Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Sunah Sunah Wudhu
Sunah Sunah Wudhu
Ulama madzhab Hanafi membedakan antara perkara sunnah dan mandub. Mereka mengatakan bahwa sunnah adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, yaitu amalan yang di-laksanakan oleh Nabi Muhammad saw.
Jum'at, 20 September 2013

Ulama madzhab Hanafi membedakan antara perkara sunnah dan mandub. Mereka mengatakan bahwa sunnah adalah sesuatu yang sangat dianjurkan, yaitu amalan yang di-laksanakan oleh Nabi Muhammad saw. secara berterusan yang hanya kadang-kadang diting-galkan oleh beliau tanpa uzur. Hukumnya adalah diberi pahala apabila dilakukan dan dicela apabila ditinggalkan.

Adapun mandub dan mustahab adalah amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. secara tidak berterusan. Di sini ia dikenal sebagai adab-adab wudhu. Hukumnya diberi-kan pahala apabila dilaksanakan dan tidak dicela apabila ditinggalkan.

Sunnah-sunnah wudhu yang paling penting di kalangan ulama madzhab Hanafi ada 18 perkara. Adapun di kalangan ulama madzhab Maliki ada delapan perkara dan di kalangan ulama madzhab Syafi’i terdapat lebih kurang 30 perkara. Perbedaan ini terjadi karena mereka tidak membedakan antara amalan sunnah dengan amalan mandub. Di kalangan ulama madzhab Hambali, jumlah yang dianjurkan untuk dilakukan ketika wudhu lebih kurang 20 perkara. 551

1. Niat adalah sunnah menurut pendapat ulama madzhab Hanafi. Waktunya adalah sebelum melakukan istinja’. Caranya adalah dengan berniat untuk menghilangkan hadats, mendirikan shalat, berniat untuk berwudhu, atau mematuhi perintah. Tempat niat adalah dalam hati. Para ulama terkemuka mengatakan bahwa membaca lafal niat adalah disunnahkan. Mereka juga berkata bahwa niat adalah fardhu di kalangan jumhur ulama selain ulama madzhab Hanafi, seperti yang telah dijelaskan dalam penjelasan tentang fardhu atau rukun-rukun wudhu di atas.

2. Membasuh kedua tangan hingga ke pergelangan sebanyak tiga kali sebelum memasukkan kedua tangan ke dalam tempat air, baik setelah seorang itu bangun dari tidur ataupun tidak tidur. Hal ini karena kedua tangan merupakan alat untuk berwudhu. Terdapat sabda Nabi Muhammad saw.,

"Apabila salah satu di antara kamu bangun dari tidur, maka hendaklah ia mencuci tangannya sebelum ia memasukkan ke dalam tempat air. Karena, tidak ada orang di antara kamu yang tahu di manakah ia meletakkan tangannya pada waktu tidur." 552

Dalam hadits yang lain disebutkan, "Sehingga dia membasuhnya sebanyak tiga kali."

Akan tetapi menurut pendapat yang rajih, ia cukup dilakukan sekali saja, sebagaimana amalan lain pada wudhu. Melakukan sebanyak tiga kali adalah sunnah. Ulama madzhab Hambali mengatakan bahwa membasuh sebanyak tiga kali adalah sunnah bagi orang yang bangun tidur selain tidur malam.

3. Membaca bismillah pada permulaan wudhu, yaitu ketika membasuh kedua tangan hingga sampai kepada dua pergelangan. Bacaan yang diriwayatkan dari Rasul seperti yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abu Hurairah dengan sanad yang hasan adalah,

"Dengan menyebut nama Allah Yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya atas nikmat agama Islam."

Menurut pendapat lain, bacaan yang afdhal adalah,
Bismillah


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Hal ini berdasarkan hadits, yang artinya :
"Setiap perkara yang penting yang tidak dimulai dengan membaca bismillah, maka ia terputus’ 553

Ulama madzhab Maliki menganggap bahwa membaca bismillah merupakan salah satu kelebihan berwudhu. Ulama madzhab Hambali juga mewajibkan membacanya ketika berwudhu. Dalilnya ialah sabda Rasul saw.,
"Tidaklah sah shalat seseorang yang tidak berwudhu, dan tidaklah sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah." 554

Ulama madzhab Hambali berhujjah dengan hadits-hadits ini untuk mempertahankan pendapat mereka yang mengatakan, wajib membaca bismillah ketika mulai berwudhu. Akan tetapi, jumhur ulama menakwilkan maksud hadits tersebut, bahwa ia menafikan kesempurnaan wudhu dan tidak menafikan sahnya berwudhu. Kedudukannya sama dengan hadits yang menyatakan bahwa tidak sah shalat bagi tetangga masjid, kecuali di masjid. [ 555 ] Dan juga hadits, "Mengingat Allah adalah berada di hati seorang Mukmin, baik bismillah dibaca ataupun tidak." [ 556 ] Takwil tersebut berdasarkan kepada hadits marfu’ dari Ibnu Umar,[ 557 ] "Barangsiapa berwudhu dengan menyebut nama Allah, maka semua badannya akan menjadi suci. Dan barangsiapa berwudhu tanpa menyebut nama Allah, maka hanya anggota wudhunya saja yang menjadi suci."[ 558 ]

Alasan lain adalah karena terdapat riwayat an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid dari Anas r.a., "Berwudhulah dengan nama Allah." Bacaan bismillah yang paling sempurna adalah dengan cara menyebutnya secara lengkap, setelah itu memuji Allah dengan mengucapkan,

Adapun alasan tidak diwajibkannya membaca bismillah adalah karena ayat wudhu yang menjelaskan perkara-perkara wajib tidak menyebutnya.


4. Berkumur dan membersihkan hidung; berkumur adalah memasukkan air ke dalam mulut sambil mengocok-ngocoknya, setelah itu mengeluarkannya kembali. Atau dengan kata lain, mengenakan air ke seluruh bagian mulut. Membersihkan hidung adalah memasukkan air dan menghisapnya ke dalam hidung.


Kedua perbuatan tersebut diikuti dengan kesunnahan istintsar, yaitu mengeluarkan air dengan angin dari lubang hidung dengan cara meletakkan dua jari, yaitu jari telunjuk dan ibu jari pada hidung, seperti yang dilakukan ketika mengeluarkan ingus. Semua perbuatan tersebut adalah sunnah mu’akkad menurut pendapat jumhur ulama selain ulama madzhab Hambali. Hal ini karena terdapat sebuah hadits riwayat Muslim, "Orang yang memulai wudhunya, kemudian ia berkumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya (beristintsar], maka akan dikikis segala kesalahan dan kotoran dalam mulut dan dalam rongga hidungnya bersama-sama dengan air wudhunya itu.


Adapun hadits, "Berkumurlah dan masukkanlah air ke dalam hidung," merupakan hadits yang dhaif. Alasan istintsar tidak diwajibkan, karena ayat yang menjelaskan hukum-hukum berwudhu tidak menyebutkannya.

 


Catatan Kaki

551 ) Al-Bada’i’, hlm. 18 - 23; Fathul Qadir, hlm. 13 - 23; ad-DurruI Mukhtar, Jilid I, hlm. 101 - 114; Muraqi al-Falah, hlm. 13; asy-Syarhush Shaghir,hlm. 117 -121; asy-SyarhuIKabir, Jilid I, hlm. 96 - 104; BidayatulMujtahid, Jilid I, hlm. 8-12; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 22; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 15-19; Kasysyaful Qina’, Jilid I, hlm. 118 -122; al-Mughni, Jilid I, hlm. 96 -143.

552 ) Hadits riwayat al-A’immah as-Sittah dalam kitab-kitab mereka dari Abu Hurairah (Nashbur Rayah, Jilid I, hlm. 2).

553 ) Hadits ini disebut oleh Abdul Qadir ar-Rahawi dalam kitab al-Arba‘in dari Abu Hurairah. Namun, ia hadits yang lemah.

554 ) Hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim, dia berkata, "Hadits ini sanadnya shahih dari Abu Hurairah." [Nashbur Rayah, Jilid I, him. 3)

555 ) Hadits riwayat ad-Daruquthni dari Jabir dan Abu Hurairah. Ia adalah hadits yang lemah (al-Jami’ush Shaghir, Nailul Authar, Jilidi, him. 136).

556 ) Hadits riwayat ad-Daruquthni. Ia adalah hadits yang lemah (Nashbur Rayah, Jilid IV, him. 183; Nailul Author, Jilid I, him. 136).

557 ) Ibnu Sayyid an-Nas telah menjelaskan dalam kitab Syarh at-Tirmidzi bahwa hadits dalam sebagian riwayat dengan menggunakan lafal, "Bukanlah wudhu yang sempurna." Ar-Rafi’i juga menggunakannya sebagai dalil. Ibnu Hajar berkata, "Saya tidak pernah mendapatinya demikian." [Nailul Authar, Jilid I, him. 136)

558 ) Hadits riwayat ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. Di dalamnya ada perawi yang matruk dan ia dianggap sebagai hadits maudhu’. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ad-Daruquthni dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah. Dalam sanadnya terdapat dua perawi yang lemah. Ia juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Baihaqi lagi dan dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk (Nailul Authar, Jilid I, him. 135).


           Sumber
 
   
                                                                                             
                     
                     
                     
Penerbit
Penerjemah
Penyunting
Penerbit
: Darul Fikr, Damaskus - 2007 M - 1428 H
: Abdul Hayyie al-Kattani, dkk.
: Budi Permadi
: GEMA INSANI







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa