Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Jenis - Jenis Najis Yang Haqiqi
Jenis - Jenis Najis Yang Haqiqi
a) Najis Mughallazhah dan Mukhaffafah Najis mughallazhah (berat) ialah najis yang hukumnya ditetapkan melalui dalil qath`i, (yaitu dalil yang jelas dari Al-Quran dan Sunnah al-Mutawatirah) seperti darah yang mengalir,
Rabu, 27 Maret 2013

B. Jenis Jenis Najis Yang Haqiqi

1. Pembagian Najis Menurut Ulama

Pembagian najis menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, yaitu sebagai berikut.
a) Najis Mughallazhah dan Mukhaffafah
Najis mughallazhah (berat) ialah najis yang hukumnya ditetapkan melalui dalil qath’i, (yaitu dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah al-Mutawatirah) seperti darah yang mengalir, tahi, air kencing binatang yang dagingnya tidak boleh dimakan, meskipun binatang itu masih kecil dan belum memakan makanan apa pun, arak, tahi burung yang tidak berak di udara seperti ayam, itik dan angsa, daging bangkai dan kulitnya, tahi anjing, tahi binatang buas dan air liurnya, muntah yang memenuhi mulut, dan apa saja yang membatalkan wudhu yang keluar dari badan manusia seperti tahi, air mani, air madzi, dan juga darah yang mengalir.

Najis-najis tersebut dimaafkan dalam shalat jika kadarnya hanya sebesar ukuran koin dirham ataupun kurang dari kadar itu (yaitu ukuran satu dirham besar untuk ka-dar timbangan, dan untuk kadar ukuran luas maka ia adalah sekadar lebar telapak tangan menurut pendapat yang shahih). Karena, kadar sedikit menyebabkannya sulit untuk dihindari. Kadar minimal dirham ini diukur sebesar ukuran tempat istinja’. Tetapi jika najis-najis tersebut melebihi kadar satu dirham, maka tidak boleh shalat dengan jumlah najis tersebut.

Najis mukhaffafah (ringan) adalah najis yang hukumnya ditetapkan melalui dalil yang tidak qath‘i, seperti air kencing binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya seperti kuda dan seperti tahi unggas yang tidak boleh dimakan dagingnya. Adapun tahi unta, kambing, tahi kuda, bighal, himar dan tahi lembu, semuanya adalah najis mughallazhah menurut pendapat Abu Hanifah. Adapun Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani berkata, semuanya adalah najis mukhaffafah, dan pendapat mereka berdua adalah pendapat yang azhhar. Karena, keadaan seperti itu telah menjadi kesulitan umum (umum al-balwa) di jalan raya yang sukar dihindari. Sementara itu Muhammad akhirnya, menganggapnya bersih, dan dia berkata, "Tidak menjadi halangan meskipun ia jijik ketika dipandang." Pada zaman kita ini, jalan raya sering dipenuhi dengan najis, maka najis itu dihukumi sebagai najis mukhaffafah.

Najis mukhaffafah dimaafkan dalam- shalat jika kadar yang mengenai pakaian itu sekadar seperempat saja, ataupun sekadar seperempat anggota seperti apabila terkena najis pada tangan dan kaki jika yang terkena itu adalah anggota badan. Kadar ini dipertimbangkan untuk kemudahan banyak orang, terutama bagi orang awam yang tidak mempunyai pendapat yang dipegangi.

b) Najis yang Padat dan Najis yang Cair
Najis yang padat ialah seperti bangkai dan tahi. Adapun najis yang cair ialah seperti air kencing, darah yang mengalir, dan air madzi.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa