Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Bab Najis ( bag 2 )
Bab Najis ( bag 2 )
a. Najis yang Disepakati dan yang Dipertikaikan oleh Ulama 1. Najis yang Disepakati oleh Ulama Madzhab Para fuqaha telah bersepakat mengenai najisnya perkara-perkara berikut:
Senin, 11 Maret 2013

a. Najis yang Disepakati dan yang Dipertikaikan oleh Ulama

1. Najis yang Disepakati oleh Ulama Madzhab
Para fuqaha telah bersepakat mengenai najisnya perkara-perkara berikut:

(a) Babi
Babi adalah najis meskipun disembelih secara syara’, karena ia dihukumi sebagai najis ’ain (najis pada dirinya) melalui nash Al- Qur’an. Maka, daging dan juga semua bagian badannya seperti bulu, tulang, dan kulit dihukumi najis meskipun kulitnya disamak.

(b) Darah
Darah manusia selain darah orang yang mati syahid, dan darah binatang selain binatang laut, yang mengalir keluar dari tubuhnya baik semasa hidupnya ataupun sesudah matinya, jika memang ia mengalir banyak, maka darah tersebut dihukumi najis. Oleh sebab itu, darah orang yang mati syahid selama darahnya masih berada di badannya tidaklah termasuk najis. Begitu juga darah ikan, jantung, limpa, dan hati dan semua darah yang berada dalam saraf binatang sesudah ia disembelih selama ia tidak mengalir, juga tidak termasuk ke dalam hukum najis. Begitu juga darah kutu dan kepinding, meskipun banyak menurut pendapat Madzhab Hanafi.

Darah yang mengalir adalah najis, meskipun ia keluar dari binatang seperti ikan, lalat, dan kutu anjing. Ini adalah menurut ulama Madzhab Maliki dan Syafi’i.

Berdasarkan perbedaan pendapat ini, maka memakan ikan yang diasinkan (fasikh) yang disusun secara bertindih-tindih dalam keadaan darah masing-masing ikan itu masih mengalir dari seekor kepada yang lainnya, adalah tidak boleh menurut pendapat ulama Madzhab Syafi’i, dan juga menurut pendapat yang terkuat di kalangan ulama Madzhab Maliki. Kecuali, ikan-ikan yang berada di lapisan atas saja ataupun ikan yang diduga berada di bagian atas atau yang ada di tempat lainnya.

Menurut ulama Madzhab Hanafi dan Ibnul Arabi dari Madzhab Maliki, semua ikan itu boleh dimakan. Karena menurut pendapat mereka, apa yang keluar dari badan ikan itu bukanlah darah, melainkan ia adalah benda basah. Oleh sebab itu, ia dihukumi bersih.

(c) Air Kencing, Muntah dan Tahi Manusia
Semuanya dihukumi najis kecuali air kencing anak-anak lelaki yang masih menyusu. Karena menurut pendapat ulama Madzhab Syafi’i dan Hambali, cara membersihkannya adalah cukup dengan memercikkan air ke atasnya saja. Air kencing binatang yang tidak dimakan dagingnya, tahi, dan juga muntah binatang juga dihukumi najis. Kecuali tahi burung, air kencing tikus, dan kelelawar menurut pendapat ulama Madzhab Hanafi. Karena, air kencing tikus amat sulit untuk dielakkan, sementara kelelawar juga sering kencing di udara (semasa ia terbang). Oleh sebab itu, kedua-duanya digolongkan ke dalam najis yang dimaafkan jika terkena pakaian ataupun ketika masuk ke dalam makanan. Tetapi tidak dimaafkan, jika masuk ke dalam air dalam bejana. Selain itu, apa saja yang keluar dari dubur binatang hukumnya adalah najis.

(d) Arak
Arak adalah najis menurut pendapat kebanyakan fuqaha berdasarkan firman Allah SWT, "Bahwa sesungguhnya arak dan judi dan pemujaan berhala dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah adalah kotor (keji) dari perbuatan setan." (al-Maa’idah: 90)

Namun, terdapat sebagian ahli hadits yang mengatakan bahwa ia adalah bersih. Arak menurut pendapat jumhur ulama dan pendapat yang mu’tamad dari kalangan ulama madzhab Hanafi adalah mencakup semua cairan yang memabukkan.

(e) Nanah
Nanah ialah sejenis darah yang rusak, yang tidak bercampur dengan darah biasa yang tidak rusak. Ia adalah najis, karena pada asalnya ia adalah darah yang berubah. Begitu juga ash-Shadid, yaitu sejenis cairan yang bercampur dengan darah. Kedua-duanya dihukum: najis jika kadarnya banyak dan dimaafkan jika hanya sedikit.

(f) Air Madzi dan Wadi
Madzi ialah cairan berwarna putih yang keluar tanpa memuncrat pada saat memuncaknya nafsu seseorang, ataupun ketika ia teringat aktivitas persetubuhan. Ia dihukumi najis karena terdapat perintah membasuh dzakar dan perintah berwudhu dalam hadits riwayat Ali r.a., "Saya adalah lelaki yang kuat keluar air madzi. Saya malu untuk bertanya kepada Rasulullah saw.. Lalu saya menyuruh al-Miqdad ibnul Aswad bertanya kepada beliau. Dia pun bertanya dan Rasul menjawab, ’Diwajibkan berwudhu."’ Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, "Hendaklah membasuh dzakarnya dan hendaklah berwudhu."

Wadi ialah air putih pekat yang keluar setelah air kencing ataupun ketika menang-gung sesuatu yang berat. Ia juga dihukumi najis karena ia keluar bersama-sama air kencing ataupun sesudahnya. Oleh sebab itu, ia dihukumi sama seperti air kencing.

Pasir ataupun batu yang keluar setelah air kencing. Apabila menurut keterangan dokter yang adil bahwa ia berasal dari air kencing, maka dihukumi najis. Jika tidak, maka dihukumi sesuatu yang mutanajjis (terkena najis) yang dapat dibersihkan dengan cara membasuhnya.

(g) Daging Bangkai Binatang Darat yang Berdarah Mengalir
Yang dimaksud dengan binatang tersebut adalah segala jenis binatang darat baik yang boleh dimakan dagingnya ataupun yang tidak seperti anjing, kambing, kucing, burung- burung kecil, dan seumpamanya. Kulit bangkai yang belum disamak juga disamakan hukumnya. Ini adalah menurut pendapat ulama Madzhab Hanafi. Ulama selain mereka mengatakan bahwa semua bagian bangkai selain mayat manusia seperti tulang, bulu, dan lain- lainnya dihukum najis, karena setiap bagian itu merupakan bagian yang hidup (sebelum ia menjadi bangkai).

(h) Daging dan Susu Binatang yang tidak Boleh Dimakan
Daging binatang yang tidak boleh dimakan dan juga susunya dihukumi najis, karena susu itu berasal dari dagingnya. Oleh sebab itu, ia mengikut hukum dagingnya.

(i) Bagian Anggota yang Terpisah
Yang dimaksud adalah bagian anggota yang terpisah ataupun yang terputus dari badan binatang semasa masih hidup, seperti tangan dan ekor atau punggungnya, kecuali bulu dan seumpamanya. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw.,

"Bagian mana pun dari badan binatang yang terputus atau terpotong ketika ia masih hidup, maka ia dianggap sebagai bangkai."







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa