Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag5)
Jenis-jenis Alat Untuk Thaharah (bag5)
10. Membagi benda yang Terkena Najis Benda yang terkena najis dapat dibagi dengan cara memisahkan bagian yang bersih atau suci. Atau, dengan cara memisahkan barang-barang mitsli seperti gandum apabila terkena najis dan membag
Kamis, 13 Desember 2012

10. Membagi benda yang Terkena Najis
Benda yang terkena najis dapat dibagi dengan cara memisahkan bagian yang bersih atau suci. Atau, dengan cara memisahkan barang-barang mitsli seperti gandum apabila terkena najis dan membagi-bagikan kepada para pembeli.
Jika keledai yang mengelilingi padi atau gandum, kemudian gandum itu dibagi ataupun dibasuh sebagian ataupun sebagiannya diberikan kepada seseorang atau dimakan ataupun dijual, maka sisanya menjadi suci.
Barang yang terkena najis kemudian diberikan kepada orang yang berpendapat bahwa bara itu ridak najis, ia dianggap suci. Cara menyingkirkan najis, memberi dan membagi-bagikan pada hakikatnya tudak dianggap sebagai cara menyucikan, tetapi diterima sebagai cara menyucikan atas dasar untuk memberi kemudahan kepada manusia

11. Istihalah
Istihalah ialah perubahan atau berukarnya sendiri benda najis atau perubahan melalui sesuatu. Contohnya, darah kijang bertukar menjadi minyak kasturi, arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya atau melalui sesuatu; seperti bangkai berubah menjadi garam tau anjing yang terjatuh ke tempat garam, tahi binatang yang menjadi abu karena terbakar; minyak yang terkena najis kemudian dijadikan sabun; seperti tanah pembuangan sampah apabila kering dan hilang bekasnya, dan seperti najis yang ditanam di dalam tanah dan bekasnya sudah hilang karena masa yang lama. Ini berdasarkan kepada pendapat Imam Muhammad al-Hasan yang berlawanan dengan pendapat Abu Yusuf. Karena sesuatu najis apabila berubah sifatnya, maka dia tidak menjadi najis lagi. Karena, najis ialah nama bagi suatu zat yagn bersifat tertentu. Oleh sebab itu ia akan hilang dengan hilangnya sifat itu. Jadi hukumnya sama seperti atak yang berubah menjadi cuka. Hukum arak ini disepakati oleh semua madhab.


Arak dan juga tempatnya menjadi suci apabila ia berubah menjadi cuka, baik perubahan tiu terjadi sendiri ataupun karena tempatnya dipindah dari tempat yang teduh ke tempat yang bercahaya atau sebaliknya menurut ulama selain Madzhab Hanafi . alasannya adalah karena najisnya arak yang disebabkan oleh sifat mabuk yang sangat kuat telah hilang, sehingga ia tidak meninggalkan najis. Menurut ulama madzhab syafi’i dan Hambali, arak tidak menjadi suci jika proses menjadi cuka itu melalui pemrosesan seperti memasukan bawang atau roti panas. Karena, bahan yang dimasukkan kedalam arak itu menjadi najis mutanajjis ketika ia terkena arak. Dan selain bahan itu semuanya najis. Oleh sebab itu, sesuatu yang najis ridak akan menjadi suci disebabkan berubah sifatnya atau sebab api. Oleh sebab itu, abu tahi yang najis yang dibakar tetaplah najis, sabun yang dibuat dari minyak najis tetap najis. Demikian juga uap dari air najis yang terkena sesuatu tetap najis. Tanah yang bercampur dengan tahi keledai atau bighal dan binatang-binatang yang tidak boleh dmakan dagingnya adalah najis, meskipun dibakar.


Jika seekor anjing jatuh kedalam tempat pembuatan garam, lalu ia menjadi garam atau jatuh ke dalam tempat membuat sabun lalu ia menjadi sabun, maka ia tetap najis. Tetapi menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama Maliki, mereka mengecualikan abu dan asap najis. Mereka mengatakan bahwa ia adalah suci. Ini adalah menurut pendapat yang mu’tamad.


Dalam kasus arak menjadi cuka namun akibat memindahkannya dari suatu tempat ketempat lain, maka ulama Madzhan hambali mensyaratkan bahwa pemindahan itu buka diniatkan untuk menjadikannya cuka. Jika pemindahannya bertujuan demikian, maka tia tidak bisa suci. Karena menurut hukum, menjadikan arak sebagai cuka adalah haram. Oleh sebab itu, ia tidak menyebabkan munculnya thaharah (suci).


Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa tidak ada barang najis yang dapat menjadi suci disebabkan oleh perubahan sifatnya kecuali tiga jenis.
1. Arak dan juga tempatnya apabila berubah menjadi cuka dengan sendirinya.
2. Kulit, selain kulit anjing dan babi, yang najis karena bangkai, kemudian menjadi suci lahir dan batinnya setelah dimasak.
3. Sesuatu yang berubah menjadi binatang; seperti bangkai apabila menjadi ulat, karena terjadi kehidupan baru







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa