Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Tujuan Niat Dan Faktor-Faktornya ( bag 2 )
Tujuan Niat Dan Faktor-Faktornya ( bag 2 )
C. Disyaratkan menyatakan dengan jelas (ta’yin) tentang kefarduan dan tentang ibadahshalat. Dengan ta’yin ini, maka mak- sud niat yaitu supaya ada perbedaan dengan yang lain dapat tercapai, sehingga perlu menyatakan dengan je
Senin, 04 Februari 2013

C. Disyaratkan menyatakan dengan jelas (ta’yin) tentang kefarduan dan tentang ibadahshalat. Dengan ta’yin ini, maka mak- sud niat yaitu supaya ada perbedaan dengan yang lain dapat tercapai, sehingga perlu menyatakan dengan jelas tentang kefardhuan ibadah supaya dia dapat dibedakan dari ibadah yang sunnah.

Pendapat yang ashah juga menetapkan bahwa kewajiban menyatakan dengan jelas (ta’yin) bahwa ibadah yang dilakukan adalah ibadah shalat mempunyai maksud supaya ia dapat dibedakan dari ibadah lain seperti puasa atau yang lain. Pendapat yang ashah juga menetapkan bahwa menyatakan kefardhuan dalam mandi merupakan syarat. Adapun dalam wudhu tidak dianggap sebagai syarat, karena akti- vitas mandi kadang merupakan aktivitas kebiasaan, sedangkan aktivitas wudhu adalah pasti ibadah. Pendapat yang ashah juga menetapkan bahwa apabila dalam niat zakat orang yang melakukannya menggunakan kata sedekah, maka menya-takan kefardhuan adalah syarat. Namun apabila dia menggunakan kata zakat, maka tidak perlu menyatakan kefardhuan. Karena, sedekah ada yang fardhu dan ada juga yang sunnah, sehingga tidak cukup hanya menyebut sedekah saja. Sedangkan amalan zakat dapat dipastikan kefardhuannya, karena zakat memang nama atau istilah yang digunakan untuk amalan fardhu yang berhubungan dengan harta, sehingga tidak perlu diperjelas lagi dengan menyatakan kefardhuan. Adapun haji dan umrah, maka ulama sepakat bahwa menyatakan kefardhuan dengan jelas adalah syarat.

Kesimpulannya adalah ibadah yang niatnya harus dengan menyatakan kefardhuan ada empat macam: [1], Ibadah haji, umrah zakat (dengan menggunakan kata zakat ketika niat) dan shalat berjamaah, tidak disyaratkan menyatakan kefardhuan. [2], Ibadah shalat, shalat Jumat, mandi, dan zakat (dengan menggunakan kata sedekah ketika niat), disyaratkan menyatakan kefardhuan. Ini menurut pendapat yang ashah. [3]. Ibadah wudhu dan pua- sa, tidak disyaratkan menyatakan kefardhuan menurut pendapat yang ashah [4], Tayamum, tidak cukup dengan niat fardhu, bahkan dapat menyebabkan niat tersebut tidak sah menurut pendapat yang shahih, sehingga apabila ada orang niat fardhu tayamum maka tidak cukup.

D. Dalam shalat dan termasuk shalat Jumat tidak disyaratkan menyatakan niat qadha’ atau ada’ menurut pendapat yang ashah.

Menurut pendapat yang rajih, dalam puasa harus dinyatakan niat qadha’. Sedangkan dalam haji dan umrah tidak disyaratkan menyatakan niat qadha’ atau ada’, karena apabila seseorang melakukan haji atau umrah ada’ dengan niat qa- dha’ tidak apa-apa dan akan menjadi haji atau umrah qadha Kalau orang tersebut memang mempunyai tanggungan haji- yaitu haji waktu kecil yang dia batalkan kemudian dia menginjak dewasa dan melakukan haji dengan niat qadha’, maka hajinya menjadi haji ada’.

E. Keikhlasan merupakan faktor yang dapat membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Oleh sebab itu, menggantikan atau mewakilkan niat kepada orang lain adalah tidak sah. Kecuali, dalam ibadah yang memang boleh diganti atau diwakilkan seperti membagikan harta zakat, menyembelilh hewan qurban, puasa menggantikan maut, dan haji. Melakukan niat sendiri ini diwajibkan, karena maksud utamanya adalah untuk menguji kesungguhan niat ibadah yang tersembunyi dalam hati, sehingga harus dilakukan sendiri oleh orang mukallaf.

Aturan menggabungkan niat dua ibadah akan diterangkan dalam pembahasan berikut ini.

Pertama, niat ibadah digabung dengan niat yang bukan ibadah, maka niatnya menjadi batal. Umpamanya adalah menyembelih hewan qurban dengan niat karena Allah dan juga karena yang lain. Niat seperti ini menyebabkan hasil sembelihannya menjadi haram. Contoh lain adalah, apabila seseorang melakukan takbiratul ihram berulangkah dan setiap takbiratul ihram dia niat memulai sha- latnya, maka shalatnya batal karena niat yang pertama menjadi terputus.

Tapi, ada juga yang tidak menyebabkan batalnya niat. Umpamanya adalah ketika berwudhu atau mandi wajib seseorang juga berniat mencari kesegaran, maka menurut pendapat yang ashah adalah sah niatnya. Karena, kesegaran akan tetap diperoleh baik dikehendaki atau tidak, sehingga kalau memang dikehendaki, maka ia tidak dianggap menduakan niat ibadah dengan niat yang lain. Dan juga tidak dianggap meninggalkan keikhlasan, melainkan niat tersebut adalah untuk ibadah yang memang kesejukan itu menyertai amalan ibadah tersebut.

Kedua, niat ibadah fardhu digabung dengan niat ibadah lain yang sunnah. Ada banyak kemungkinan dalam kasus ini.
  • Tidak menyebabkan batalnya niat dan kedua-duanya dapat diperoleh. Umpamanya adalah seseorang melakukan takbiratul ihram dan dia niat melakukan shalat fardhu dan juga niat shalat tahiyyatul masjid, maka niatnya sah dan dia mendapatkan keduanya. Contoh lain adalah niat mandi jinabah dengan mandi Jumat secara bersamaan, maka kedua-duanya sah. Orang yang mengucapkan salam di akhir shalat dengan niat keluar dari shalat dan juga niat memberi salam kepada orang-orang yang hadir, maka kedua-dua niatnya tersebut sah. Kalau seseorang melakukan haji fardhu dan menggabungkannya dengan umrah sunnah atau sebaliknya, maka kedua-duanya sah. Kalau seseorang ketika puasa hari Arafah niat melakukan puasa qadha’, nadzar, atau kafarat, maka niatnya sah dan dia mendapatkan semuanya. 

  • Mendapatkan yang fardhu saja. Umpamanya adalah seseorang niat haji fardhu dan haji sunnah, maka yang sah adalah niat haji fardhu. Karena apabila dia berniat dengan niat haji sunnah, maka hajinya akan menjadi haji fardhu. Kalau seseorang melakukan shalat yang sudah terlewat pada malam Ramadhan, dan dalam waktu bersamaan dia niat shalat Tarawih, maka yang sah adalah niat shalat yang terlewat bukannya Tarawih.

  • Mendapatkan yang sunnah saja. Umpamanya adalah seseorang mengeluarkan uang sebanyak lima dirham, dia niat mengeluarkan zakat dan juga niat mengeluarkan sedekah sunnah, maka zakatnya ridak sah, dan yang sah adalah sedekah sunnahnya. Kalau seandainya orang melakukan khotbah dengan . niat khotbah i umat dan khotbah Kusuf maka niat Khotbah Jumatnya tidak sah. Karena, dalam amalan seperti ini ada unsur menduakan perkara fardhu dengan perkara sunnah.

  • Menyebabkan batal semuanya. Umpamanya adalah imam sedang dalam keadaan ruku’ dan makmum masbuq (makmum yang terlambat) melakukan takbir sekali dengan niat takbiratul ihram dan takbir rjrun menuju posisi ruku’, maka shalatnya : dak sah. Kalau ada orang niat shalat rardhu dan shalat sunnah ratibah, maka semuanya tidak sah.

Ketiga, niat perkara fardhu digabung "dengan perkara fardhu yang lain. Apabila itu dilakan antara niat haji dan niat umrah atau antara niat mandi dan niat wudhu, maka kedua-duanya sah, menurut pendapat yang ashah.

Keempat, niat perkara sunnah digabung dengan perkara sunnah yang lain, maka kedua- duanya tidak sah. Karena dua perkara sunnah, apabila salah satunya tidak dapat masuk dalam yang lainnya, maka dua-duanya tidak sah ketika digabungkan. Umpamanya adalah antara sunnah dhuha dan sunnah fajar yang dilakukan secara qadha’. Namun apabila salah satunya dapat masuk ke dalam yang lainnya, seperti antara sunnah tahiyyatul masjid dan sunnah zhuhur, maka kedua-duanya sah.

Namun ada beberapa kasus yang dike- cualikan, yaitu apabila seseorang niat mandi Jumat dan mandi ‘Id, maka kedua-duanya sah. Begitu juga apabila seseorang melakukan khotbah dengan niat khotbah ’Id dan khotbah kusuf secara bersamaan, maka kedua-duanya sah. Sama seperti apabila seseorang niat puasa hari Arafah dan niat puasa Senin, maka kedua- duanya juga sah.

Kelima, niat perkara yang bukan ibadah digabung dengan perkara yang lain dan dua perkara tersebut mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda. Umpamanya adalah lelaki berkata kepada istrinya, "Kamu adalah haram untukku" dengan niat talak dan zhihar, maka menurut pendapat yang ashah orang tersebut disuruh memilih antara dua hal tersebut, mana yang dia pilih maka itulah yang berlaku.

Kesimpulannya adalah niat mempunyai beberapa faktor pembentuk, yaitu [1]. Kehen- dak (al-qashduj; [2]. Kefardhuan bagi ibadah shalat fardhu yang lima, mandi, zakat yang dilafalkan dengan kata sedekah; [3]. Menyatakan dengan jelas jenis yang diniati (ta’yin), jika memang yang diniati tersebut mempunyai kesamaan dengan amalan-amalan lain; [4], Keikhlasan, oleh sebab itu tidak boleh mewakilkian niat kecuali dalam amalam yang boleh digantikan atau diwakilkan.

Hukum asal dalam masalah niat adalah tidak boleh menggabungkan dua amalan ibadah dengan satu niat, kecuali beberapa ibadah yang dikecualikan.

--oooOOO Sumber OOOooo--
Sumber







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa