Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag2)
Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag2)
3. Menggosok (ad-Dalk) Menggosok ialah mengusap bagian yang terkena najis dengan tanah secara kuat, hingga bekas atau zat najis itu hilang. Sama dengan ad-dalk ialah al-hat, yaitu mengeruk dengan kayu atau tangan.
Kamis, 06 Desember 2012

3. Menggosok (ad-Dalk)
Menggosok ialah mengusap bagian yang terkena najis dengan tanah secara kuat, hingga bekas atau zat najis itu hilang. Sama dengan ad-dalk ialah al-hat, yaitu mengeruk dengan kayu atau tangan. Mengosok dapat menghilangkan najis yang berjirim yang mengenai sandal baik najis itu kering ataupun basah. Maksud berjirim ialah sesuatu yang masih dapat dilihat sesudah kering seperti tahi, darah, mani, air kencing, dan arak yang terkena tanah. Perlu diperhatikan juga, najis berjirim adalah mencakup najis yang basah juga. Pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang ashah dan terpilih, serta difatwakan. Alasan dibolehkannya najis yang terkena sandal itu digosok ialah karena kejadian ini sering terjadi (’umum al-balwa) dan juga terdapat Hadits Nabi Muhammad saw.,

"Apabila salah seorang kamu datang ke masjid, hendaklah di balik sandalnya supaya ia dapat melihat apakah ada kotoran atau tidak. Jika dia mendapati ada kotoran, hendaklah diusap (digosok) dengan tanah kemudian dia baru boleh shalat dengan sandal itu."253

Apabila najis itu bukan najis yang berjirim, maka wajib dibasuh dengan air sebanyak tiga kali, walaupun setelah ia kering. Setiap kali basuhan, hendaklah dibiarkan dulu hingga air tetesannya berhenti, dan hingga najis yang masih basah itu hilang dari khuf. Tetapi, tidak disyaratkan keringnya kh uf terlebih dahulu.

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa sandal akan menjadi suci dengan cara menggosokkannya ke tanah jika najis itu kering. Namun, ia tidak akan menjadi suci jika najis itu basah, karena Aisyah menggosok-gosok mani yang sudah kering dari pakaian Rasulullah saw.. Jika mani itu basah, beliau membasuh kain tersebut.254 Imam asy-Syafi’i dan Muhammad ibnul Hasan mengatakan bahwa sandal yang terkena najis tidak akan suci jika digosokkan ke tanah, baik najis itu kering ataupun basah. Karena, najis meresap ke dalam sandal sama seperti meresapnya ke dalam pakaian dan badan. Ulama Madzhab Hambali mengatakan bahwa ia boleh digosokkan jika najis itu sedikit. Tetapi j ika banyak, maka harus dibasuh.255

4. Mengusap yang Dapat: Menghilangkan Bekas Najis

Cara ini dapat membersihkan benda-benda yang licin seperti mata pedang, cermin, kaca, wadah yang dilumuri minyak, kuku, tulang, permukaan barang dari perak, dan lain-lain, karena semua barang itu tidak akan diserap oleh najis. Najis yang terdapat di permukaan barang-barang ini dapat dihilangkan dengan cara mengusapnya. Diriwayatkan bahwa para sahabat Rasulullah saw. membunuh orang kafir dengan pedang mereka. Kemudian mereka mengusap pedangnya dan melakukan shalat dengan pedang itu. Berdasarkan hal ini, maka cukuplah mengusap tempat yang dibekam dengan tigei potong kain yang bersih yang dibasahkan.

Ulama madzhab Maliki berpendapat sama seperti ulama Madzhab Hanafi, yaitu mereka membolehkan menghilangkan najis dengan cara mengusap najis yang ada pada barang-barang. Jika barang itu dibasuh, maka hal itu akan menyebabkan rusaknya barang itu seperti pedang, sandal, dan khuf.

5. Mengeringkan dengan Cahaya Matahari atau Udara dan Bekas Najis itu Menjadi Hilang

Cara ini dapat digunakan untuk membersihkan taneih dan semua benda yang melekat pada tanah seperti pohon, rumput, dan batu yang menghampar yang akan digunakan untuk shalat, bukan untuk bertayamum. Tetapi, hal ini berbeda dengan hamparan permadani, tikar, pakaian, tubuh, dan setiap benda yang dapat dipindah. Benda-benda yang dapat dipindah jika terkena najis harus dibasuh untuk membersihkannya.

Tanah yang terkena najis dapat menjadi bersih atau suci dengan cara dikeringkan (di bawah terik matahari atau udara]. Hal ini berdasarkan kepada kaidah yang artinya, "Bersihnya tanah ialah dengan cara mengeringkan- nya."257 Juga, hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar,

"Aku sering tidur di masjid Rasulullah saw ketika aku masih muda dan belum berumah tangga. Aku sering melihat anjing kencing dari berkeliaran dalam masjid. Tetapi, tidak ada siapa pun yang memercikkan air padanya."258
Sebab, dibedakannya antara shalat dan tayamum dalam kasus di atas adalah yang dituntut bagi sahnya shalat adalah suci (thaha rahj. Sedangkan yang dituntut untuk sahnya tayamum adalah, sifat menyucikan (thahu- riyyah). Tanah yang terkena najis apabila kering karena pancaran matahari hanya menghasilkan sifat thaharah (suci) bukan sifal thahuriyyah (menyucikan). Sesuatu yang suci tidak mesti menyucikan. Sedangkan yang menjadi syarat dalam tayamum ialah, tanah yang menyucikan (thahuriyyah at-turab) sama seperti syarat air yang menyucikan [thahuriyyah al-ma’) dalam wudhu.

Ulama selain madzhab Hanafi mengatakan bahwa tanah tidak menjadi suci melalui proses pengeringan (di bawah cahaya matahari atau udara). Tanah yang terkena najis harus dibasuh dengan air. Oleh sebab itu, jika tanah, kolam, sumur, tempat tampungan air dan lain- lain terkena najis (mutanajjisJ, maka ia dapat disucikan dengan cara memperbanyak curahan air, baik dengan air hujan ataupun lainnya. Sehingga, hilanglah zat najis itu, seperti yang diterangkan dalam hadits mengenai seorang Arab badui yang kencing di dalam masjid Nabi Muhammad saw.. Lalu Rasul menyuruh supaya disiramkan air ke atasnya.259

6. Pakaian Panjang yang Dipakai Menyentuh Tanah yang Najis dan Kemudian Menyentuh Tanah yang Suci secara Berulang Kali
Kejadian ini dapat menyucikan pakaian itu, sebab tanah dapat saling membersihkan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, ’’Saya adalah perempuan yang sering memanjangkan pakaian. Saya sering berjalan di tempat yang kotor." Lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya, "la dapat dibersihkan oleh (tanah)yang berikutnya."

Ulama madzhab Maliki dan Hambali sepakat dengan ulama madzhab Hanafi tentang hal ini. Tetapi, Imam asy-Syafi’i menganggapnya bersih jika kain itu menyentuh najis yang kering. Adapun ulama Madzhab Hambali hanya membatasi apabila najis itu sedikit. Jika najis itu banyak, maka kain itu harus dibasuh.

Dikutip dari Fiqih Islam WA ADILLATUHU

Prof. DR. Wahab AZ-Zuhali








comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa