Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu II
Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu II
Ulama madzhab Maliki dan Hambali yang mensyaratkan sentuhan yang dapat membatalkan wudhu adalah sentuhan yang bernafsu telah menggabungkan antara maksud ayat di atas dengan hadits-hadits yang akan dinyatakan nanti yang...
Rabu, 23 Juli 2014

Ulama madzhab Maliki dan Hambali yang mensyaratkan sentuhan yang dapat membatalkan wudhu adalah sentuhan yang bernafsu telah menggabungkan antara maksud ayat di atas dengan hadits-hadits yang akan dinyatakan nanti yang  diriwayatkan oleh Aisyah dan para perawi yang lain.

(ii)    Hadits riwayat Aisyah bahwa Nabi Muhammad saw. pernah mengecup salah seorang istrinya, kemudian Rasul terus menunaikan shalat tanpa berwudhu.
(iii)   Hadits riwayat Aisyah juga, menyebutkan, "Ketika Rasulullah hendak menunaikan shalat, saya pernah duduk di hadapannya seperti jenazah, hingga apabila hendak witir Rasul menyentuh saya dengan kakinya."

Dalam riwayat ini, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu dan juga Rasul menyentuh `Aisyah tersebut tanpa alas apa pun.

(iv)    Hadits riwayat Aisyah juga yang menyatakan, "Pada suatu malam, saya mendapati Rasulullah saw. tidak ada di atas kasur. Lalu saya mencarinya dan saya memegang telapak kakinya dengan tangan saya pada waktu beliau berada dalam masjid. Kedua kakinya itu diberdirikan (dalam keadaan sujud) dan  beliau membaca,



"Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemur-kaan-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari ketidakmampuanku dalam memu-ji-Mu sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu."

Hadits ini menunjukkan bahwa sentuhan itu tidak menyebabkan batalnya wudhu.

(d) Ulama madzhab Syafi`i mengatakan bahwa wudhu tetap batal disebabkan adanya sentuhan antara seorang laki-laki dengan perempuan ajnabi yang bukan mahram, walaupun dia telah mati.

Bersentuhan tanpa alas/penghalang dapat membatalkan wudhu orang yang menyentuh dan juga wudhu orang yang disentuh, walaupun salah seorang dari mereka adalah orang tua yang pikun atau orang tua yang lemah dan meskipun tanpa niat. Namun, wudhu tidak batal dengan menyentuh rambut, gigi, dan kuku. Wudhu juga tidak akan batal jika menyentuhnya dengan menggunakan alas.

Maksud antara laki-laki dan perempuan adalah laki-laki dan perempuan yang telah sampai peringkat yang menimbulkan syahwat menurut `urf, di kalangan orang yang mempunyai tabiat normal. Yang dimaksud dengan mahram adalah orang yang haram dinikahi dengan sebab keturunan, penyusuan, atau pernikahan. Oleh sebab itu, wudhu tidak batal dengan menyentuh seorang anak laki-laki atau perempuan yang masih kecil dan yang biasanya tidak menimbulkan syahwat pada salah seorang dari mereka, bagi orang yang mempunyai tabiat normal. Oleh sebab itu, umur anak-anak yang dapat menimbulkan syahwat tidaklah terikat dengan tujuh tahun ataupun lebih, karena keadaan anak-anak laki-laki dan perempuan itu berbeda-beda. Wudhu tersebut tidak batal karena tidak adanya hal yang menimbulkan nafsu.

Wudhu juga tidak batal disebabkan bersentuhan dengan mahram, baik itu mahram karena keturunan, penyusuan, dan pernikahan (mushaha-rah) seperti ibu mertua. Alasan sentuhan bisa membatalkan wudhu adalah karena ia dapat menimbulkan perasaan nikmat yang dapat menggerakkan nafsu. Hal seperti ini tidak patut terjadi pada diri orang yang dalam keadaan suci. Dalil mereka adalah arti yang sebenarnya dari segi bahasa bagi kata mulamasah seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT, "...atau kamu telah menyentuh pe-rempuan.... "(an-Nisaa`: 43)

Hal ini jelas menunjukkan pengertian mulamasah adalah sentuhan semata-mata, bukan jimak. Adapun hadits riwayat Aisyah yang berkaitan dengan kecupan mulut adalah sebuah hadits yang dhaif dan mursal. Hadits lain yang diriwayatkan oleh Aisyah menceritakan perbuatannya yang menyentuh kaki Rasul (juga dhaif).

Oleh sebab itu, sentuhan itu diandaikan terjadi dengan alas/pengha-lang, atau hukum itu hanya khusus bagi Nabi Muhammad saw. saja. Namun begitu, pengandaian hal ini di-anggap sebagai pengandaian yang dipaksakan dan bertentangan dengan zhahir nash.

Bagi saya, sentuhan yang terjadi dengan cara tiba-tiba atau yang tidak disertai nafsu, maka ia tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi, sentuhan yang dilakukan dalam keadaan bernafsu akan membatalkan wudhu. Pada pertimbangan penulis, inilah pendapat yang paling rajih.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa