini adalah pendapat-pendapat mereka.
ALAT-ALAT BERSUCI MENURUT MADZHAB HANAFI


1. Air Mutlak Meskipun Air Musta`mal
Dengan menggunakan air, maka akan dihasilkan dua thaharah, yaitu thaharah haqiqi dan hukmi (hadats dan janabah). Contohnya ialah menggunakan air hujan, air laut, air sumur, air dari mata air, dan air yang tertampung di bagian lembah. Allah SWT menamakan jenis air ini sebagai air yang menyucikan (thahur), sebagaimana disebut dalam firman- Nya,
"...dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih." (al-Furqaan: 48)
Rasulullah saw. Juga bersabda.

2

 

 

 

"Air yang sua tiaaK aapat amajiskan oleh apa pun, kecuali ia berubah warna, rasa, ataupun baunya"
Kalimah ath-thahur artinya suci pada dirinya dan dia dapat menyucikan untuk yang lain.


2. Benda Cair yang Suci
Cairan yang suci ialah cairan yang mengalir apabila diperah. Ia dapat menghilangkan najis. Ulama Hanafi dan juga para ulama yang lain sepakat mengatakan bahwa cairan yang suci tidak dapat menghilangkan hadats hukmi (yaitu hadats-hadats yang dapat hilang dengan v/udhu dan mandi). Sebab, hadats hukmi hariya dapat dihilangkan dengan air. Hal ini ditetapkan oleh nash Al-Qur`an. Penggunaan air untuk menghilangkan hadats hukmi merupakan kemudahan bagi manusia.


Penggunaan cairan yang suci dapat menghilangkan thaharah haqiqi, (yaitu dapat menghilangkan najis haqiqi dari pakaian dan badan) menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf. Pendapat ini adalah pendapat yang difatwa- kan. Contoh-contoh cairan yang suci ialah air mawar, air bunga, cuka, air tumbuh-tumbuh- an, air buah-buahan, air kacang yang jika direbus dia mencair dan apabila didinginkan ia akan menjadi beku,250 dan air dari bahan apa pun yang jika diperah akan mengeluarkan air, termasuk juga keringat yang dapat membersihkan jari. Jika puting susu seorang ibu men-jadi najis karena muntahan anaknya, maka ia menjadi suci atau bersih dengan cara anaknya itu menghisap susunya tiga kali hisap. Mulut seorang peminum arak menjadi bersih apabila bertukar dengan air liur.


Apabila bahan itu tidak mengalir seperti madu, minyak sapi, lemak, minyak, susu, walaupun susu yang dimasamkan, sup dan sebagainya, maka semua bahan ini tidak dapat digunakan untuk bersuci. Sebab, bahan-bahan ini tidak dapat menghilangkan najis. Karena, menghilangkan najis hanya dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan bagian-bagian yang najis bersama-sama dengan bahan yang menghilangkannya sedikit demi sedikit. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh bahan yang mengalir apabila diperah. Cairan seperti ini sama seperti air yang dapat menghilangkan bagian-bagian najis, sebab cairan yang mengalir bersifat halus dan dapat meresap ke dalam bagian-bagian najis, la juga dapat meng-hilangkannya, kemudian najis itu dapat dikeluarkan dengan cara perlahan.


Muhammad al-Hasan, Zufar, dan ulama selain ulama Hanafi tidak membenarkan penggunaan cairan untuk menghilangkan najis.251 Hal ini disebabkan sifat air yang menyucikan ditetapkan oleh syara`, dan syara` hanya mengakui bersuci dengan air dan tidak dengan selainnya. Oleh sebab itu, bahan-bahan yang lain tidak boleh disamakan dengannya.


Boleh bersuci dengan air yang bercampur dengan sedikit bahan yang suci yang mengubah salah satu sifat air itu,252 seperti air keruh dan air yang bercampur dengan sabun, bercampur dengan bahan penyuci lain atau kunyit, selagi air itu masih halus dan mengalir. Karena meskipun sudah bercampur air, benda itu masih dinamakan air. Ini disebabkan adanya kesulitan untuk mengawasi bahan-bahan seperti tanah, daun, dan pohon supaya tidak bercampur dengan air. Jika air itu menjadi padat, yaitu apabila campuran tanah lebih banyak daripada air atau jika ia bercampur dengan sabun, dan sabun atau bahan pencuci itu lebih banyak ataupun jika bercampur dengan kunyit dan ia berubah menjadi pewarna kain, maka tidak boleh bersuci dengannya.

 

Dikutip dari Fiqih Islam WA ADILLATUHU

Prof. DR. Wahab AZ-Zuhali








comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa