Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Tertawa Terbahak-Bahak Membatalkan Wudhu
Tertawa Terbahak-Bahak Membatalkan Wudhu
Hal ini adalah sebagai peringatan dan balasan bagi orang yang shalat, karena perbuatannya itu bertentangan dengan keadaan dirinya yang sedang bermunajat kepada Allah SWT.
Jum'at, 22 Agustus 2014

8. Tertawa tinggi (terbahak-bahak [qahqa-hah]) ketika shalat. Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, tertawa dalam shalat dapat membatalkan wudhu jika orang yang shalat itu seorang yang sudah baligh, baik tertawanya itu dilakukan dengan sengaja ataupun terlupa. Hal ini adalah sebagai peringatan dan balasan bagi orang yang shalat, karena perbuatannya itu bertentangan dengan keadaan dirinya yang sedang bermunajat kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, tidak menjadi batal shalat anak-anak yang tertawa ter-bahak-bahak, karena dia belum mencapai umur yang patut diberi peringatan (belum mukallaf).

Tertawa dengan suara yang tinggi (qahqahah) adalah tertawa yang dapat didengar oleh orang-orang yang ada di sampingnya. Adapun tertawa biasa (adh-Dhahku) adalah tertawa yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri dan tidak dapat didengar oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Tertawa yang pertama dapat membatalkan shalat dan wudhu, sementara tertawa yang kedua hanya membatalkan shalat saja. Adapun senyuman (at-tabassum) adalah tertawa yang tidak bersuara dan tidak memperlihatkan giginya, maka ia tidak menyebabkan batalnya wudhu ataupun shalat.

Pendapat mereka ini berdasarkan atas sebuah hadits,

"Sesungguhnya barangsiapa di antara kamu tertawa terbahak-bahak, hendaklah ia mengulangi shalat dan wudhunya."

Menurut pendapat jumhur ulama selain ulama madzhab Hanafi, wudhu tidak batal disebabkan tertawa yang keras. Karena, perbuatan ini tidak mewajibkan seseorang berwudhu apabila terjadi di luar shalat. Maka, sudah barang tentu ia juga tidak mewajibkan untuk berwudhu ketika terjadi dalam shalat. Menurut mereka, kedudukan tertawa seperti ini sama dengan bersin dan batuk. Mereka menolak hadits-hadits yang telah disebutkan, karena semua hadits tersebut adalah hadits mursal. Dan juga, karena ia bertentangan dengan kaidah yang menyatakan bahwa sesuatu yang membatalkan thaharah di dalam shalat, ia tidak membatalkan thaharah di luar shalat.

Penulis memilih pendapat jumhur, karena hadits yang menjadi hujjah bagi ulama madzhab Hanafi tidak dapat dipegangi kekuatannya.

9. Makan daging unta. Wudhu akan menjadi batal dengan memakan daging unta. Ini adalah menurut pendapat ulama madzhab Hambali saja. Memakan daging unta dalam keadaan apa pun dapat membatalkan wudhu, baik daging tersebut mentah atau telah dimasak, baik orang itu mengetahui atau tidak mengetahui. Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat al-Barra’ bin Azib. Dia berkata bahwa Rasulullah saw. telah ditanya tentang hukum makan daging unta. Rasul menjawab, “Kamu hendaklah berwudhu karena memakannya." Rasul ditanya lagi tentang hukum makan daging kambing. Rasul menjawab, “Tidak perlu berwudhu karena memakannya!" Usaid bin Hudair telah meriwayat sebuah hadits,



"Berwudhulah karena makan daging unta dan kamu tidak diminta untuk berwudhu karena makan daging kambing"


Ulama madzhab Hambali mengulas pengertian hadits di atas dengan kata-kata mereka, “Sesungguhnya hukum wajib berwudhu karena makan daging unta (jazur) merupakan ibadah yang tidak dapat dipikirkan sebabnya. Oleh sebab itu, hukum tersebut tidak dapat ditetapkan pada perkara lain. Dengan demikian, wudhu tidak akan diwajibkan disebabkan minum susu unta, mengunyah dagingnya (kemudian mengeluarkannya), makan hati, limpa, paru, kulit, perut, dan sejenisnya."

Jumhur ulama selain ulama madzhab Hambali mengatakan bahwa wudhu tidak batal dengan sebab makan daging unta (jazur) berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Jabir. Dia berkata,

“Di antara dua perkara (keputusan) yang terakhir dari pada Rasulullah saw. adalah tidak wajib berwudhu karena makan sesuatu yang dibakar api."

Apa lagi karena daging unta adalah bahan makanan seperti bahan-bahan makanan yang lain.

Pendapat yang terkuat menurut pandangan saya adalah pendapat jumhur. Karena, seluruh fuqaha bersepakat bahwa setelah masa awal-awal Islam, hukum wajib berwudhu disebabkan makan sesuatu yang dibakar api adalah digugurkan. Juga, berdasarkan adanya informasi yang kuat yang menyatakan bahwa ketetapan tersebut diamalkan oleh para Khulafaur Rasyidin. Bahkan, ulama madzhab Hambali sendiri berpegang kepada hadits yang menjadi hujjah jumhur, sehingga mereka mengatakan bahwa tidak batal wudhu seseorang disebabkan makan sesuatu yang dibakar api.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa