Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Cara Mensucikan Najis Yang Haqiqi Dengan Air ( Bag 5)
Cara Mensucikan Najis Yang Haqiqi Dengan Air ( Bag 5)
c. Mencurahkan ataupun Menuangkan Air ke Atas Najis (dan Membasuh Wadah) Ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa tidak disyaratkan mencurahkan air ataupun menuangkannya ke tempat yang terkena najis. Oleh sebab itu, pakaian ya
Kamis, 18 April 2013

c. Mencurahkan ataupun Menuangkan Air ke Atas Najis (dan Membasuh Wadah)

Ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa tidak disyaratkan mencurahkan air ataupun menuangkannya ke tempat yang terkena najis. Oleh sebab itu, pakaian yang terkena najis ataupun badan yang terkena najis dapat dibersihkan di dalam wadah-wadah dengan cara mengganti airnya sebanyak tiga kali, dan basuhan itu hendaklah diperah setiap kali air ditukar. Wadah itu hendaklah dibasuh sebanyak tiga kali sesudah basuhan pertama yang digunakan untuk membasuh pakaian pada badan yang terkena najis, dan hendaklah wadah itu dibasuh dua kali setelah basuhan yang kedua. Hendaklah wadah itu dibasuh sekali setelah basuhan yang ketiga. Ini jika basuhan itu dilakukan dalam satu wadah saja.

Tetapi jika basuhan itu dilakukan dalam tiga wadah, maka setiap wadah hanya perlu ditukar airnya sekali saja.
Cara yang baik sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Abidin mengenai cara pembersihan najis yang dapat dilihat ialah dengan cara menghilangkan zat najisnya, meskipun hanya dengan sekali basuhan dan meskipun dilakukan dalam satu wadah, dan tidak disyaratkan diulang tiga kali basuhan dan perahan. Adapun najis yang tidak dapat dilihat, maka cara yang baik untuk membersihkannya adalah hingga munculnya keyakinan mengenai bersihnya, tanpa mengaitkannya dengan bilangan basuhan tertentu. Ini menurut apa yang telah difatwakan. Namun menurut pendapat yang lemah, pembersihan ini disyaratkan tiga kali basuhan.

Adapun yang telah menjadi fatwa di kalangan ulama madzhab Hanafi adalah hampir sama dengan pendapat ulama madzhab Maliki yang mengatakan wajib dihilangkan zat najis yang akan dibersihkan.

Ulama madzhab Syafi’i-menurut pendapat yang ashah-mengatakan bahwa untuk membersihkan najis itu disyaratkan mengalirkan air saja tanpa memerah. Yaitu, disyaratkan mengalirkan air ke atas tempat yang terkena najis, jika air itu sedikit agar air itu tidak menjadi najis. Jika sebaliknya, maka air akan menjadi najis hanya karena najis terjatuh ke dalamnya. Oleh sebab itu, jika pakaian dimasukkan ke dalam suatu bejana basuhan dan di dalamnya terdapat darah yang dimaafkan, lalu dicurahkan air ke dalam bejana itu, maka air itu akan menjadi najis karena bercampur dengan darah itu.

Seseorang wajib melebihkan air berkumur ketika dia membasuh mulutnya yang terkena najis, dan ia haram menelan makanan sebelum membersihkan mulutnya.

Oleh sebab itu, ulama madzhab Hanafi bersepakat dengan para ulama madzhab lain mengenai benda yang terkena najis, jika dibasuh dalam air yang mengalir ataupun dibasuh dalam air yang banyak yang sama hukumnya dengan air yang mengalir, dituangkan banyak air ke atasnya, ataupun air dialirkan ke atasnya, maka ia akan menjadi bersih tanpa disyaratkan pemerahan, pengeringan, ataupun pengulangan menenggelamkannya ke dalam air. Karena, mengalirkan air di tempat yang terkena najis sudah dianggap sama dengan mengulangi pembasuhan dan juga pemerahan.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa