Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Istilah - Istilah Dalam Madzhab Maliki
Istilah - Istilah Dalam Madzhab Maliki
Sama seperti dalam madzhab yang lain, dalam madzhab Maliki juga terdapat banyak pendapat (aqwal). Hal ini untuk menjaga maslahat orang banyak dan mempertimbangkan `uruf yang beragam.
Senin, 24 Desember 2012

Sama seperti dalam madzhab yang lain, dalam madzhab Maliki juga terdapat banyak pendapat (aqwal). Hal ini untuk menjaga maslahat orang banyak dan mempertimbangkan ’uruf yang beragam.
Seorang mufti hendaklah membuat fatwa berdasarkan pendapat yang rajih dalam masalah yang dipersoalkan. Selain mufti yang tidak mempunyai syarat-syarat ijtihad, hendaklah mengikuti pendapat yang disepakati (muttafaq ’alaih), atau mengikuti pendapat yang masyhur dalam madzhab atau pendapat yang telah ditarjihkan oleh orang terdahulu. Jika dia tidak dapat mengetahui mana pendapat yang lebih rajih dari dua pendapat, hendaklah dia mengikut (mengambil] pendapat yang lebih tegas (asyad) karena pendapat itu lebih berhati-hati (ahwath], sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Ulasy (1299 H). Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa orang tersebut boleh memilih pendapat yang lebih ringan dan yang lebih mudah, karena itu lebih sesuai dengan syariat Islam. Sebab, Rasulullah saw. membawa agama yang lurus lagi mudah (sesuai dengan fitrah manusia). Ada juga pendapat yang menetapkan orang tersebut boleh memilih mana yang dia suka, sebab sesuatu yang tidak mampu dilakukan tidaklah dituntut dan tidak dipertanggungjawabkan [la taklif).

1. Sebagian ulama madzhab Maliki menyusun urutan tarjih di antara riwayat-ri- wayat kitab dan riwayat-riwayat tokoh- tokoh madzhab mereka mengikut susunan berikut.
Pendapat Imam Maliki dalam al-Mudawwanah adalah lebih utama daripada pendapat Ibnul Qasim dalam al-Mudaw- wanah tersebut, karena dia adalah imam besar (al-Imam al-A’zham). Pendapat Ibnul Qasim dalam al-Mudawwanah adalah lebih utama dari pendapat ulama lain yang ada di dalamnya. Sebab, dia lebih tahu tentang madzhab Maliki. Pendapat ulama lain dalam al-Mudawwanah adalah lebih utama dari pendapat Ibnul Qasim dalam kitab selain al-Mudawwanah. Karena, al-Mudawwanah adalah kitab yang mengumpulkan pendapat-pendapat yang shahih. Sekiranya dalam al-Mudawawa- nah tidak ditemukan satu pendapat dalam suatu masalah, maka ia dirujuk kepada pendapat-pendapat al-Mukharrijin (para ulama pentakhrij) yang lain.

2. Jika disebut kata al-Madzhab, maksudnya ialah Madzhab Malik. Jika disebut kata al- Masyhur, maka maksudnya ialah pendapat yang masyhur dalam Madzhab Malik. Sebutan ini menunjukkan ada perbedaan pendapat dalam madzhab (dalam masa-lah berkenaan). Menurut pendapat yang mu’tamad, maksud al-Masyhur ialah pen-dapat yang banyak dikatakan oleh ulama.

3. Jika disebut qila kadza (dikatakan begini) atau ukhtulifa fi kadza (diperselisihkan dalam masalah ini) atau fi kadza qaulani fa aktsar (dalam masalah ini ada dua pendapat atau lebih), semuanya berarti bahwa dalam masalah itu ada perselisihan pendapat dalam madzhab.

4. Jika disebut riwayatani artinya dua riwa- yat yang bersumber dari Imam Malik Para pengarang kitab dalam Madzhab Maliki mempunyai pegangan bahwa fatwa hendaklah dibuat dengan pendapat yang mashyur atau pendapat yang rajih. Sedangkan pendapat yang syadz dan pendapat al-marjuh, yaitu pendapat-pendapat yang dhaif, tidak boleh dijadikan fatwa. Bahkan, tidak boleh beramal dengan pen-dapat-pendapat tersebut untuk diri sen- diri, dan perlu mengutamakan pendapat yang lain karena pendapat yang lain itu lebih kuat dalam madzhab.

5. Ada perbedaan pendapat mengenai talfiq atau mencampuradukkan dua madzhab atau lebih dalam satu ibadah. Ada dua aliran pendapat mengenai masalah ini. Pertama, kelompok jrang melarang. Ini adalah pendapat ulama madzhab Maliki yang berada di Mesir (al-Mishriyyun). Kedua, kelompok yang membolehkan. Ini adalah pendapat ulama Maliki yang berada di dunia Islam bagian Barat [al- Magharibah). Dan pendapat yang kedua inilah yang saya rajihkan. Ad-Dasuqi me-riwayatkan dari para gurunya, bahwa menurut pendapat yang shahih, talfiq

seperti ini adalah boleh. Pendapat ini dapat memberi kelonggaran.37 6. M atari al-’Allamah Syeikh Khalil (767 H) dan para pensyarah yang membuat sya- rah kepada matan tersebut dianggap mu’tamad dalam madzhab Maliki, dalam pencatatan pendapat madzhab, riwayat, dan dalam menjelaskan pendapat yang rajih.

Dikutip dari Fiqih Islam WA ADILLATUHU

Prof. DR. Wahab AZ-Zuhal

Jilid 1








comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa