Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu
Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu
Menyentuh perempuan. Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, wudhu dianggap batal akibat bersentuhan dengan perempuan sewaktu berjimak. Sementara, ulama madzhab Maliki dan Hambali mengatakan bahwa wudhu akan batal denga
Rabu, 23 Juli 2014

6. Menyentuh perempuan. Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, wudhu dianggap batal akibat bersentuhan dengan perempuan sewaktu berjimak. Sementara, ulama madzhab Maliki dan Hambali mengatakan bahwa wudhu akan batal dengan sebab bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan di saat ada rasa nikmat atau timbul gairah nafsu. Menurut ulama madzhab Syafi`i, wudhu kedua belah pi-hak laki-laki dan perempuan akan batal dengan hanya terjadinya sentuhan kulit, meskipun tidak timbul nafsu.

Penjelasan terperinci mengenai pendapat madzhab tersebut di atas adalah seperti berikut.

(a)    Ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa wudhu menjadi batal dengan persetubuhan, yaitu bertemunya dua kemaluan (laki-laki dan perempuan) tanpa alas pakaian yang menghalang kehangatan. Atau dengan kata lain ketika seorang laki-laki menyentuh perempuan dengan penuh syahwat, hingga kemaluannya tegang tanpa ada penghalang di antara mereka, dan dia tidak melihat sesuatu yang basah (yang keluar dari kemaluannya).

(b)    Ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa wudhu bisa batal dengan sentuhan yang terjadi antara orang yang berwudhu dengan orang lain yang pada adatnya menimbulkan nikmat pada diri orang yang menyentuh, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Walaupun orang yangdi-sentuh itu belum baligh, baik sentuhan itu berlaku dengan istrinya, dengan perempuan lain, atau dengan mahramnya. Sentuhan pada kuku dan rambut, ataupun sentuhan yang beralaskan seperti kain, baik kain yang dijadikan alas itu tipis yang dapat menyebabkan orang yang menyentuh merasakan kelembutan badan atau kain itu tebal, juga dianggap sebagai sentuhan juga. Hukum sentuhan ini berlaku juga antara laki-laki dengan laki-laki ataupun perempuan dengan perempuan.

Sentuhan dengan nafsu dapat membatalkan wudhu. Begitu juga kecupan mulut, ia dapat membatalkan wudhu meskipun tanpa nafsu. Karena, ia merupakan tempat membangkitkan nafsu. Kecupan yang dilakukan pada bagian badan selain mulut juga dapat membatalkan wudhu orang yang mengecup dan orang yang dikecup. Keadaan ini berlaku jika kedua orang tersebut sudah baligh, atau salah satu di antara mereka baligh. Begitu juga dengan mengecup orang yang memiliki daya tarik dan merasa nikmat dengan kecupan itu, walaupun hal ini
terjadi dengan cara paksaan ataupun dalam keadaan lalai.

Sentuhan yang dapat membatalkan wudhu itu di dasarkan tiga syarat.

(i)    Hendaklah orang yang menyentuh itu orang yang sudah baligh.
(ii)   Orang yang disentuh pada kebiasaan normal adalah orang yang menimbulkan syahwat; dan
(ii)   Hendaklah yang menyentuh itu berniat untuk memuaskan nafsu ataupun dia mendapati ada nafsu (meskipun tanpa berniat).

Wudhu tidak menjadi batal karena memuaskan nafsu dengan cara pandangan mata atau hanya dengan khayalan meskipun penis orang itu tegang, asalkan ia tidak mengeluarkan air madzi. Begitu juga, wudhu tidak batal dengan menyentuh seorang anak perempuan yang belum menimbulkan syahwat, atau menyentuh bina-tang atau laki-laki yang berjenggot. Karena, pada adatnya tidak akan timbul perasaan bernafsu apabila jeng-gotnya sempurna (seorang yang tua).

(c) Ulama madzhab Hambali berkata bahwa menurut pendapat yang ma-syhur di kalangan mereka, wudhu akan menjadi batal dengan menyentuh kulit perempuan dengan nafsu dan tanpa alas/penghalang, dengan syarat jika memang kebiasaan orang yang disentuh itu dapat menimbulkan syahwat—asalkan dia bukan anak-anak—dan meskipun orang yang disentuh itu sudah mati, tua, mahramnya, atau anak-anak perempuan yang menimbulkan syahwat, yaitu anak perempuan yang berumur tujuh tahun ke atas. Hukum ini berlaku tanpa ada perbedaan di antara perempuan yang disentuh, baik dia itu ajnabi (orang lain), mahram, perempuan tua, atau anak-anak.

Wudhu tidak batal dengan menyentuh rambut, kuku, dan gigi. Begitu juga dengan menyentuh anggota yang terpotong, karena ia tidak ada nilainya lagi. Begitu juga dengan menyentuh waria walaupun dengan bernafsu. Menyentuh khuntsa musykil, sentuhan antara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, walaupun dengan bersyahwat (juga tidak membatalkan wudhu). Sungguhpun wudhu ini tidak batal, namun ia sunnah untuk diperbarui.

Kesimpulannya, ketiga madzhab ini (yaitu jumhur) berpendapat bahwa wudhu tidak batal yang disebabkan adanya sentuhan di antara laki-laki dengan perempuan. Mereka berhujjah dengan dalil-dalil berikut.

(i)    Firman Allah,



"...atau kamu telah menyentuh perempuan....”  (an-Nisaa`: 43)

Hakikat sentuhan yang asai adalah sentuhan antara dua kulit. Ulama madzhab Hanafi berpegang dengan pendapat Ibnu Abbas. Seorang ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan sentuhan adalah jimak. Mereka juga berpegang dengan pendapat Ibnus Sikkit yang mengatakan bahwa perkataan sentuhan apabila digandengkan dengan perempuan, maka ia artinya jimak.

Orang Arab menyebutkan, "Saya menyentuh perempuan,” maksud-nya adalah, "Saya telah melakukan jimak dengannya." Oleh sebab itu, pengertian ayat tersebut seharusnya diartikan dengan makna majazi, yaitu maksudnya (sentuhan) adalah jimak, karena terdapat bukti yang menunjukkan hal itu, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh `Aisyah yang akan dinyatakan nanti.


Bersambung....








comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa