Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Perkara yang Dimakruhkan Sewaktu Berwudhu II
Perkara yang Dimakruhkan Sewaktu Berwudhu II
Berwudhu di tempat yang najis adalah makruh. Hal ini supaya ia tidak terkena najis. Ulama Hanafi menambahkan, makruh juga berwudhu menggunakan air lebihan yang pernah digunakan oleh wanita. Ataupun, ...
Rabu, 07 Mei 2014

5.    Berwudhu di tempat yang najis adalah makruh. Hal ini supaya ia tidak terkena najis. Ulama Hanafi menambahkan, makruh juga berwudhu menggunakan air lebihan yang pernah digunakan oleh wanita. Ataupun, berwudhu dalam masjid kecuali jika dilakukan dalam wadah atau dalam tempat yang memang disediakan untuknya. Ini semua disebabkan karena ia dikhawatirkan akan membasahi masjid. Ulama madzhab Hambali mengatakan bahwa makruh mengucurkan air wudhu dan air mandi ke dalam masjid atau ke tempat yang diinjak oleh banyak orang, seperti ke jalan raya. Ini adalah untuk menjaga kesucian air wudhu, karena ia memiliki kehormatan. Selain itu, ia adalah kesan dari suatu ibadah. Boleh berwudhu dan mandi dalam masjid jika ia tidak menyusahkan siapa pun dan tidak mengotori masjid. Hal ini karena air yang berpisah dari anggota wudhu itu memiliki hukum suci.

6.    Mengusap leher dengan air menurut pendapat jumhur ulama selain ulama madzhab Hanafi. Hal ini karena menurut pendapat mereka, perbuatan tersebut dianggap sebagai perbuatan yang melampaui batas dalam beribadah dan juga menyusahkan. Ulama madzhab Syafi`i juga berkata, tidak disunnahkan mengusap leher karena tidak terdapat nash yang te¬tap mengenai hal itu. An-Nawawi berkata perbuatan tersebut adalah bid`ah. Begitu juga, ulama Maliki berpendapat bahwa ia adalah bid`ah yang dimakruhkan.

7.    Tindakan yang berlebihan (mubalaghah) dalam melakukan madhmadhah (berkumur) dan istinsyaq oleh orang yang berpuasa. Perbuatan ini dimakruhkan karena dikhawatirkan akan membatalkan puasa.

8.    Tidak meninggalkan salah satu sunnah dari beberapa sunnah wudhu yang telah dijelaskan sebelum ini, berdasarkan pendapat berbagai madzhab. Ulama madzhab Hambali umpamanya mengatakan bahwa makruh bagi setiap orang melakukan istintsar, membersihkan hidung dan kotorannya, membuka sepatu, dan mengambil sesuatu dari tangan orang lain dan sejenisnya dengan tangan kanan, sedangkan dia mampu menggunakan tangan kiri.

9.    Madzhab Hambali mengatakan bahwa boleh berwudhu dengan air yang tersisa yang pernah digunakan oleh perempuan secara bersamaan dengan seorang laki-laki. Tetapi jika ia digunakan secara terpisah, maka air tersebut makruh diguna¬kan. Ini disebabkan karena terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. melarang orang laki-laki berwudhu dengan air sisa yang pernah digunakan perempuan. Selain itu, terdapat sekelompok sahabat yang tidak
suka dengan perbuatan yang demikian itu. Oleh sebab itu, mereka berkata, "Apabila perempuan meninggalkan air yang tersisa, maka janganlah kamu berwudhu dengan air tersebut."

Mayoritas ulama mengatakan boleh berwudhu dengan air tersebut, baik digunakan oleh laki-laki atau oleh perempuan. Hal ini karena terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dan juga terdapat riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. pernah mandi dengan air yang tersisa dari wudhu Maimunah. Maimunah berkata, `Saya telah mandi dengan air dari satu wadah, lalu saya tinggalkan sisanya kemudian datang Nabi Muhammad saw. dan menggunakan air tersebut untuk mandi. Saya memberi tahu kepada beliau bahwa saya telah mandi dengan air tersebut. Kemudian Rasul menjawab, ‘Sesungguhnya air tidak menanggung janabah apa pun!"

Apalagi, ia adalah air yang suci dan boleh digunakan oleh laki-laki. Kedudukannya adalah sama dengan sisa air yang digunakan oleh orang laki-laki, ini adalah pendapat yang ashah. Oleh sebab itu, larangan menggunakan air tersebut ditafsirkan sebagai hukum makruh tanzih dengan berdasarkan kepada hadits-hadits yang membolehkan.

10. Air yang panas dan air yang terjemur matahari (musyammas). Ulama madzhab Syafi`i mengatakan bahwa makruh tanzih bersuci dengan mengunakan air yang terlalu panas, air yang terlalu sejuk, dan air musyammas yang berada di bagian yang panas, seperti air yang berada di bagian tropis. Air yang berada di dalam wadah yang mudah berkarat (seperti wadah yang terbuat dari besi dan tembaga) makruh digunakan untuk badan, tetapi tidak makruh untuk pakaian. Dari segi kesehatan, ia memiliki hukum makruh karena ia dapat menimbulkan penyakit kusta. Ia tidak diharamkan karena penyakit ini jarang berlaku disebabkan penggunaannya. Hukum makruh itu akan hilang apabila air kembali dingin.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa