Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Pembelaan Islam Terhadap Isu-Isu Yang Menyudutkan Perempuan
Pembelaan Islam Terhadap Isu-Isu Yang Menyudutkan Perempuan
Eksistensi itu lahir dari makhluk berkelamin laki-laki yang diyakini lebih gagah dan perkasa dibanding perempuan. Kegagahannya itu diamini oleh seluruh peradaban dunia melebihi makhluk mana pun.
Kamis, 27 Februari 2014

"Antara ada dan tiada”. Itulah ungkapan singkat untuk menggambarkan eksistensi perempuan sebelum datangnya Islam. Berabad-abad lamanya, ia hilang dari sejarah, identitasnya tak pernah sungguh-sungguh diakui. Kehadirannya telah diyakini sebatas pelengkap kaum laki-laki saja. Lainnya tidak! Sementara itu, dunia menyaksikan ada eksistensi lain yang memproduksi patriarkhisme yang mengancam kaum perempuan. Eksistensi itu lahir dari makhluk berkelamin laki-laki yang diyakini lebih gagah dan perkasa dibanding perempuan. Kegagahannya itu diamini oleh seluruh peradaban dunia melebihi makhluk mana pun.  Lalu bagaimanakah dengan peradaban Islam?

Sebagai agama pembebas, sedari awal Islam telah mengusung satu misi suci, yaitu menghapus segala praktik diskriminasi dalam kehidupan umat manusia. Islam datang membawa pesan melalui Rasulullah untuk menegakkan keadilan dalam bentuk yang paling kongkrit. Misi pokok diturunkan Al-Qur’an ialah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan. Semua watak diskriminatif yang berkembang subur dalam masyarakat Arab Jahiliyah pada masa itu senantiasa secara bertahap dihapuskan.

Salah satu upaya fundamental dari Islam adalah keputusannya untuk menyangkal pandangan diskriminatif terhadap manusia berdasarkan jenis kelamin, di mana kaum perempuan sepanjang sejarah kemanusiaan dipandang tidak berharga dibanding laki-laki. Kaum perempuan diposisikan tak lebih dari sekadar mesin reproduksi manusia, bagaikan mesin fotokopi. Tak jarang mereka hanya dimanfaatkan sebagai alat pemuas kebutuhan biologis pria semata. Mereka sering kali distereotipkan sebagai makhluk yang lemah, baik fisik, mental, maupun nalar.

Dalam kondisi seperti itu, Islam datang mengubah paradigma hegemonik-tiranik menjadi paradigma yang lebih menghargai dan menghormati perempuan. Islam memandang laki-laki dan perempuan memiliki posisi dan peran yang sama. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah SWT. Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya sebagai khalifah. Laki-laki dan perempuan sama-sama menerima perjanjian primordial Allah SWT, sama-sama terlibat secara aktif dalam drama kosmis, serta sama-sama berpotensi meraih prestasi di dunia dan akhirat.

Islam telah menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan sama martabatnya sebagai manusia, baik pada peringkat etika religius maupun pada peringkat fungsi sosial. Namun pandangan-pandangan yang meremehkan dan mendiskreditkan perempuan dari dulu sampai sekarang masih terus terjadi. Menurut analisis Riffat Hasan, sebagaimana dikutip Farid Wajdi (1996:13), hal tersebut terjadi karena ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadits) ditafsirkan dan ditransformasikan dalam struktur masyarakat patriarkhi (masyarakat yang hanya mengunggulkan kaum laki-laki).

Akibatnya isu-isu keagamaan yang menyudutkan dan -menjerat posisi perempuan di kalangan umat Islam sendiri munncul secara bergantian. Bahkan dalam sepuluh tahun terakhir ini, isu-isu perempuan dalam Islam berupa diskriminasi, subordinasi, penindasan, dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan kian populer sampai ke masyarakat tingkat bawah. Berikut ini isu-isu keagamaan yang sering menimpa kaum perempuan beserta jawaban dan sanggahan atas isu-isu tersebut.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa