Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Niat Dalam Perkara - Perkara Mubah dan Adat Kebiasaan
Niat Dalam Perkara - Perkara Mubah dan Adat Kebiasaan
Perkara-perkara mubah dan adat kebiasaan yang dilakukan oleh manusia dalam setiap hari bisa mempunyai karakter yang berbeda- beda sesuai dengan niat dan tujuannya. Jika perbuatan-perbuatan tersebut didorong oleh ketakwaan ata
Senin, 04 Maret 2013

M. NIAT DALAM PERKARA-PERKARA MUBAH DAN ADAT KEBIASAAN

Perkara-perkara mubah dan adat kebiasaan yang dilakukan oleh manusia dalam setiap hari bisa mempunyai karakter yang berbeda- beda sesuai dengan niat dan tujuannya. Jika perbuatan-perbuatan tersebut didorong oleh ketakwaan atau taat kepada perintah Allah, maka hal itu dianggap sebagai ibadah. Namun jika tidak didorong oleh niat yang sedemikian, maka ia tidak dianggap sebagai ibadah dan tidak berpahala. Atas dasar ini, maka perbuatan-perbuatan mubah seperti makan, minum, tidur, mencari rezeki, berhubungan badan dengan istri, begitu juga perbuatan-perbuat- an yang berbentuk meninggalkan [at-tarku) seperti meninggalkan zina, meninggalkan khamr, semuanya ini tidak memerlukan niat. Perbuatan-perbuatan ini juga tidak akan menjadi ibadah, kecuali jika diniati sebagai ibadah. Umpamanya adalah makan dan minum dengan niat supaya kuat melakukan ketaatan, melakukan hubungan badan dengan istri dengan niat untuk menjaga kemuliaan dirinya dan juga kehormatan istrinya atau niat supaya mendapat keturunan yang taat kepada Allah. Begitu juga dengan meninggalkan zina dan khamr, dengan niat meninggalkan larangan syara’.

Oleh sebab itu, semua perbuatan yang bisa menjadi ibadah perlu diniati ibadah supaya ia menjadi ibadah dan berpahala. Inilah yang dimaksud oleh hadits "innamal a’maalu bin-niyaat."

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ar-Ramli, orang yang melakukan perbuatan mubah dan adat kebiasaan hendaklah menyatakan dan menghadirkan niatnya itu supaya dia mendapatkan pahala ibadah. Dan untuk melakukan itu tidaklah susah. Bahkan, akan terasa nikmat dan disenangi oleh jiwa. Mahasuci Allah atas anugerahnya yang agung. Dan betapa luasnya rahmat dan anugerah- Nya. Allah menghalalkan perkara-perkara baik yang disenangi oleh jiwa, dan kemudian Dia memberi pahala apabila perkara itu diniati dengan niat yang baik, sebagaimana Dia juga memberi pahala kepada orang yang me-laksanakan ibadah yang memang dituntut- Nya. Segala puji hanyalah milik Allah, tidak ada tuhan selain-Nya, dan tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Nya.

Oleh sebab itu, pada waktu pagi dan petang setiap orang disunnahkan untuk membaca doa di bawah ini, supaya semua amalan mubah dan perbuatan meninggalkan maksiat mendapat pahala. Doa tersebut adalah,
yang artinya " Ya Allah, semua perbuatan yang aku lakukan di siang hari ( di malam hari ) yang termasuk amal kebaikan, maka itu adalah untuk memenuhi perintah-MU. dan semua kemaksiatan yang aku tinggalkan, adalah untuk meninggalkan larangan - larangan-Mu."

 







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa