Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Hukum Niat ( Kewajiban Niat )
Hukum Niat ( Kewajiban Niat )
Hukum niat menurut jumhur fuqaha (selain madzhab Hanafi] adalah wajib apa-bila perbuatan yang dilakukan itu tidak sah jika tanpa niat seperti wudhu, rnandi (selain memandikan mayat), tayamum, berbagai macam shalat, zakat, pu
Senin, 14 Januari 2013

B. HUKUM NIAT (KEWAJIBAN NIAT), DALIL-DALIL YANG MEWAJIBKANNYA DAN KAIDAH-KAIDAH SYARA* YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA

Hukum niat menurut jumhur fuqaha (selain madzhab Hanafi] adalah wajib apa-bila perbuatan yang dilakukan itu tidak sah jika tanpa niat seperti wudhu, rnandi (selain memandikan mayat), tayamum, berbagai macam shalat, zakat, puasa, haji, umrah dan sebagainya.

Namun apabila sahnya perbuatan yang dilakukan itu tidak tergantung dengan niat, maka hukum berniat adalah sunnah, seperti ketika mengembalikan barang yang di-gashab (dimanfaatkan tanpa izin oleh yang memilikinya), ketika melakukan perbuatan yang mubah semisal makan minum, dan juga ketika meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang (at-turuk) seperti meninggalkan perkara yang diharamkan dan perkara yang makruh. Karena apabila niat dilakukan, maka hal itu akan menyia-nyiakan waktu dan terhalang untuk melakukan perbuatan yang lebih bermanfaat.

Ulama madzhab Hanafi berpendapat, bahwa niat adalah disunnahkan ketika berwudhu, mandi dan perbuatan-perbuatan lain yang menjadi pembuka (wasilah) untuk sha- lat, supaya mendapatkan pahala. Namun, niat adalah syarat sah shalat sebagaimana yang ditetapkan juga oleh madzhab Maliki dan Hambali.

Penjelasan lebih lanjut mengenai masa- lah ini akan diterangkan pada bab "Niat dalam Ibadah." Hal ini sebagaimana diketahui bahwa ulama telah bersepakat untuk menetapkan bahwa niat untuk shalat adalah wajib, supaya antara ibadah dengan adat kebiasaan dapat dibedakan, dan supaya keikhlasan dapat direalisasikan dalam shalat. Karena, shalat adalah ibadah dan maksud ibadah adalah mengikhlaskan amal dengan menggunkan semua daya upaya orangyang ibadah (al-’abid) hanya untuk Allah SWT.

Dalil wajibnya niat banyak sekali, di anta- ranya adalah firman Allah SWT,

"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." [ al-Bayyinah: 5 ]

Imam al-Mawardi mengatakan bahwa kata al-ikhlaash biasa digunakan oleh orang Arab untuk menunjukkan arti an-niyah.

Dalil lainnya adalah hadits yang disepakati keshahihannya oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Ahmad yang bersumber dari sahabat Umar ibnul Khaththab r.a. dia berkata, "Saya pernah mendengar rasulullah saw bersabda,

 

hadits-1

"Sesungguhnya (sahnya) amal-amal perbuatan adalah hanya bergantung kepada niat- nya, dan sesungguhnya setiap seseorang hanya akan mendapatkan apa yang diniatinya. Ba- rangsiapa hijrahnya adalah karena Allah SWT dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dicatat Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau (menikahi’j wanita, maka hijrahnya adalah (dicatat) sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut."


Imam an-Nawawi mengatakan bahwa ini adalah hadits yang agung dan merupakan sa- lah satu hadits utama yang menjadi sumber ajaran-ajaran Islam. Bahkan, hadits ini adalah hadits yang paling agung dari hadits-hadits tersebut yang jumlahnya adalah empat puluh dua hadits.


Yang dimaksud dengan amal-amal perbuatan (al-a’mal) dalam hadits tersebut adalah amal ketaatan dan amalan syara’ bukan amal/ perbuatan mubah. Hadits di atas menunjukkan bahwa niat adalah syarat ibadah. Karena, kata innama di awai hadits menunjukkan kata ’hanya yang berarti mengukuhkan kedudukan kata yang disebut setelahnya (yaitu an-niyah) dan menafikan yang lainnya. Yang dimaksud al-a’mal di sini bukanlah bentuk sisi luar amal tersebut. Karena, bentuk sisi luar tersebut tetap wujud meskipun tanpa niat. Maksud hadits tersebut adalah hukum suatu amal tidak akan ada tanpa adanya niat. Dengan kata lain, amal-amal syar’i tidak akan diakui tanpa ada niat seperti amalan wudhu, mandi, tayamum, shalat, zakat, puasa, haji, i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Adapun membuang najis, maka tidak memerlukan niat. Karena, dia termasuk pekerjaan meninggalkan, dan amalan meninggalkan (at-tarku) tidak memerlukan niat.


Pada ungkapan "innamal a’malu binniyaat (Sesungguhnya amal-amal perbuatan adalah hanya bergantung kepada niatnyaj dalam hadits di atas, terdapat kata yang disembunyikan. Namun, ulama berbeda pendapat dalam menentukan kata tersebut. Jumhur ulama selain madzhab Hanafi yaitu ulama-ulama yang mensyaratkan niat-mengatakan bahwa kata tersebut adalah kata yang menunjukkan arti sah. Sehingga, maksud ungkapan di atas adalah sahnya amalan adalah bergantung kepada niat. Sehingga, niat adalah syarat sah. Oleh sebab itu, amalan-amalan yang masuk kategori pengantar/perantara (wasilah} seperti wudhu, mandi dll. tidak akan sah tanpa adanya niat. Begitu juga dengan amalan-amalan yang masuk kategori tujuan (maqashid) seperti shalat, puasa, haji, dll..
Sementara itu, ulama madzhab Hanafi yang tidak mensyaratkan niat dalam amalan- amalan kategori wasilah mengatakan bahwa kata yang disembunyikan tersebut adalah kata yang menunjukkan arti sempurna. Sehingga, arti ungkapan di atas adalah sempurnanya amalan adalah beruntung kepada niat. Sehingga, niat adalah syarat bagi sempurnanya amalan supaya mendapatkan pahala.


Ungkapan "innama likullimri’in ma nawa (dan sesungguhnya setiap seseorang hanya akan mendapatkan apa yang diniatinya)" menunjukkan dua perkara.


Pertama, Imam al-Khaththabi mengatakan bahwa ungkapan ini memberikan makna yang berbeda dari ungkapan yang pertama [innamal a’malu bin-niyaat), yaitu makna keharusan menentukan suatu bentuk amalan tertentu (ta’yin an-niyah) ketika berniat. Imam an-Nawawi mengatakan bahwa menentukan suatu bentuk ibadah tertentu ketika berniat [ta’yin al-’ibadah al-manwiyyah) merupakan syarat bagi sahnya ibadah tersebut. Kalau seseorang melakukan shalat qadha, maka dia tidak cukup berniat melakukan shalat yang terlewat, melainkan dia harus menentukan apakah shalat tersebut Zhuhur, Ashar, atau yang lainnya. Kalau seandainya ungkapan yang kedua ini (innama likullimri’in ma nawa] tidak ada dalam hadits, maka niat tanpa ta’yin sudah cukup, sebagaimana yang ditunjukkan oleh ungkapan yang pertama dalam hadits.


Kedua, ungkapan ini juga menunjukkan bahwa penggantian dalam masalah ibadah dan mewakilkan dalam masalah niat adalah tidak boleh. Namun, ada beberapa ibadah yang di- kecualikan, yaitu dalam masalah membagikan zakat kepada orang yang berhak dan dalam masalah penyembelihan hewan korban. Dalam kedua ibadah ini boleh melakukan perwakilan baik dalam niat, penyembelihan, maupun pembagian, meskipun orang yang mewakilkan mampu melakukan niat sendiri. Begitu juga boleh mewakilkan pembayaran utang.


Sebab munculnya hadits ini ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam sth-Thabrani dalam al-MujamuI Kabir dengan sanad tsiqah hingga Ibnu Mas’ud r.a. yang menceritakan bahwa ada lelaki yang melamar perempuan yang bernama Ummu Qais. Namun, perempuan tersebut tidak mau menikah dengan lelaki itu, kecuali kalau lelaki itu mau berhijrah. Maka, lelaki tersebut kemudian berhijrah dan akhirnya dia menikahi perempuan tersebut. Kami pun menjuluki lelaki tersebut dengan Muhajir Ummi Qais.


Kesimpulannya adalah, hadits ini menunjukkan beberapa perkara.

  • Suatu amalan tidak diakui oleh syara’ sehingga ada hubungan dengan masalah dosa dan pahala, kecuali apabila disertai dengan niat.
  • Menentukan (ta’yin) amalan yang diniati secara tepat dan menjelaskan perbedaannya dengan amalan-amalan yang lain, merupakan syarat dalam niat. Oleh sebab itu, tidaklah cukup niat melakukan shalat secara umum, melainkan harus ada penentuan shalat Zhuhur, Ashar, atau Shu- buh misalnya. Ini adalah kesepakatan semua ulama.
  • Barangsiapa berniat melakukan amal sa- leh, kemudian ada sesuatu yang menghalanginya untuk merealisasikan niatnya itu seperti sakit atau mati, maka dia tetap mendapatkan pahala. Karena, orang yang mempunyai kehendak untuk melakukan kebajikan kemudian dia tidak bisa melakukannya diberi pahala satu kebajikan. Dan barangsiapa berkehendak melakukan kejelekan namun dia tidak jadi melakukannya, maka dosa tersebut tidak dicatat. Imam as-Suyuthi berkata, "Barangsiapa bertekad melakukan kemaksiatan, kemudian dia tidak melakukannya atau tidak mengucapkannya, maka dia tidak berdosa."150 Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh imam hadits yang enam dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

 

hadits-2

 

"Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbetik dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana."

 

  • Keikhlasan dalam beribadah dan dalam melakukan amalan-amalan syara’ adalah asas bagi mendapatkan pahala di akhirat, kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia. Dalilnya adalah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam az-Zaila’i bahwa orang yang melakukan shalat membutuhkan niat yang ikhlas.
  • Semua amal yang bermanfaat, atau pekerjaan yang mubah, atau meninggalkan sesuatu yang dilarang apabila disertai dengan niat yang baik dan dimaksudkan untuk melaksanakan perintah Allah, di- anggap ibadah dan akan mendapatkan pahala dari Allah.
  • Apabila tujuan ketika mengerjakan sesuatu adalah untuk disenangi orang, su-paya terkenal atau untuk mendapatkan kemanfaatan duniawi sebagaimana yang dilakukan oleh Muhajir Ummi Qais, maka orang yang melakukannya tidak akan mendapat pahala di akhirat.

 

::. Sumber .::

sumber



Anda akan menikah? buat website pernikahan anda yang dapat anda gunakan untuk undangan online atau informasi pernikahan anda, Gratis hanya di WebNikah.com.
Atau anda mempunyai bisnis dan usaha dalam layanan wedding seperti wedding organizer, Fotografi, Makeup atau fotografi, Gabung juga sebagai Vendor di Webnikah.com dan promosikan layanan anda. Daftarkan Wedding Service anda di Vendor WebNikah.com







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa