Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » TALFIQ
TALFIQ
Yang dimaksud dengan talfiq adalah melakukan satu amalan yang tidak ada satu mujtahid pun yang berpendapat demikian. Dengan kata lain, apabila seseorang melakukan suatu amalan dengan bertaklid kepada dua madz hab atau lebih,
Kamis, 03 Januari 2013

Yang dimaksud dengan talfiq adalah melakukan satu amalan yang tidak ada satu mujtahid pun yang berpendapat demikian. Dengan kata lain, apabila seseorang melakukan suatu amalan dengan bertaklid kepada dua madz hab atau lebih, kemudian mengakibatkan terbentuknya satu bentuk paket amalan yang tidak ada seorang mujtahid pun baik imam madzhab yang biasa ia ikuti maupun imam madzhab yang baru dia ikuti yang mengakui kebenaran bentuk paket amalan tersebut. Bahkan, imamimam tersebut menetapkan bahwa bentuk amalan campuran itu adalah batal. Hal ini dapat terjadi apabila seorang muqallid menggunakan dua pendapat secara bersamaan dalam melaksanakan satu masalah tertentu.

Atas dasar uraian di atas, maka dapat di simpulkan bahwa yang dinamakan dengan talfiq adalah menggabungkan praktik taklid kepada dua imam atau lebih dalam mengamalkan suatu perbuatan yang mempunyai beberapa rukun dan beberapa bagian, yang antara satu bagian dengan lainnya saling berkaitan, dan setiap bagian tersebut mempunyai hukum tersendiri secara khusus. Dan dalam menetapkan hukum bagianbagian tersebut, para ulama berbeda pendapat. Namun, orang yang talfiq bertaklid kepada seorang di antara ulama tersebut dalam hukum satu bagian saja, sedangkan dalam hukum bagian yang lain dia bertaklid kepada ulama yang lain. Sehingga, bentuk amalan yang dikerjakan itu merupakan gabungan antara dua madzhab atau lebih.

Umpamanya adalah seseorang bertaklid kepada madzhab Syafi’i dalam masalah cukup nya mengusap sebagian kepala saja ketika wudhu, dan pada waktu yang sama dia juga bertaklid kepada madzhab Hanafi atau Maliki dalam hal menyentuh wanita, tanpa ada syahwat dan tanpa ada niat untuk menimbulkan syahwat. Kemudian orang tersebut melakukan shalat. Maka, dapat dikatakan bahwa orang tersebut telah melakukan talfiq. Hal ini karena tidak ada salah satu pun dari imamimam madzhab yang diikuti tersebut mengakui sahnya bentuk wudhu yang dilakukan oleh orang tersebut. Imam asySyafi’i menganggap wudhu tersebut batal karena orang tersebut sudah bersentuhan dengan wanita. Sedangkan Abu Hanifah juga menganggap wudhu itu tidak mencukupi karena orang tersebut tidak mengusap seperempat bagian kepala, sedangkan Imam Malik juga tidak mengakui sahnya wudhu tersebut, karena orang tersebut tidak mengusap keseluruhan kepalanya atau tidak menggosok anggota wudhu dan sebagainya.

Contoh lainnya adalah apabila seseorang bertaklid kepada Imam Malik yang menyatakan bahwa tertawa terbahakbahak dalam shalat tidak membatalkan wudhu. Dalam waktu yang sama, orang tersebut juga bertaklid kepada Abu Hanifah dalam hal tidak batalnya wudhu seseorang, apabila ia menyentuh zakarnya, kemudian orang tersebut shalat. Maka, orang tersebut telah melakukan praktik talfiq, di mana praktik wudhu dan shalatnya tidak sah karena kedua imam tersebut tidak ada yang mengakui keshahihan praktik wudhu dan shalat seperti itu.

Contoh lainnya adalah apabila ada seseorang yang menyewa suatu tempat selama sembilan puluh tahun atau lebih, namun dia belum pernah melihat tempat tersebut. Dalam masalah bolehnya menyewa dalam waktu yang panjang, orang tersebut bertaklid kepada Imam asySyafi’i dan Imam Ahmad, sedangkan dalam masalah bolehnya menyewa barang tanpa melihat barang tersebut terlebih dahulu, orang tersebut bertaklid kepada Imam Abu Hanifah.

Masalahmasalah yang dibolehkan talfiq adalah sama dengan masalahmasalah yang dibolehkan taklid, yaitu masalahmasalah ij tihadiyyah zhanniyyah (yang berdasarkan dugaan kuat). Adapun taklid dan talfiq dalam ke putusankeputusan aksiomatik dalam masalah hukum agama yaitu yang disepakati oleh umat Islam bahwa orang yang menentang keputusan itu dihukumi kafir adalah tidak dibenarkan. Oleh sebab itu, amalan talfiq yang menyebabkan sesuatu yang haram seperti minuman keras dan zina dapat berubah menjadi halal adalah tidak dibolehkan.

Sesungguhnya masalah talfiq di antara pendapat ,madzhab ini dianggap tidak ada oleh ulama muta’akhkhirin setelah abad kesepuluh Hijriyah, dengan alasan bertaklid kepada madzhab selain madzhab yang biasa digunakan adalah boleh. Dan masalah ini tidak pernah dibincangkan sebelum abad ketujuh Hijriyah.
Bolehnya mengamalkan talfiq adalah berdasarkan kepada halhal yang telah kita bahas sebelum ini. Di antaranya adalah mengikuti satu madzhab secara konsisten dalam semua masalah bukanlah suatu kewajiban. Oleh se bab itu, orang yang tidak diwajibkan mengikuti satu madzhab berarti dia boleh melakukan talfiq. Kalau seandainya bemadzhab adalah wajib dan talfiq dilarang, maka akan menyebabkan ibadahibadah yang dilakukan oleh orang awam menjadi batal. Karena, kebanyakan orang awam tidak mempunyai madzhab, kalaupun dia bermadzhab. Maka, madzhab nya dalam berbagai masalah adalah madzhab orang yang memberinya fatwa. Selain itu, dengan dibolehkannya talfiq, maka kita telah membuka pintu kemudahan kepada khalayak ramai.

Bertaklid kepada seorang imam dalam satu permasalahan tidaklah menghalangi seseorang untuk bertaklid kepada imam lain dalam permasalahan yang lain. Kita tidak boleh mengatakan bahwa seorang muqallicl mengamalkan satu bentuk amalan yang tidak diakui oleh dua imam mujtahid yang dianut nya itu, melainkan kita semestinya menganggap apa yang dilakukan oleh muqallid itu sama seperti amalan orang yang meminta fatwa [mustafti), yang dalam amalan tersebut terdapat pendapatpendapat berbagai mufti secara tidak sengaja. Sehingga, prosesnya sama seperti proses berkumpulnya berbagai bahasa dalam lisan orang Arab.

Seorang muqallid tidaklah mengikuti semua imam dalam semua amalannya, melain-kan ia mengikuti dua imam dalam satu masalah tertentu, bukan dalam masalah lain yang dia bertaklid kepada selain dua imam tersebut. Adapun keseluruhan amal tidaklah wajib dipertimbangkan baik dalam ijtihad maupun dalam taklid.
Sebagian ulama ada yang mensyarakan harus menjaga perbedaan pendapat yang ada dalam madzhab (mura’atulkhilaf) untuk membolehkan talfiq. Namun, pendapat ini menyulitkan baik dalam masalah ibadah maupun dalam masalah muamalah. Sikap seperti ini tidak sejalan dengan prinsip kelong garan, kemudahan syariat, dan juga kesesuaiannya dengan kemaslahatan manusia.

Ada juga yang mengklaim adanya ijma yang menetapkan tidak bolehnya talfiq (seperti yang diutarakan oleh Ibnu Hajar dan sebagian ulama Hanafi). Namun, klaim ini memerlukan dalil, dan pada kenyataannya banyak ulama yang berbeda pendapat dalam masalah talfiq ini. Ini merupakan indikasi bahwa ijma tersebut tidaklah wujud.

Imam asySyufsyawani memberi komen tar dalam masalah melakukan satu amalan dengan menggabungkan dua madzhab atau lebih. Dia berkata, "Sesungguhnya para pakar ushul fiqih berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang benar adalah yang membolehkannya." Ulamaulama yang dapat dipercaya juga menginformasikan adanya pertentangan pendapat dalam masalah ini, seperti yang diutarakan oleh alAmir alFadhil al Baijuri. Demikianlah, menurut sebagian besar ulama, klaim ijma yang bersumber dari rangkaian ahad tidak wajib diamalkan. Mungkin yang dimaksud ijma dalam masalah ini adalah kesepakatan sebagian besar ulama, atau kesepakatan ulama dalam madzhab tertentu saja.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa