Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Bab Najis ( bag 3 )
Bab Najis ( bag 3 )
2. Najis yang Diperselisihkan oleh Ulama Para fuqaha berselisih pendapat mengenai hukum najis dalam beberapa perkara. [a] Anjing Menurut pendapat yang ashah dari kalangan ulama madzhab Hanafi, anjing bukanlah najis `ain kare
Rabu, 13 Maret 2013

2. Najis yang Diperselisihkan oleh Ulama
Para fuqaha berselisih pendapat mengenai hukum najis dalam beberapa perkara.

[a] Anjing
Menurut pendapat yang ashah dari kalangan ulama madzhab Hanafi, anjing bukanlah najis `ain karena ia berguna untuk penjagaan dan buruan, tidak seperti babi di mana ia adalah najis `ain karena huruf ha` yang terdapat dalam surah al-An`aam ayat 145 ditujukan kepadanya (babi], karena kedudukannya yang lebih dekat dengan huruf ha` itu. Mulut, air liur, dan tahi anjing saja yang dihukumi najis. Namun semua bagian badannya yang lain tidak dapat diqiyaskan dengan mulutnya. Oleh sebab itu, tempat yang dijilat anjing mestilah dibasuh sebanyak tujuh kali,366 karena Nabi Muhammad saw. bersabda,

Apabila seekor anjing meminum dari be¬jana salah orang dari kamu, maka basuhlah bejana itu sebanyak tujuh kali

 

 

 

"Apabila seekor anjing meminum dari bejana salah orang dari kamu, maka basuhlah bejana itu sebanyak tujuh kali."


Menurut riwayat Imam Ahmad dan Muslim, redaksinya adalah seperti berikut.
"Bejana salah seorang dari kamu yang dijilat anjing menjadi bersih jika dibasuh sebanyak tujuh kali, dan basuhan yang pertama adalah dengan tanah."


Ulama madzhab Maliki berkata bahwa, semua anjing-baik yang boleh digunakan untuk penjaga dan buruan ataupun yang tidak boleh, hanya jilatannya saja yang wajib dibasuh sebanyak tujuh kali secara ta`abbudi. Ini adalah menurut pendapat yang masyhur dari kalangan mereka. Sehingga, tidak wajib membasuh tujuh kali apabila anjing itu hanya memasukkan kakinya ataupun memasukkan lidahnya ke dalam sesuatu bejana air, tapi tanpa menggerakkannya ataupun tanpa terjatuh air liurnya.


Ulama madzhab Syafi`i dan Hambali berkata bahwa anjing, babi, dan keturunan yang lahir dari keduanya, termasuk kotoran dan keringatnya adalah najis `ain. Oleh sebab itu, apa saja yang disentuh oleh binatang itu hendaklah dibasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya adalah dengan debu. Karena, hukum najisnya mulut anjing telah ditetapkan berdasarkan nash hadits yang telah lalu.


Meskipun mulut adalah anggota badan yang terbaik pada diri binatang itu karena ia sering membuka mulut dan mengeluarkan lidahnya, tetapi ia tetap dihukumi najis. Oleh sebab itu, bagian badannya yang lain juga dihukumi najis.


Dalam hadits lain tentang najis yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Hakim bahwa Nabi Muhammad saw. diundang ke rumah suatu kaum. Beliau memenuhi undangan itu. Kemudian beliau diundang juga ke rumah yang lain, lalu beliau tidak mau memenuhi undangan itu. Oleh sebab itu, beliau ditanya tentang tindakannya itu dan beliau menjawab, "Dalam rumah si fulan terdapat seekor anjing." Lalu beliau diberi tahu bahwa di dalam rumah si fulan juga terdapat seekor kucing. Beliau menjawab, "Sesungguhnya kucing tidaklah najis." Atas dasar ini, maka dapat dipahami bahwa anjing itu adalah najis.

[B]. Bangkai Binatang Air dan Binatang yang tidak Berdarah Mengalir

Insya Allah di lanjut besok. :)







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa