Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Perempuan Memiliki Kesabaran dalam Menghadapi Ujian
Perempuan Memiliki Kesabaran dalam Menghadapi Ujian
Namun tahukah Anda siapa yang mendampingi Nabi Muhammad saw dalam menghadapi ujian itu? Dia adalah Khadijah binti Khuwailid, perempuan yang juga tak kalah hebatnya dalam hal kesabaran. Ketika Nabi Muhammad dimusuhi oleh .....
Selasa, 08 Juli 2014

Jika ada yang bertanya siapa makhluk yang paling sabar di dunia ini, kita pasti sepakat menjawab, “Nabi Muhammad saw.” Ya, Nabi Muhammad memang makhluk yang paling sabar, dan tidak ada seorang pun yang mengungguli kesabaran beliau. Kesabaran beliau telah terbukti ketika menghadapi ujian demi ujian yang diberikan kaumnya. Suatu hari, Rasulullah saw bersabda, “Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian ditimpa musibah, hendaklah ia bukan musibah yang menimpaku, yang tidak ada seorang pun selainku mengalaminya. Karena sesungguhnya salah seorang di antara umatku tidak akan ditimpa musibah setelahku yang lebih besar dari musibah yang menimpaku.”

Namun tahukah Anda siapa yang mendampingi Nabi Muhammad saw dalam menghadapi ujian itu? Dia adalah Khadijah binti Khuwailid, perempuan yang juga tak kalah hebatnya dalam hal kesabaran. Ketika Nabi Muhammad dimusuhi oleh kaumnya, Khadijah tampil setia mendampinginya, menjaganya agar tidak terjatuh dalam jurang keputusasaan, dan berusaha mengembalikan keseimbangan suaminya seperti sedia kala, seraya meliputinya dengan suasana yang membuatnya terus percaya diri menyebarkan Islam. Khadijah melakukan semua itu dengan penuh kesabaran.

Dari kisah Khadijah di atas, kita dapat mengatakan bahwa perempuan juga merupakan makhluk Allah yang sangat penyabar, bahkan pada saat tertentu terkadang kesabaran perempuan mengalahkan kesabaran laki-laki. Seperti kesabaran yang dimiliki Ummu Sulaim yang mengalahkan suaminya, Abu Thalhah.

Dikisahkan, suatu hari anak Ummu Sulaim meninggal dunia. Hari itu bertepatan dengan kepulangan suaminya, Abu Thalhah, dari berperang di jalan Allah. Melihat suaminya akan segera tiba di rumah, Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya, “Jangan kalian ceritakan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya, biarlah aku sendiri yang akan menyampaikannya.”

Tatkala Abu Thalhah datang, dengan segera Ummu Sulaim menyambutnya dan menghidangkan makan malam kepadanya, sehingga Abu Thalhah pun makan dengan kenyang. Kemudian Ummu Sulaim berhias dan berdandan dengan dandanan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sampai akhirnya, keduanya berhubungan badan pada malam tersebut.

Setelah yakin bahwa suaminya sudah puas dengan pelayannya, dengan sangat hati-hati ia berkata, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum yang meminjam barang kepada seseorang kemudian pada suatu waktu pemilik barang tersebut memintanya kembali, bolehkah mereka menolak permintaan tersebut?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu tidak boleh.” Ummu Sulaim berkata, “Begitu juga yang terjadi pada anakmu, ia telah diminta oleh Yang Meminjamkannya.” Mendengar kabar tersebut, Abu Thalhah marah dan berkata, “Engkau biarkan aku dalam keadaan demikian dan baru engkau kabarkan tentang keadaan anakku.”

Melihat kemarahan suaminya, Ummu Sulaim langsung meminta maaf, seraya menjelaskan bahwa dia melakukan semua itu karena tidak mau membebani pikiran suaminya yang masih lelah karena baru saja pulang berjihad di jalan Allah. Keesokan harinya, Ummu Sulaim mendatangi Rasulullah untuk mengadukan persoalan yang dihadapinya.

Mendengar penuturan Ummu Sulaim, Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam tersebut.” Maka Ummu Sulaim mengandung. Dan sejak itulah, Abu Thalhah dan Ummu Sulaim dikaruniai oleh Allah sembilan orang anak yang semuanya hafal Al-Qur`an.

Dari kisah tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa Ummu Sulaim adalah sosok perempuan yang penyabar. Kesabarannya telah membuat dia selalu sadar akan ketentuan Allah, maka ketika musibah menimpanya (anaknya meninggal dunia), dengan sabar ia masih bisa mengontrol emosinya, sehingga tidak mudah mengeluh kepada siapa pun dan menyalahkan diri sendiri atau nasib yang menimpanya.

Menghadapi ujian memang membutuhkan kesabaran, sama halnya dengan menjalankan ketaatan kepada Allah. Dalam hal ini, kita patut belajar kepada sosok perempuan yang ditemukan oleh Al-Asma`i, perdana menteri pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid. Berikut ini cerita selengkapnya: “Suatu ketika, Al-Asma`i pergi berburu di di padang pasir. Di salah satu tempat, ia terpisah dengan rombongannya. Ketika itu, ia berada di tengah-tengah sahara dalam kehausan dan kepanasan. Lalu ia melihat sebuah rumah di tengah-tengah sahara, la berjalan mendekati rumah itu. Tampaklah seorang perempuan cantik mempesona di dalam rumah itu.

Perempuan itu sendirian tanpa teman. Ketika melihat Al-Asma`i datang, perempuan itu mempersilakan duduk di tempat yang agak jauh darinya. Al-Asma`i berkata kepadanya, "Tolong beri aku air minum.” Wajah perempuan itu berubah. la berkata, ``Sungguh, aku tidak bisa memberikan air minum kepadamu, sebab suamiku tidak mengizinkan aku untuk memberikan air minum kepada orang lain. Tetapi aku punya bagian makan pagiku, yaitu susu. Aku tidak minum dan kau boleh meminumnya.” Lalu Al-Asma`i meminum susu itu dan perempuan itu tidak berbicara kepadanya.

Tiba-tiba ia melihat perempuan itu berubah wajahnya. Dari kejauhan ia melihat sosok laki-laki mendekati rumah. Perempuan itu berkata, "Suamiku telah datang.” Perempuan cantik itu mengambil air dan keluar dari rumahnya. Ternyata suami yang datang itu lelaki tua, berkulit hitam, dan buruk wajahnya. Perempuan itu membantu laki-laki tua itu turun dari untanya, lalu membasuh kedua tangan dan kakiknya, dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan penuh penghormatan.
Namun laki-laki tua itu sangat buruk akhlaknya.

la tidak menegur sedikit pun pada Al-Asma`i. la mengabaikan tamunya. la juga berkata kasar kepada istrinya. Melihat kejadian tersebut, Al-Asma`i menjadi sangat benci pada laki-laki tua itu. la berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari rumah itu. Perempuan itu menghormati Al-Asma`i dengan mengantarnya keluar. Saat itu Al-Asma`i bertanya kepadanya, "Saya menyesali keadaanmu. Kamu dengan segala kecantikan dan kemudaanmu, sangat tergantung pada orang seperti dia. Untuk apa kamu tergantung kepadanya? Apa karena hartanya? Sedangkan ia orang miskin. Karena akhlaknya? Sedangkan akhlaknya sangat buruk. Atau kamu tertarik kepadanya karena ketampanannya? Padahal ia seorang tua yang buruk rupa. Mengapa kamu tertarik kepadanya?”

Wajah perempuan itu pucat pasi. Lalu ia berkata dengan suara amat keras, ”Hai Asma`i, akulah yang menyesali keadaanmu. Aku tidak menyangka seorang perdana menteri Harun ar-Rasyid berusaha menghapuskan kecintaan di hatiku kepada suamiku dengan jalan menjelek-jelekkan suamiku!”

"Wahai Asma`i,” kata perempuan itu menegaskan, "tidakkah kau tahu mengapa aku melakukan semua itu? Aku mendengar Nabi yang mulia bersabda, ”lman itu setengah-nya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah syukur. Aku bersyukur kepada Allah karena telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan akhlak yang baik. Aku ingin menyempurnakan setengah imanku lagi dengan kesabaran dalam berbakti dan berkhidmat kepada suamiku.”

Ternyata perempuan itu ingin menyempurnakan setengah keimanannya dengan kesabaran setelah ia bersyukur akan kecantikan, kemudaan, dan kebaikan akhlaknya. la bersabar dengan mengabdikan seluruh hidupnya kepada suaminya, sebagai bukti ketaatannya pada perintah Allah.

Dua perempuan yang disebutkan di atas adalah contoh ideal dari perempuan penyabar. Bersama suaminya mereka tak gentar menghadapi kehidupan yang penuh dengan ujian. Bahkan mereka senantiasa memberi dukungan sekaligus hiburan, di saat-saat justru suaminya sudah mulai lelah menjalani kehidupan.

Kenapa perempuan terlihat lebih sabar dibandingkan laki-laki? Hasil penelitian modem menemukan bahwa penyebabnya adalah karena perempuan memiliki hormon katekolamin lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Kate-kolamin adalah hormon yang mempengaruhi kesabaran seseorang. Semakin banyak tubuh memiliki hormon ini, maka orang tersebut semakin tidak sabar.

Selain itu perempuan juga lebih tahan dalam menghadapi goncangan hidup. Mereka lebih tabah, sedangkan kaum laki-laki umumnya lebih gampang pecah (fragile) dan kurang tahan banting. Hal ini bisa kita buktikan dengan seringnya gangguan jiwa yang menjangkit kaum laki-laki dibanding perempuan. Bukti lainnya adalah seringnya terjadi kemarahan pada laki-laki, padahal penyebabnya sangat sepele. Jika kita perhatikan di sekeliling kita, betapa mudahnya kaum laki-laki marah-marah hanya karena masalah sepele. Sebagai contoh, gara-gara istrinya memasak makanan keasinan atau istrinya lama di kamar mandi, tidak sedikit laki-laki yang memarahi dan menghina istrinya.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa