Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Perempuan Memiliki Fisik yang Kuat II
Perempuan Memiliki Fisik yang Kuat II
Logikanya, tidak mungkin perempuan hamil dapat menahan segala rasa sakit yang ia derita itu kalau saja ia tidak memiliki tubuh yang kuat. Sungguh sangat besar perjuangan perempuan dalam menahan rasa sakit ketika hamil. Pantas
Kamis, 20 Maret 2014

Sambungan dari Perempuan Memiliki Fisik yang Kuat I

Dengan melihat penjelasan Ath-Tharsyah di atas, kita dapat membayangkan betapa tersiksanya perempuan yang sedang hamil itu. Logikanya, tidak mungkin perempuan hamil dapat menahan segala rasa sakit yang ia derita itu kalau saja ia tidak memiliki tubuh yang kuat. Sungguh sangat besar perjuangan perempuan dalam menahan rasa sakit ketika hamil. Pantas saja, kalau Allah akan memberikan pahala dan ampunan yang berlimpah bagi perempuan yang hamil. Hal ini sebagaimana ditegaskan Rasulullah Saw dalam sabdanya, "Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya, Allah SWT mencatat baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan." (HR. Muslim). 

Kedua, perempuan melahirkan. Sebagaimana kehamilan, perempuan yang melahirkan pun akan mengalami rasa sakit yang amat berat. Pada fase awal, perempuan yang melahirkan akan merasakan sakit yang agak ringan, tetapi rasa sakit akan semakin parah secara berkala seiring dengan berulangnya satu kontraksi dengan kontraksi yang lain. Memang ada perbedaan rasa sakit yang dialami perempuan ketika melahirkan, namun pada umumnya mereka merasakan sakit yang sulit dilupakan karena amat beratnya. 

Dalam AI-Qur`an, Allah SWT menjelaskan rasa sakit yang dialami Maryam ketika melahirkan Nabi Isa, seperti firman-Nya, "Kemudian rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, `Aduhai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan`," (QS. Maryam [19]: 23).

Dalam ayat tersebut tergambar jelas bagaimana Maryam merasakan sakit yang parah ketika melahirkan Nabi Isa, sampai-sampai ia bersandar di pohon kurma dan berkata "betapa baiknya aku mati sebelum melahirkan". Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman, "Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula," (QS. AI-Ahqaf [46]: 15).

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair menggambarkan tentang keadaan seorang ibu yang melahirkan sebagai berikut, "Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya." 

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengatakan betapa kuat dan hebatnya fisik perempuan sehingga ia mampu melahirkan anak-anaknya, meskipun ia merasakan sakit yang amat berat. Tidak hanya itu, perempuan yang melahirkan juga merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Bisa kita bayangkan kekhawatiran dan kecemasan perempuan ketika menunggu anaknya lahir ke dunia, ia khawatir anaknya cacat dan memiliki kelainan. Tapi lagi-lagi perempuan dapat melewati semua itu. Kenapa bisa demikian? Penyebabnya tidak lain karena perempuan makhluk yang kuat. 

Ketiga, perempuan menyusui. Kekuatan fisik perempuan tidak hanya dibuktikan ketika mengandung dan melahirkan, tetapi juga saat menyusui anak. Salah satu kewajiban perempuan setelah melahirkan adalah menyusui anaknya selama dua tahun. Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna."  (QS. AI-Baqarah [2]: 233). 

Saat menyusui mungkin saat yang ditunggu oleh seorang perempuan. Saat berbahagia karena dapat memberikan air susu kepada darah dagingnya. Namun saat menyusui ternyata memerlukan kekuatan fisik dari perempuan. Sebab di masa-masa menyusui selama 2 tahun itu, anak membutuhkan perhatian dan pemeliharaan penuh dari seorang perempuan. Tidak boleh sedikit pun perempuan lengah untuk mengawasi perkembangan sang buah hati, minimal di masa menyusui itu. Imam Adz-Dzahabi menggambarkan bagaimana susahnya perempuan di masa menyusui anaknya. Ia mengilustrasikan, "Dia (perempuan) telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atasnya serta atas makanannya. 

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya, dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras." 

Kekuatan fisik perempuan benar-benar diuji di masa menyusui anaknya, setiap saat ia memberikan ASI-nya kepada kita, sepanjang hari ia menjaga kita, seolah kita tidak pernah luput dari pandangan dan perhatiannya. Ia rela tidak tidur demi melihat kita tertidur nyenyak dan tidak ada seekor nyamuk pun yang menggigit kita. Tidak jarang setiap malam ia terbangun karena mendengar tangisan kita untuk menyusui kita ketika lapar atau untuk mengganti popok kita. Pengorbanan dan penderitaan perempuan tidak ber¬langsung sebentar, akan tetapi dalam waktu yang lama, bahkan berbulan-bulan (2 tahun).

Subahanallah! Sungguh sebuah peran yang luar biasa yang membutuhkan kekuatan fisik luar biasa pula. Inilah pe¬ran yang telah dilakukan manusia yang sangat luar biasa, yaitu perempuan. Lalu pantaskah kita mengatakan perempuan makhluk lemah dan hina? Hanya hati nurani kita yang mampu menjawab dengan jujur.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa