Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » ISTINJA
ISTINJA
C. ISTINJA 1. PENGERTIAN ISTINJA DAN PERBEDAANNYA DENGAN ISTIBRA SERTA ISTIJMAR Perkataan istinja` menurut bahasa ada dua perbuatan yang dilakukan untuk menghilangkan najis, yaitu tahi. Adapun menurut istilah syara istinja a
Rabu, 01 Mei 2013

C. ISTINJA
1. PENGERTIAN ISTINJA DAN PERBEDAANNYA DENGAN ISTIBRA SERTA ISTIJMAR

Perkataan istinja` menurut bahasa ada dua perbuatan yang dilakukan untuk menghilangkan najis, yaitu tahi. Adapun menurut istilah syara istinja adalah perbuatan yang dilakukan untuk menghilangakan najis dengan menggunakan benda seperti air atau batu. Jadi, istinja` berarti`menggunakan batu atau air.

Istinja` dapat diartikan juga sebagai tindakan menghilangkan najis yang kotor meskipun najis tersebut jarang keluar seperti darah, air madzi, dan air wadi. Pembersihan itu juga bukan dilakukan begitu saja, melainkan dilakukan ketika ada keperluan saja, yaitu dengan menggunakan air ataupun batu.

Istinja` juga dapat diartikan perbuatan membersihkan najis yang keluar dari qubul ataupun dubur. Oleh sebab itu, ia bukanlah untuk menghilangkan najis akibat angin (kentut), karena bangun tidur, atau karena berbekam. Benda yang digunakan untuk istinja` ataupun istithabah adalah air ataupun bahan lain yang dapat digunakan untuk menghilangkan najis.

Adapun istijmar adalah membersihkan najis dengan menggunakan batu dan yang semacamnya. Perkataan istijmar berasal dari kata al-jamarat yang berarti `bebatuan`

Sedangkan istibra` adalah membersihkan dari sesuatu yang keluar baik dari kemaluan depan ataupun belakang. Sehingga, ig yakin bahwa sisa-sisa yang keluar itu sudah hilang. Ia dapat diartikan juga sebagai membersihkan tempat keluar najis dari sisa-sisa percikan air kencing.

Istinzah adalah menjauhkan diri dari kotoran, dan ia mempunyai arti yang sama dengan istibra`.
Istinqa` adalah membersihkan, yaitu dengan cara menekan bagian belakang tubuh yang biasanya digunakan untuk duduk dengan menggunakan batu ataupun dengan jari ketika ber-istinja` dengan air.

Semua cara ini adalah untuk membersihkan najis, dan seseorang tidak boleh mengambil wudhu melainkan sesudah dia yakin bahwa sisa air kencingnya sudah tidak ada lagi.


           Sumber
 
   
                                                                                             
                     
                     
                     
Penerbit
Penerjemah
Penyunting
Penerbit
: Darul Fikr, Damaskus - 2007 M - 1428 H
: Abdul Hayyie al-Kattani, dkk.
: Budi Permadi
: GEMA INSANI







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa