Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Fiqih » Ilmu Fiqih » Cara Niat
Cara Niat
Ibadah memerlukan niat untuk melaksanakannya yang dapat membedakannya dari amalan yang Iain, baik amalan lain itu berupa ibadah yang satu bentuk dengannya atau satu jenis atau bukan ibadah (adat kebiasaan). Hal ini karena mak
Senin, 28 Januari 2013

Ibadah memerlukan niat untuk melaksanakannya yang dapat membedakannya dari amalan yang Iain, baik amalan lain itu berupa ibadah yang satu bentuk dengannya atau satu jenis atau bukan ibadah (adat kebiasaan). Hal ini karena maksud dari niat dalam ibadah adalah untuk membedakannya dari adat kebiasaan, atau untuk membedakan antara satu tingkatan ibadah dengan yang lainnya.

Contohnya adalah, amalan wudhu akan menjadi ibadah jika memang orang yang melakukan bermaksud menjadikannya sebagai penyambung bagi pelaksanaan ibadah seperti shalat, thawaf, dll. yang memang pelaksanaannya harus dengan wudhu. Amalan wudhu tanpa niat ibadah akan menjadi amalan adat kebiasasan seperti membersihkan anggota badan, mencari kesejukan, dll.. Apabila dalam melakukan wudhu seseorang berniat supaya dengan wudhunya itu dia boleh melakukan shalat, atau berniat fardhu mandi, maka sahlah wudhu orang tersebut.

Amalan shalat meskipun ia tidak menyerupai jenis amalan adat kebiasaan, me-lainkan ia adalah ibadah yang murni (mah- dhah) namun shalat ada banyak jenisnya. Shalat dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis; shalat fardhu dan shalat sunnah. Shalat fardhu dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk; fardhu ’ain dan fardhu kifayah. Contoh shalat fardhu ’ain adalah shalat wajib lima waktu, sedangkan contoh shalat fardhu kifayah adalah salah jenazah.

Sementara itu, shalat sunnah dapat dikelompokkan kepada dua macam; shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu seperti shalat Witir, shalat Id, shalat gerhana matahari, shalat gerhana rembulan, shalat Istisqa’ shalat tarawih dan shalat sunnah mutlak.

Shalat fardhu wajib dilakukan dengan niat, yaitu niat melakukannya dengan menyebut nama shalat tersebut secara tepat, supaya dia dapat dibedakan dari shalat-shalat fardhu yang lain. Dalam niat shalat fardhu juga harus disebut kefardhuannya, supaya dia dapat dibedakan dari shalat-shalat sunnah. Sebagian fuqaha mengatakan bahwa penyebutan ke- fardhuan dalam niat shalat fardhu tidak disyaratkan, cukup dengan menyebutkan nama shalat tersebut secara tepat. Karena, memang nama shalat yang disebut itu adalah shalat fardhu.

Melakukan shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah mu’akkadah (bukan shalat sunnah mutlak) juga harus dengan niat, yaitu niat melakukannya dan menentukan secara pasti jenisnya seperti shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu Zhuhur, atau shalat Idul Fitri, atau shalat Kusuf, dll.. Shalat sunnah mutlak cukup hanya dengan niat melakukannya, supaya dia berbeda dengan shalat-shalat yang lain. Karena, memang shalat sunnah mutlak ini tidak ada ketentuan waktu dan sebabnya.

Memberi harta kepada orang lain tanpa harga atau kembalian adalah bentuk amalan yang masih umum. Ia dapat dikatakan zakat, sedekah sunnah, hadiah, atau hibah. Oleh se- bab itu, selain harus menyatakan niat memberi, juga harus ditambahi dengan penentuan (ta’yinj menggunakan sifat syar’i seperti zakat misalnya supaya ia dapat dibedakan dari perbuatan-perbuatan memberi harta selain zakat. Dalam niat zakat tidak perlu menegaskan kefardhuannya, karena lafal zakat dalam istilah syara’ digunakan untuk amalan wajib.

Menahan diri tidak makan, minum, dan semacamnya, adakalanya dilakukan karena puasa, dan adakalanya untuk menjaga diri dan pengobatan. Oleh sebab itu, niat menahan diri (al-imsak) dalam puasa harus disertai dengan penyebutan kata shiyam/shautn supaya dia dapat dibedakan dari perbuatan-perbuatan lain yang hampir serupa.

Selain itu, puasa juga ada yang fardhu dan juga yang sunnah sama seperti shalat. Oleh sebab itu, selain menyatakan niat puasa, orang yang melakukan puasa juga harus menyatakan secara jelas jenis puasanya seperti puasa Rajaman, puasa qadha, puasa kafarat sumpah, kafarat pembunuhan, kafarat jimak di tengah hari Ramadhan, atau puasa r.ayah karena memakai wewangian ketika haji, Ketika niat puasa-puasa yang disebutkan :ersebut, seseorang tidak perlu menyatakan kefardhuannya. Karena, puasa-puasa yang disebut memang puasa fardhu dan tidak akan serupa dengan puasa-puasa lain yang sunnah.

Pergi menuju Tanah Haram adakalanya juga untuk berihram, dan adakalanya juga untuk melakukan kegiatan dagang atau kebiasaan- kebiasaan lain. Oleh sebab itu, ketika niat hram seseorang harus menyatakan dengan lelas bahwa dia memang hendak berihram untuk haji kalau memang dalam bulan bulan haji atau untuk umrah, dan boleh juga orang :tu niat ihram secara mutlak kemudian boleh memilih di antara haji atau umrah kalau memang berada dalam musim haji. Kalau di luar musim haji, maka niat ihramnya itu akan menjadi ihram umrah. Menyatakan kefardhu- an juga tidak disyaratkan kalau memang sebelum ini orang tersebut belum pernah haji atau umrah.

Dalil bagi disyaratkannya menyatakan dengan jelas jenis ibadah yang akan dilakukan (ta’yin) adalah hadits "innamal a’maalu bin- niyaat," sebagaimana yang sudah kami terangkan.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa