Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Perkara yang Dimakruhkan Sewaktu Berwudhu
Perkara yang Dimakruhkan Sewaktu Berwudhu
Menurut ulama madzhab Hanafi, hukum makruh terbagi menjadi dua jenis, yaitu makruh tahrim dan makruh tanzih. Makruh tahrim adalah hukum makruh yang lebih dekat kepada hukum haram. Meninggalkan makruh jenis ini adalah wajib.
Rabu, 30 April 2014

Menurut ulama madzhab Hanafi, hukum makruh terbagi menjadi dua jenis, yaitu makruh tahrim dan makruh tanzih. Makruh tahrim adalah hukum makruh yang lebih dekat kepada hukum haram. Meninggalkan makruh jenis ini adalah wajib. Menurut mereka, jika disebut makruh, maka yang dimaksudkan adalah makruh tahrim. Adapun makruh tanzih adalah suatu perbuatan yang lebih utama ditinggalkan. Ini artinya makruh yang berlawanan dengan keutamaan.

Oleh sebab itu, jika mereka menyebutkan suatu hukum dengan makruh, maka wajiblah dilihat kepada dalilnya. Jika hukum makruh itu mengandung perintah secara zhanni, maka ia adalah makruh tahrim kecuali jika terdapat suatu dalil yang mengubah kepada hukum sunnah. Jika dalil itu tidak menunjukkan hukum yang diperintah, malah ia menunjukkan supaya ditinggalkan tetapi dalam bentuk yang tidak kuat, maka ia adalah makruh tanzih.

Jumhur ulama selain ulama madzhab Hanafi tidak membedakan antara kedua jenis makruh tersebut. Hukum makruh pada pendapat mereka ialah makruh tanzih. Orang yang berwudhu dimakruhkan melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan adab yang disunnahkan, yang terpenting ialah sebagai berikut.

1. Menggunakan air dengan kadar yang melebihi keperluan syara` atau melebihi kadar yang mencukupi. Hukum ini ditetapkan jika air tersebut merupakan air yang boleh digunakan oleh orang yang berwudhu itu atau dimiliki olehnya. Jika air tersebut adalah air yang diwakafkan untuk wudhu seperti air yang disediakan di masjid-masjid, maka menggunakannya secara boros adalah haram.

Dalil yang menunjukkan hukum makruh adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dan yang lain dari Abdullah bin Amru ibnul Ash bahwa Rasulullah saw. melihat Sa`ad yang sedang berwudhu lalu Rasul menegur, "Mengapa kamu berbuat boros begini?" Sa`ad bertanya, "Adakah terdapat pemborosan dalam berwudhu?" 2. Rasul menjawab, “Ya, meskipun kamu berada di tepi sungai yang airnya mengalir." Di antara perbuatan yang dianggap sebagai boros adalah mengulangi basuhan lebih dari tiga kali, dan mengusap khuf melebihi satu kali. Menurut jumhur ulama selain ulama madzhab Syafi`i, hal itu disebabkan karena terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Amru bin Syu`aib yang telah lalu, "Barangsiapa melebihi kadar ini atau menguranginya, maka dia tidak melakukan dengan baik, melebihi batas, dan berlaku zalim.”

Yang dimaksudkan makruh di sini adalah makruh tanzih meskipun di kalangan ulama madzhab Hanafi. Kecuali jika diyakini bahwa apa yang melebihi kadar tiga kali basuhan tersebut termasuk dalam amalan wudhu, maka hukum makruh dengan kondisi seperti ini dianggap sebagai hukum makruh tahrim oleh mereka. Ibnu Abidin telah menyebut, "Apabila disebut hukum makruh, maka yang dimaksudkan adalah makruh tanzih." Jika digunakan air secara berlebihan untuk tujuan menambah bersih atau untuk me¬yakinkan hati dan tujuan yang dibenarkan lainnya, maka ia tidak dianggap makruh. Begitu juga dihukumi makruh tanzih jika terlalu sedikit (bakhil) menggunakan air, sehingga tindakan membasuh menjadi seperti mengusap, yaitu apabila air yang menetes dari anggota yang dibasuh tidak jelas. Hal ini karena terdapat hadits yang menuntut kita supaya menyempurnakan wudhu. Perbuatan bakhil menggunakan air merupakan perbuatan yang berten¬tangan dengan hadits.

2. Menyiramkan air dengan kuat ke muka dan anggota lain, hukum makruh di sini adalah makruh tanzih karena ia me¬nyebabkan air yang telah digunakan me¬mercik ke atas pakaian. Oleh sebab itu, tidak melakukan hal yang demikian me-rupakan tindakan yang lebih utama. la juga menyalahi adab dalam berwudhu. Oleh sebab itu, larangan di sini merupakan larangan mengenai adab.

3. Berbicara dengan bahasa manusia biasa, hukum makruh di sini adalah makruh tanzih karena pembicaraan itu dapat menghalangi dari berdoa. Menurut ulama madzhab Syafi’i, perbuatan ini dianggap sebagai perbuatan yang bertentangan dengan keutamaan.

4. Meminta pertolongan kepada orang lain tanpa udzur, perbuatan ini adalah makruh karena terdapat hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Nabi Muham¬mad saw. tidak pernah bergantung kepada siapa pun dalam bersuci.” Walaupun kita telah mengetahui bahwa terdapat hadist yang menjelaskan bahwa boleh meminta bantuan orang lain dalam berwudhu, akan tetapi kebolehan tersebut hanya dikhususkan bagi orang yang udzur. Selain itu, kaidah darurat dapat membolehkan berbagai larangan. (bersambung...)







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa