Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Adab dan Fadhilah Wudhu
Adab dan Fadhilah Wudhu
adab berwudhu. Ia merupakan perbuatan yang pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad saw. sebanyak satu atau dua kali, dan Rasul tidak selalu mengamalkannya. Hukumnya adalah mendapatkan pahala bagi orang yang melakukan, dan
Selasa, 25 Februari 2014

Ulama madzhab Hanafi menyebut perkara-perkara tersebut sebagai adab berwudhu. Ia merupakan perbuatan yang pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad saw. sebanyak satu atau dua kali, dan Rasul tidak selalu mengamalkannya. Hukumnya adalah mendapatkan pahala bagi orang yang melakukan, dan tidak dicela karena tidak mengerjakan. Adab wudhu tersebut menurut pandangan ulama Hanafi terdiri atas empat belas adab.

Ulama madzhab Maliki menyebutnya sebagai fadhilah berwudhu, yaitu sifat dan perbuatan yang dianjurkan. Menurut pandangan mereka, jumlahnya mencapai sepuluh perkara. Perbedaan antara fadhilah dengan sunnah adalah, sunnah artinya segala sesuatu yang diperintahkan oleh syara` dengan sungguh-sungguh dan memiliki nilai yang tinggi. Adapun mandub atau perkara yang dianjurkan adalah, segala sesuatu yang diperintahkan oleh syara` untuk kita laksanakan mengikuti satu tuntutan yang tidak berat dan perintahnya juga ringan. Setiap orang yang melaksanakan salah satu di antara dua perkara tersebut akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak terkena pembalasan (siksa). Di antara adab-adab wudhu yang terpenting adalah seperti berikut.

  1. Menghadap qiblat, karena ia adalah arah yang paling mulia. Perbuatan menghadap qiblat merupakan satu keadaan untuk memudahkan doa diterima. Ulama madzhab Hambali dan Syafi`i menganggap sebagai perbuatan yang disunnahkan. Sebabnya adalah, karena mereka tidak membedakan antara sunnah dan adab.
  2. Duduk di suatu tempat yang tinggi dengan tujuan mengelakkan air bekas basuhan memercik kembali. Ulama madzhab Maliki mengatakan bahwa sunnah mengambil wudhu di tempat yang benar-benar bersih. Karena, ia merupakan suatu bagian dari amalan bersuci. Oleh sebab itu, makruh berwudhu dalam toilet atau dalam kamar mandi, meskipun masih baru dan belum digunakan. Begitu juga makruh berwudhu di tempat-tempat lain yang ada najisnya.
  3. Tidak berbicara dengan orang lain, kecuali dalam keadaan darurat. Karena, keadaan ini dapat melalaikan orang dari mengingat doa yang ma`tsur.
  4. Tidak minta bantuan kepada orang lain kecuali karena ada uzur, seperti minta bantuan untuk menyiramkan air ke anggota wudhu ataupun untuk tujuan lain,-` Hal ini karena tindakan-tindakan seperti itu kebanyakannya dilakukan sendiri oleh Rasulullah saw. Selain itu, ia dianggap sebagai kesombongan diri. Hal seperti itu tidak sesuai bagi seorang yang hendak beribadah, sedangkan pahala diberikan sesuai dengan kadar kepayahan yang dilakukan dan hal ini juga bertentangan dengan sesuatu yang lebih diutamakan. Menurut pendapat yang lemah is adalah makruh. Akan tetapi jika meminta pertolongan tersebut disebabkan karena uzur seperti sakit, maka tidaklah mengapa. Nabi Muhammad saw. telah membenarkan hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Mughirah bin Syu‘bah, bahwa dia pernah bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Rasul pergi buang air dan Mughirah menuangkan air untuk Rasul ketika Rasul berwudhu. Lalu Rasul membasuh muka dan dua tangan, mengusap kepala, dan dua khuf-nya." Shafwan bin Asal berkata, "Saya telah menuangkan air kepada Nabi saw. untuk berwudhu, baik dalam masa bepergian ataupun bermukim." Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa boleh mendapatkan pertolongan dari orang lain. Kedua hadits tersebut menjadi pegangan ulama madzhab Hambali, hingga mereka mengatakan boleh (meminta pertolongan).
  5. Menggerakkan cincin yang longgar supaya basuhan itu semakin meyakinkan (sebagai langkah mubalaghah). Diriwayatkan dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah saw. sering menggerakkan cincinnya apabila beiiau berwudhu. Begitu juga sunnah menggerakkan cincin yang ketat, jika dipastikan air dapat sampai ke bawah cincin tersebut. Jika tidak dapat dipastikan, maka wajib hukumnya menggerakkan cincin tersebut. Kita telah menjelaskan hal ini pada bagian sebelum ini. Menurut ulama madzhab Maliki, tidak wajib menggerakkan cincin yang ketat yang boleh dipakai oleh seseorang.
  6. Melakukan madhmadhah (berkumur) dan istinsyaq dengan menggunakan tangan kanan, karena kemuliaan perbuatan tersebut dan membuang ingus dengan tangan kiri karena kedudukannya yang hina.
  7. Berwudhu sebelum masuk waktu shalat untuk segera melakukan ketaatan bagi orang yang tidak ada uzur. Orang yang uzur dan orang yang bertayamum tidak disunnahkan bersegera melakukan thaharah, menurut pendapat ulama madzhab Hanafi. Menurut pendapat jumhur, wajib mengakhirkan bersuci hingga masuk waktu.
  8. Memasukkan jari kelingking yang basah ke dalam lubang telinga sebagai amalan yang berlebihan (mubalaghah/untuk hati-hati) dalam membersihkan.
  9. Mengusap leher dengan dua tangan, tidak termasuk tenggorokan. Ini menurut pendapat ulama madzhab Hanafi. Karena, terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Laits, dari Thalhah bin Musyarrif, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa dia pernah melihat Rasulullah saw. mengusap kepala hingga sampai ke al-Qadhal (bagian menonjol di atas punggung di bawah leher belakang) dan seterusnya hingga ke bagian depan leher.

Jumhur fuqaha mengatakan bahwa tidak sunnah mengusap leher. Malah ia adalah makruh, karena amalan tersebut dianggap sebagai amalan yang berlebihan dalam masalah agama. (bersambung...)


           Sumber
 
   
                                                                                             
                     
                     
                     
Penerbit
Penerjemah
Penyunting
Penerbit
: Darul Fikr, Damaskus - 2007 M - 1428 H
: Abdul Hayyie al-Kattani, dkk.
: Budi Permadi
: GEMA INSANI







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa