Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Perempuan yang Taat kepada Suami III
Perempuan yang Taat kepada Suami III
Di antara rahasia yang wajib dijaga oleh perempuan dan tidak boleh disebarkan kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua dan kerabatnya adalah "rahasia tentang berhubungan badan" dengan suaminya. Sebab Nabi SAW benar-benar
Rabu, 17 Desember 2014

8. Tidak Suka Menyebarkan Rahasia Suami

Perempuan shalehah akan selalu berusaha menyim­pan rahasia rumah tangganya, tidak akan menceritakan sepatah kata pun apa yang ada dalam diri suami dan keluarganya. Sebab dia mengetahui bahwa suaminya akan sa­ngat benci dan marah apabila ia menceritakan rahasia yang seharusnya disimpan rapi. Sedangkan jika suami marah ber­arti sama dengan mengundang murka Allah SWT.

Di antara rahasia yang wajib dijaga oleh perempuan dan tidak boleh disebarkan kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua dan kerabatnya adalah "rahasia tentang berhubungan badan” dengan suaminya. Sebab Nabi SAW benar-benar melarang perbuatan seperti itu. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Asma` binti Yazid bahwasa­nya ia pernah duduk bersama Rasulullah SAW dan banyak orang, baik pria maupun perempuan. Lalu beliau bersabda, "Mungkin di antara kalian ada lelaki yang menceritakan apa yang dilakukan pada istrinya dan mungkin ada perempuan yang menceritakan apa yang dilakukannya dengan sua­minya.” Seketika itu juga semua orang terdiam. Lalu Asma binti Yazid berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka semua telah berbuat demikian.” Maka beliau bersabda, "Janganlah kalian berbuat demikian. Sebab sesungguhnya yang demikian itu seperti setan laki-laki bertemu dengan setan perempuan di persimpangan jalan, lalu setan laki-laki menyetubuhi setan perempuan, sedangkan semua orang melihatnya.” (HR. Ahmad).

9. Selalu Mendampingi Suami dalam Suka dan Duka

Seorang perempuan yang merindukan surga tidak akan pernah meninggalkan suaminya pada saat sang suami sedang mengalami permasalahan berat. Sebagaimana ia telah bersama-sama merasakan kebahagiaan bersama sang suami, maka ia juga harus bersama-sama dalam keadaan susah tanpa diserta keluhan yang berlebihan dan kemarahan. Sebab kehidupan ini selalu berputar, dan ini sudah menjadi ketentuan Allah SWT bagi hamba-hambaNya.

Perempuan shalehah senantiasa berjalan dengan suaminya dalam kebiasaan-kebiasaan yang baik, serta ber­usaha membantu sang suami merealisasikan rencana-ren­cananya, dan menghindari semua hal yang tidak disukainya.

Hal tersebut sangat berpengaruh dalam diri dan pikiran laki-laki daripada sifat-sifat yang lainnya. Kecantik­an akan hilang ditelan waktu, sama halnya dengan harta yang bisa musnah sewaktu-waktu. Demikian juga sifat-sifat lainnya. Sementara itu, keseiringan ruh istri dengan ruh suaminya, serta keharmonisan kebiasaannya dengan kebi­asaan suaminya merupakan hal yang akan abadi dalam diri perempuan dan laki-laki.

Sulaiman al-Hakim pernah mengatakan, "Kecantikan adalah sebuah kebohongan, dan keindahan selalu tidak me­miliki kepastian. Namun perempuan yang se-iya dan sekata dengan suaminya berhak mendapatkan pujian.”

Muawiyah bin Abu Sufyan pernah bertanya kepada Sha`sha`ah bin Shauhan, geneolog terkemuka di Arab, "Per­empuan mana yang paling menarik bagimu?” Sha`sha`ah menjawab, "Perempuan yang selalu memberikan kepada­mu apa yang engkau inginkan.”

Muawiyah bertanya lagi, "Mana di antara mereka yang paling engkau benci?” Sha`sha`ah menjawab, "Perempuan yang paling jauh dari apa yang menjadi keinginanmu.”

Dengan demikian dapat ditegaskan, kebersamaan dan keseiringan perempuan dengan suaminya merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi kelanjutan kasih sayang dan kelanggengan hubungan suami dengan istrinya. Sedangkan keadaan sebaliknya akan menimbulkan keben­cian suami kepada istrinya dan menghancurkan ikatan yang telah mereka jalin bersama.

10. Tidak Menjadi Perempuan Karier kecuali dengan Izin Suami

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa perem­puan shalehah adalah mereka yang tidak pernah keluar rumah, kecuali dengan izin suaminya. Namun demikian, bukan berarti seorang suami harus selalu melarang istrinya pergi keluar rumah, apalagi jika kepergiannya untuk kepentingan beribadah atau untuk mencari nafkah demi keluarga.

Pada dasarnya, mencari nafkah adalah kewajiban pokok suami. Namun jika suami tidak bisa memenuhi kebu­tuhan keluarganya, seorang istri boleh saja bekerja membantu suami asalkan dengan izin suami. Dalam hal ini, jika suami tidak mengizinkan hendaklah ia mentaatinya.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama ten­tang istri yang menjadi perempuan karier atau bekerja di luar rumah. Sebagian ulama berpendapat haram hukumnya bagi istri bekerja di luar rumah, meninggalkan suami dan anak-anaknya, karena jihadnya seorang perempuan adalah di rumahnya. Sedangkan sebagian yang lain membolehkan dengan syarat suaminya mengizinkan dan pekerjaan yang dilakukannya tidak melanggar syariat agama.

Ada beberapa alasan istri bekerja di luar rumah. Perta­ma, adanya tuntutan beban hidup. Mayoritas istri yang men­jadi perempuan karier adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, demi membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anaknya. Kedua, sebagai bentuk aktualisasi diri. Tidak sedikit istri yang bekerja di luar rumah bukan karena alasan ekonomi, tapi lebih karena alasan aktualisasi diri. Istri seperti ini biasanya sudah bekerja sebelum meni­kah, dia memiliki keahlian tertentu dan jabatan tertentu sebelum nikah. Sehinga tatkala sudah menikah sangat sayang kalau ditinggalkan meskipun suaminya sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Ketiga, tuntutan masyarakat. Tidak sedikit para istri yang bekerja di luar rumah karena memang tuntutan masyarakat yang tidak bisa ditinggalkan, seperti menjadi dokter kandungan, bidan, mengajar anak-anak, dan pekerjaan lain yang hanya menuntut keahlian perem­puan.

Jika kita mengkaji sejarah Islam secara mendalam, maka akan ditemukan fakta bahwa para perempuan pada masa awai Islam banyak yang beraktivitas di luar rumah un­tuk menuntut ilmu dan bekerja. Sejarah mencatat banyak figur perempuan yang terjun di berbagai bidang. Berikut ini adalah para perempuan yang pernah berbisnis atau men­jadi perempuan karier pada masa awai Islam.

a. Siti Khadijah, istri Nabi Saw, dikenal sebagi pebisnis an­dai, perempuan paling kaya di Jazirah Arab, ia berbisnis sampai keluar negeri dan ia sendiri bertindak sebagai manager.

b.  Ummu Salim binti Milham, menekuni bidang tata rias pe­ngantin.

c.  Zainab binti Jahsy, berprofesi sebagai penyamak kulit bi- natang.

d.  Al-Syifa`, perempuan yang pandai menulis, sebagai sek­retaris dan pernah diangkat oleh Khalifah Umar ibnu Khaththab sebagai kepala pasar Madinah.

e.  Raithah, istri Abdullah ibnu Mas`ud dikenal sebagai pe­ngusaha yang sukses dan wirausahawan andai.

f.   Shafiyah binti Huyay, istri Nabi yang pernah menjadi pe­rawat dan bidan.

g.  Qilat Ummi Bani Anmar, konsultan dalam bidang tata ni­aga dan perdagangan.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa perempuan boleh saja bekerja di luar rumah dengan syarat ia mendapat - izin dari suaminya, dan pekerjaan yang dilakukannya tidak merendahkan martabat sebagai perempuan serta tidak bertentangan dengan aturan agama dan etika. Jika syarat- syarat itu tidak terpenuhi, perempuan dilarang bekerja di luar rumah.

Penyebab perempuan tidak boleh bekerja di luar ru­mah menurut para ulama di antaranya:

a.  Jenis pekerjaan yang pada dasarnya haram. Yang ter­masuk ke dalam jenis pekerjaan ini adalah menjadi PSK, kurir narkoba, pelayan kafe atau baryang harus bergaul dengan lawan jenis, penipuan, lintah darat, dan lainnya.

b.  Jenis pekerjaan yang pada dasarnya halal, tetapi me­langgar syariat. Yang termasuk ke dalam jenis pekerjaan

ini adalah pekrjaan yang mengharuskan berpakaian ter­buka yang menyebabkan auratnya terbuka. Sekretaris adalah jabatan yang halal, tetapi keharusan berpakaian tanpa jilbab, sehingga terbuka auratnya adalah melang­gar syariat Islam. Para perempuan yang memilih peker­jaan ini hendaklah berpikir bahwa Allah Mahakaya. Allah tidak akan menutup rezeki hamba-Nya yang bertekad mencari nafkah dengan cara halal. Kalau rezeki yang halal masih bisa dicari, kenapa harus mencari rezeki de­ngan cara yang haram dan melanggar syariat, c. Hal-hal yang sifatnya peribadi, sehingga membuat per­empuan dilarang bekerja. Misalnya, tidak bekerja karena tidak mendapatkan izin suami, tidak bisa menjaga per­gaulan dengan lawan jenis, dan sebagainya.

Oleh karena itu bagi perempuan yang terpaksa harus bekerja di luar rumah atau menjadi perempuan karier hen­daklah ia memperhatikan hal-hal berikut:

a.   Pekerjaan yang dipilih adalah yang sesuai syariat. Dalam hal ini, perempuan harus pintar memilih jenis pekerjaan. Jangan terjebak oleh pekerjaan yang akan menjeru­muskannya pada hal-hal yang haram. Seperti prostitusi, model yang mempertontonkan anggota badan, peng­adaan barang-barang haram, dan sebagainya.

b.  Tetap teguh dengan identitasnya sebagai perempuan dengan cara tetap memenuhi adab sebagai perempuan muslimah, baik dalam berbicara, berpakaian, bergaul, dan bertingkah laku.

c.  Jika perempuan sudah menikah hendaklah ia harus mendapatkan izin dari suaminya. Segenting apa pun urusan istri, tanpa izin suami tidak boleh dilakukan, apa­lagi harus keluar rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Tiap istri yang keluar rumah tanpa izin suaminya, tetap berada dalam murka Allah sehingga kembali ke rumahnya atau dimaafkan oleh suaminya.” (HR. Ahmad).

d.Tidak mengabaikan tugas utama sebagai istri dan ibu. Suami selalu membutuhkan istrinya, demikian juga anak- anak selalu membutuhkan ibunya.

Dalam hal sebagai istri dan ibu, perempuan yang be­kerja di luar rumah seyogianya memperhatikan hal-hal beri­kut:

a.   Sadar akan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Seorang istri atau ibu harus selalu ingat bahwa kepen- / tingan dan keutuhan keluarga adalah hal yang utama. Syarat ini pun berlaku kepada laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Seorang muslimah bisa masuk surga dari pintu mana pun, selama ia mengerjakan shalat, puasa, dan taat kepada suami dalam hal kebaikan.

b.  Nilai tambah karena keikhlasan membantu suami. Istri pada dasarnya tidak berkewajiban menafkahi keluarga. Meskipun demikian, jika dirinya berkenan untuk mem­berikan sebagian hartanya (dari hasil bekerja) kepada suami dan anak-anaknya, maka perbuatan itu akan ter­catat sebagai sedekah dengan pahala berlipat ganda, yakni pahala sedekah plus pahala membantu suami.

c.   Mampu menjaga keseimbangan dalam perannya. Kelu­arga dan pekerjaan adalah dua hal yang sama-sama akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Jagalah keseimbangan keduanya. Jagalah keseimbangan diri, perasaan, pikiran, tenaga, dan waktu dalam peranannya sebagai ibu bagi anak-anak, sebagai istri bagi suami, dan sebagai profesional dalam lingkungan kerja.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perempuan shalehah yang dirindukan surga adalah mereka yang selalu mengutamakan ridha Allah dan suaminya dalam kondisi apa pun. Termasuk apabila jika ia berprofesi seba­gai perempuan karier yang sibuk bekerja di luar rumah. Se­bagai perempuan shalehah, hendaklah ia mengutamakan kepentingan suami, keluarga, dan anak-anaknya dibanding­kan kepentingan pekerjaannya.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa