Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Pendapat Ulama yang Membolehkan Talfiq
Pendapat Ulama yang Membolehkan Talfiq
1. Pendapat ulama Hanafiyah Al-Kamal ibnul Humam dan juga muridnya Ibnu Amir al-Hajj dalam kitab at-Tahrir dan juga syarahnya berkata, "Sesungguhnya seorang muqallid boleh bertaklid kepada siapa saja yang ia kehendaki. Apabil
Minggu, 06 Januari 2013

Berikut ini akan saya uraikan pendapat ulama madzhab yang membolehkan talfiq.86

1. Pendapat ulama Hanafiyah
Al-Kamal ibnul Humam dan juga muridnya Ibnu Amir al-Hajj dalam kitab at-Tahrir dan juga syarahnya berkata, "Sesungguhnya seorang muqallid boleh bertaklid kepada siapa saja yang ia kehendaki. Apabila seorang awam dalam setiap menghadapi permasalahan mengambil pendapat mujtahid yang dianggap ringan olehnya, maka hal yang demikian itu boleh dan saya tidak menemukan dalil yang melarangnya baik dalil naqli maupun aqli. Apabila ada seseorang yang mencari-cari pendapat yang dirasa ringan dari pendapat para mujtahid yang memang mempunyai kelayakan untuk berijtihad, maka saya tidak menemukan dalil bahwa syara mencela sikap seperti ini. Bahkan, Rasulullah saw. suka terhadap hal yang memudahkan umatnya."


Dalam kitab Tanqih al-Fatawa al-Hamidi- yah karya Ibnu Abidin disebutkan bahwa hu- kum dapat ditetapkan dari gabungan berbagai pendapat. Al-Qadhi ath-Thursusi (wafat 758 H) juga membolehkan yang demikian. Mufti Romawi Abus Su’ud al-Amadi (wafat 983 H) dalam Fatawa-nya juga membolehkan. Ibnu Nujaim al-Mishri (wafat 970 H] dalam kitab kecilnya, Fi Bai’ aI-Waqf bi Ghubnin Fakhisyin juga menegaskan bolehnya talfiq. Dalam Fatawa al-Bazaziyah juga disebutkan bolehnya talfiq. Amir Bada Syah (w. 972 H) juga berpendapat bahwa talfiq adalah boleh. Pada tahun 1307 H mufti Nablis, Munib Afandi al-Hasyimi, mengarang kitab kecil mengenai masalah taqlid, di mana beliau mendukung praktik taqlid secara mutlak. Pakar fiqih yang hidup sezaman dengan mufti Nablis, Syekh Abdurrahman al-Bahrawi mengatakan bahwa, "Sesungguhnya pengarah risalah tersebut telah menerangkan perkara yang haq dengan cara yang benar."

 

Kesimpulannya adalah keputusan yang menyebar dan masyhur di kalangan masyarakat menyatakan bahwa talfiq tidak boleh. Namun, banyak ulama yang tidak setuju dengan keputusan itu dan menyatakan bahwa talfiq boleh dengan berdasarkan kepada dalil-dalil yang banyak dan shahih.


2. Pendapat ulama Malikiyah
Pendapat yang paling shahih dan yang di-rajih-kan oleh ulama Maliki yang hidup belakangan (muta’akhkhirun) adalah pendapat yang menetapkan bahwa talfiq adalah boleh. Ibnu Arafah al-Maliki dalam Hasyiyah ’ala asy- Syarh al-Kabir karya ad-Dardir menyatakan bahwa pendapat yang shahih adalah pendapat yang menetapkan bahwa talfiq adalah boleh. Imam al-Adawi juga memfatwakan bahwa talfiq boleh. Syekh ad-Dasuqi juga me-rajih- kan pendapat yang menyatakan bahwa talfiq dibolehkan. Al-Amir al-Kabir juga menginformasikan dari guru-gurunya, bahwa pendapat yang shahih adalah pendapat yang membolehkan talfiq, dan ini merupakan kelonggaran.


3. Pendapat ulama Syafilyah
Sebagian ulama Syafi’i melarang berbagai bentuk talfiq, sedangkan sebagian yang lain hanya melarang kasus-kasus talfiq tertentu yang nanti akan diterangkan. Sedangkan sebagian yang lain lagi, membolehkan talfiq asalkan dalam permasalahan yang dihadapi tersebut terkumpul syarat-syarat yang ditetapkan oleh madzhab-madzhab yang ditaklidi.


4. Pendapat ulama Hanabilah
Ath-Thursusi menceritakan bahwa para qadhi madzhab Hambali melaksanakan hu- kum-hukum yang merupakan produk talfiq.
Demikianlah pendapat-pendapat ulama yang membolehkan talfiq. Saya tidak menyebutkan pendapat ulama-ulama yang berseberangan dengan ulama di atas, baik dalam masalah mengambil madzhab yang paling penting mudah atau dalam masalah tatabbu’ ar rukhash, karena dalam pembahasan ini pendapat ulama - ulama yang bersebrangan tersebut tidak tepat untuk disebut, dan juga karena pendapat-pendapat tersebut tidak didukung dengan dalil.


86 Rasm al-Mufti, jilid 1, hlm. 69; at-Tahrir wa Syarhuh, jilid 1, hlm. 350 dan setelahnya; al-Ihkam fi Tamyiz al-Fatawa ’an al-Ahkam lil- Qarafi, hlm. 250 dan setelahnya;‘Umdatut-Tahqiq fit-Taqlid wat-Talfiq lil-Bani, hlm. 106 dan setelahnya; Muktamar pertama Majma’ Buhuts al-Islami, Makalah Syaikh as-Sanhuri, hlm. 83 dan setelahnya dan Makalah Syaikh ’Abdurrahman al-Qalhud, hlm. 95


Dikutip dari

sumber

 


 

 

 

 

 








comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa