Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » BAB HUDUD - Pengertian Hudud
BAB HUDUD - Pengertian Hudud
Hudud merupakan kata jama’ (plural) dari kata hadd yang berarti batas. Secara etimologis, hudud berarti larangan. Sedangkan secara-termino- logis, hudud berarti hukuman yang telah ditentukan, sebagai hak Allah.
Rabu, 03 Oktober 2012

1. Pengertian Hudud
Hudud merupakan kata jama’ (plural) dari kata hadd yang berarti batas.
Secara etimologis, hudud berarti larangan. Sedangkan secara-termino- logis, hudud berarti hukuman yang telah ditentukan, sebagai hak Allah.
Sebagian ulama telah menyimpulkan ada tujuh belas hal yang mewajibkan diberlakukannya hukuman had. Di antara yang sudah menjadi kesepakatan adalah riddah (keluar dari Islam), perampok selama belum bertaubat, berzina, qadzaf (menuduh berzina), mi num minuman keras baik memabukkan atau tidak, dan mencuri.

Sedangkan yang masih terdapat perbedaan pendapat adalah mengingkari sesuatu yang diketahuinya, meminum minuman yang memabukkan selain khamr, qadzaf selain pada zina, lari dari peperangan sebelum dia bertaubat padahal dia mampu, menyetubuhi hewan, menyebarluaskan qadzaf (tuduhan berzina) dan liwath (homoseks), menyetubuhkan wanita dengan kera atau hewan-hewan lainnya, sihir, meninggalkan shalat karena malas, dan berbuka puasa di siang hari pada bulan Ramadhan tanpa a danya alasan yang dibenarkan oleh syari’at. Kesemuanya itu berada di luar ketentuan yang telah disyari’atkan Allah, yang di dalamnya juga ditetapkan per mg, seperti misalnya suatu kaum yang meninggalkan zakat, maka kaum tersebut harus diperangi.

Al-Raghib mengatakan: "Hudud diartikan juga sebagai perbuatan maksiat itu sendiri, sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Demikian itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. ’ (Al- Baqarah: 187). Dan juga berarti suatu ketentuan (hukum), misalnya firman Allah Azza wa Jalla: ‘Baran^siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri. ’(Ath-Thalaq:l). Seakan-akan apa yang dipisahkan oleh ayat tersebut antara halal dan haram disebutnya sebagai hudud. "

2. Kewajiban Memberlakukan Had
Allah Subhanahu wa Ta ’ala befirman:
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah setiap orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah, jika kalian beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang- orang yang beriman. " (An-Nuur: 2)
Diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim yang dia mensha- hihkan hadits ini, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
hadist

"Barangsiapa yang syafa ’at (pertolongan)nya menjadi penghalang bagi satu dari hukuman-hukuman yang telah ditetapkan Allah, maka dia merupakan penentang Allah dalam urusan-Nya. "


Dalam kitab Fiqhu As-Sunnah, Sayyid Sabiq mengatakan: "Terkadang orang tidak memperhatikan pelanggaran yang telah dilakukan oleh si tertuduh. Sebaliknya hanya menunjukkan perhatiannya pada bentuk hukum an yang dikenakan atas diri orang tersebut. Tentu saja akan timbul rasa kasihan. Tetapi Al- Qur’an menetapkan bahwa sikap seperti ini bertentangan dengan iman, karena iman itu menghendaki kesucian dari dosa-dosa dan menuntun seseorang atau suatu masyarakat ke arah budi pekerti yang luhur dan kuat.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa