Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Tempat Niat ( bagian 1 )
Tempat Niat ( bagian 1 )
Semua ulama bersepakat bahwa tempat niat adalah hati. Niat dengan hanya melafalkannya di lisan saja belum dianggap cukup. Melafalkan niat bukanlah suatu syarat, namun ia disunnahkan oleh jumhur ulama selain madzhab Maliki, de
Selasa, 22 Januari 2013

Semua ulama bersepakat bahwa tempat niat adalah hati. Niat dengan hanya melafalkannya di lisan saja belum dianggap cukup. Melafalkan niat bukanlah suatu syarat, namun ia disunnahkan oleh jumhur ulama selain madzhab Maliki, dengan maksud untuk membantu hati dalam menghadirkan niat. Dengan kata lain, supaya ucapan lisan dapat membantu ingatnya hati. Bagi madzhab Maliki, yang terbaik adalah meninggalkan melafalkan niat, karena tidak ada dalil yang bersumber dari Rasulullah saw. dan sahabatnya bahwa mereka melafalkan niat. Begitu juga, tidak ada infor- masi yang mengatakan bahwa imam madzhab empat berpendapat demikian.

Sebab mengapa niat dalam semua ibadah harus di hati adalah, karena niat merupakan bentuk pengungkapan keikhlasan, dan ke- ikhlasan hanya ada dalam hati, atau karena hakikat niat adalah keinginan. Oleh sebab itu, apabila ada orang yang berniat dengan hati dan juga melafalkan dengan lisan, maka menurut jumhur dia telah melakukan niat dengan cara yang sempurna. Apabila dia melafalkan dengan lisan namun tidak berniat dalam hati, maka tidak mencukupi. Dan jika dia berniat dalam hati, namun tidak melafalkannya dengan lisan, maka niatnya itu cukup. Imam al-Baidhawi berkata, "Niat adalah perasaan hati yang terdorong oleh sesuatu yang ia anggap cocok baik sesuatu itu, berbentuk datangnya suatu manfaat atau tertolaknya suatu kerusakan, baik pada wak- tu sekarang maupun yang akan datang. Niat menurut syara’ dikhususkan untuk menunjuk kepada keinginan yang mengarah kepada perbuatan untuk mendapatkan rida Allah SWT, dan untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya."

Pembicaraan mengenai tempat niat menghasilkan dua poin kesimpulan, yaitu se-bagai berikut.
1. Niat tidak cukup hanya dengan menggunakan lisan tanpa ada keinginan di hati, karena Allah SWT berfirman, "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas (mukhlishin) menaati- Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sha- lat dan menunaikan zakat; dan yang demi-kian itulah agama yang lurus (benar)." (al-Bayyinah: 5)

Tempat ikhlas bukanlah di mulut, melainkan di hati, yaitu dengan cara berniat bahwa amalnya adalah ha-nya untuk Allah SWT saja. Dan juga, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., "Sesunggungnya (sahnya) amal-amal perbuatan adalah hanya bergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya setiap seseorang hanya akan mendapatkan apa yang diniatinya."

Poin ini dapat dikembangkan menjadi dua poin lagi, yaitu:

  • Apabila ada perbedaan antara ucapan lisan dengan suara hati, maka yang diakui adalah suara hati. Kalau seseorang niat berwudhu dengan hatinya, sedangkan lisannya mengatakan mencari kesegaran, maka wudhu orang tersebut sah. Tapi apabila yang berlaku adalah sebaliknya, maka tidak sah. Begitu juga apabila seseorang niat shalat Zhuhur dalam hati, namun lisannya mengatakan shalat Ashar, atau hatinya berniat haji namun lisannya menyebut umrah atau sebaliknya, maka yang dianggap sah adalah apa yang disuarakan oleh hatinya. Dalam kitab fiqih madzhab Hanafi (ial-Qunyah wal-Mujtaba) disebutkan, "Barangsiapa tidak mampu menghadirkan niat dalam hatinya atau dia selalu ragu dalam niat yang dilaku- kan dengan hati, maka cukup bagi- nya melafalkan niat tersebut dengan lisan, karena ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuaidengan kesanggupannya."’ (al-Baqarah: 286)

  • Jika seseorang secara tidak sengaja mengucapkan sumpah "billaahi" maka menurut jumhur ulama selain madzhab Hanafi, sumpahnya tersebut tidak terjadi dan dianggap sumpah main-main yamin al-laghwi), dan tidak ada sangkut pautnya dengan ka- farat (denda) apabila dia melanggar sumpahnya. Begitu juga apabila seseorang mempunyai maksud untuk bersumpah atas sesuatu, namun lisannya keliru mengucapkan sumpah atas sesuatu yang lain, maka sumpahnya juga tidak sah. Ulama madzhab Hanafi162 mengatakan bahwa kasus-ka- sus seperti di atas tetap menyebabkan ditetapkannya kafarat. Sebab, yang dimaksud dengan yamin al-laghwi yang tidak dihukumi dan tidak ada kafaratnya adalah sumpah yang menceritakan tentang kejadian yang telah lewat atau kejadian yang sedang terjadi, dan hati orang yang mengucapkan itu menduga kuat bahwa ucapannya itu sesuai dengan realitas. Namun, ternyata ucapannya itu tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya terjadi.Umpamanya ada seseorang yang berkata, "Wallaahi (demi Allah], saya tidak pernah masuk ru- mah ini." Dia mempunyai dugaan kuat bahwa memang dia tidak pernah masuk rumah tersebut, tapi ternyata keliru. Atau ada orang melihat seekor burung dari jauh, dia menduga bahwa burung itu adalah burung gagak, ke-mudian dia bersumpah dan ternyata burung yang ditunjuk tersebut adalah burung merpati. Sementara menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan yamin al-laghwi adalah sumpah yang diucapkan oleh orang yang bersumpah, baik sumpah itu atas sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, ataupun yang akan terjadi. Namun, sumpah tersebut tidak dimaksudkan sebagai sumpah. Umpamanya adalah ada orang yang berkata tanpa maksud bersumpah, "Tidak, wallahi;" "Betul, wallahi"Ya, dia tadi membaca Al- Qur’an," dan kemudian dari lisannya terlepas ucapan sumpah, namun tidak dimaksudkan sebagai sumpah. Kesimpulannya adalah ulama madzhab Hanafi tidak mengakui keberadaan yamin al-laghwi terhadap per- kara yang akan terjadi. Sumpah yang dilakukan untuk sesuatu apa pun yang akan terjadi, akan tetap dihukumi sebagai sumpah yang sebenarnya, dan orang yang mengucapkannya wajib membayar kafarat jika dia melanggar sumpahnya, baik sumpah tersebut diucapkan dengan sengaja maupun tidak. Menurut ulama madzhab Hanafi, yamin al-laghwi hanya berlaku bagi sumpah atas sesuatu yang su-dah terjadi ataupun yang sedang terjadi saja. Yaitu, ketika orang yang bersumpah menduga kuat bahwa apa yang dikatakannya itu sesuai dengan realitas, namun ternyata tidak.Keterangan di atas adalah berkenaan dengan sumpah dengan asma Allah (billaahi). Adapun dalam masalah talak, memerdekakan budak dan ila’ maka tetap dianggap sebagai haq qadha’i bukan haq diyani. Dengan kata lain, dalam masalah-masalah ini, sisi batiniah tidak dianggap dan urusannya dipasrahkan antara dia dengan Allah SWT. Karena, dalam masalah ini terdapat hak orang lain sesama hamba.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa