Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Aku anak orang gila
Aku anak orang gila
Selasa, 00 0000

 

Meskipun ayahku harus bekerja pagi-pagi, ia tak pernah mengeluh dan marah-marah. Ayah adalah pegawai yang rajin. Seharian ayahku mengayuh sepeda tuanya dengan peluh mengucur dan napas terengah-engah. Menjelang matahari terbenam barulah ia pulang dengan rasa lelah. Namun, tiap menerima upah mingguan ia tak pernah lupa membawa oleh-oleh untukku. Kadang-kadang berupa dua butirpermen atau sebungkus kacang asin. rapi hal itu cukupmenggembirakan bagiku, anak keluarga miskin di Tegal, Jawa Tengah.

Ibuku juga rajin sekali. Tidak Saja mengurus rumah-tangga dengan baik, tetapi juga ikut berdagang kecil-kecilan untuk menambah penghasilan. Jadi, apabila hidup kami masih selalu kekurangan, sedikit pun mereka tidak dapat disalahkan. Barangkali kami memang ditakdirkan sebagai orang miskin dan harus bernasib sengsara.

Tiba-tiba, entah apa sebabnya, pada suatu hari ayahku pulang dari pekerjaannya lain dari biasanya, tabiatnya berubah. Ia sering tersenyum-senyum sendirian dan tidak mau bekerja. Aku tidak lagi diajaknya bercanda. Kepadaku ia selalu tertawa, tetapi matanya tidak memandang ke arahku dan tidak bicara apa-apa. Padahal ibu pernah berpesan kepadaku, "Kalau kamu be- sar nanti, jadilah seperti bapakmu. Ia seorang lelaki yang jujur dan tabah. Kini, alangkah menyedihkan.

Perangai ayahku makin membingungkan. Ia suka berteriak-teriak, jauh berbeda dengan sikapnya dulu yang lembut dan penyayang. Temah-teman sekolahku mengatakan, ayahku sudah berubah ingatan, alias tidak waras. Ya Allah, betulkah itu? Betulkah aku anak orang gila? "Sudahlah, jangan kaupedulikan omongan mereka," ujar Ibu tiap kali kuceritakan cemooh teman-temanku itu sambilmenangis. "Bagaimana pun ia adalah ayahmu. Dan kamu harus tetap bangga menjadi anaknya."

Sungguh aku sangat mengagumi ibuku. Ia, yang kini seharian membanting tulang sampai tidak sempat istirahat, dengan setia meladeni ayahku yang makin la- ma makin beringas sehingga aku takut mendekatinya, Maka terjadilah peristiwa yang meremangkan bulu kuduk itu ketika pada suatu malam ibuku tidur di kamar belakang, sementara kamar depan ditempati ne- nekku yang sudah renta. Seperti biasanya, seja menderita sakit pikiran, ayahku tidur di balai-balai ruang tamu. Tiba-tiba ibu membangunkan aku yang sedang lelap di sisinya, dan dengan napas memburu disuruhnya aku keluar selekas mungkin. Aku terkejut dan kebingungan.

Mengapa? Aku bertanya-tanya. Apakah Ibu juga sudah...? Oh, tidak. Rupanya ia mencium firasat tidak enak sebab ayahku sedang berteriak-teriak dengan garang, menghadang di pintu belakang. Aku pun diseret Ibu menuju. pintu depan. Tapi terlambat. Ayahku melompat dan mencengkeram kebaya Ibu, lantas mence kiknya dengan keras. Ibu tidak dapat mengeluarkan suara. Akulah yang menjerit-jerit minta tolong. Nenekku terjaga. Ia berusaha melepaskan Ibu. Tapi apa daya seorang wanita tua yang lemah itu. Nenek didorong Ayah sampai terjerembab ke ubin dan kepalanya membentur daun pintu.

Untung para tetangga berdatangan. Mereka beramai-ramai mencegah, namun tidak berhasil. Ayahku bagaikan kesetanan. Entah kekuatan dari mana yang me- nyebabkan Ayah memiliki tenaga sebesar itu. Barulah keberingasan ayahku mereda setelah dua orang pamanku tiba dan membujuk Ayah supaya membebaskan Ibu dari cengkeraman kedua tangannya.

Ibu seolah terlepas dari tiang gantunsan. Ia jatuh terduduk dengan wajah masih ketakutan. Sedangkan ayahku malahan sudah mulai tersenyum-senyum kem- bali sambil mengobral sumpah-serapah yang sulit dipahami. Maka sejak saat itu ayahku kian tersohor, diperbincangkan orang di mana-mana karena kegilaannya yang berbahaya. Apalagi setelah ia menggelandang tanpa tu- juan seraya tertawa dan mengumpat-umpat sepanjang jalan. Semua orang mengenal namanya, dan aku pun terbawa-bawa mendapat titel "anak orang gila", sebuah gelar yang membuat diiiku dijauhi dan dipencilkan teman-teman sekolahku. Tidak ada lagi yang akrab denganku kec4ali ibuku.

Ibu hanya oranq kampunq yang tidak berpendidikan. Tapi ibuku adalah pendidik agung yang sangat berjasa. la senantiasa mengajakku dengan santun untuk lebih banyak mengadu kepada Tuhan ketimbang kepada sesama manusia. Pada malam-malam tertentu ia membangunkan aku untuk menjalankan salat tahajud.

"Apa pun yang terjadi, jangan marah kepada Tuhan karena kita tidak tahu, hikmah apa yang tersembunyi di balik semuakehendak-Nya," ucap Ibu dengan lembut sembari mengusap-usap rambutku. > Namun, aku tak dapat membisu di muka wali kelasku. Kepada Bu Guru kuceritakan suasana keluargaku. Dan ia menanggapi keluhanku dengan bijaksana. Barangkali karena aku cerdas dan rajin, meskipun anak orang gila; Menjelang tamat SD aku bertanya kepadanya, "Bu Guru apakah anak orang gila boleh menjadi mahasiswa...! Tentu, tentu, sebab utnat manusia sama saja derajatnya. Yang penting kamu harus rajin dan sabar. Insya Allah Tuhan pasti memberi jalan," jawab Bu Guru yang baik hati itu.

Mendengar jawaban itu semangatku makin terbangkit untuk melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Waktu itu tidak terpikir olehku siapa yang akan membiayai, padahal aku masih mempunyai seorang adik, dan ibuku hanya mencari nafkah seadanya, yang kadang-kadang tidak cukup untuk keperluan sehari-hari. Apalagi setelah dalam pengumuman hasil Ebtanas, nomorku terpampang sebagai pemegang peringkat teratas di antara seluruh SD yang ada di kotaku. Aku gembira, tapi cuma kunikmati sendiri sebab dalam acara perpisahan, aku tak berani hadir bersama teman-teman yang lain untuk merayakan dalam pesta yang meriah.

Aku mesti tahu diri karena keluargaku miskin dan papa. Kupandangi kemeriahan acara itu dari balik garden jendela yang lapuk dan campang-camping. Aku bersumpah, akan kulawan kemiskinanku dengan bekerja apa saja sebelum melanjutkan sekalah. Maka pada hari itu juga aku berjalan mengelilingi kata TG untuk mencari pekerjaan. Di sebuah perusahaan kantraktar ba- ngunan aku ditegur aleh salah searang mandarnya, "Huh. Kecil-kecil begini sudah mau cari pekerjaan. Kenapa tidak meneruskan sekolah saja?" Aku: menggigit-gigit bibir, Dalam hati aku memberontak, "Siapa yang tidak suka menuntut ilmu? Aku ingin pandai. Karena Itulah aku mau bekerja, agar dapat mengumpulkan biaya sekolahku nanti."

Mandar itu tetap berwajah sangar. Tetapi, ia berjiwa besar. Aku diterimanya bekerja sebagai pembantu tukang batu dalam membangun sebuah taka swalayan . Penghasilanku Rp 1250 sehari. Hatlku terhlbur meskipun kala itu Ibuku sudah tiga bulan dlbawa uwakku bekerja ke Jakarta. Kabarnya sebagal pelayan di warung makan miliknya. Taka yang kubangun sudah berdiri dengan megah. Selaku pembantu tukang batu, aku bangga menyaksikan gedung swalayan yang menjual berbagai macam barang itu. Namun, kadang-kadang aku sedih juga.

Di bangunan itu keringatku ikut menetes, dan aku merasa mempunyai andil cukup besar pada waktu dl tengah terik matahari aku bekerja sambil berpuasa sepanjang bulan Ramadan. Tetapi, setelah sial aku tidak bisa ikut menikmatinya lantaran jaraknya denganku dipisahkan oleh perbedaan cara hidup dan jati diri yang kelewat jauh. Bila aku berdiri di mukanya, seolah aku menatap sebuah gunung tinggi yang mustahil bisa kudaki. Meskipun begitu, aku amat bahagia karena aku telah mampu membuktikan kepada dunia bahwa aku bisa menjadi laki-laki sejati. Semua itu kuceritakan kepada ibuku setelah ia pulang dari Jakarta sebulan kemudian. Ibuku juga ikut bangga. Itulah sebabnya barangkali ia mengizinkan aku untuk hijrah ke Jakarta, menggantlkan pekerjaannya sebagai pelayan di warung makan kepunyaan uwakku.

Masya Allah. Jakarta memang benar-benar sangat mengagumkan. Itulah kesanku pertama ketlka aku turun di stasiun bis Pulo Gadung, sesudah menempuh perjalanan yang lambat dan membosankan selama sembilan jam. Tak habis-habisnya mulutku mendecak keheranan, bagaimana berhayal di dunia mimpi. Gedung gedung pencakar langit saling berlomba ke atas, seakan-akan di bumi tidak ada lagi tempat berpijak. Dan nyatanya memang begitu. Aku baru sadar, Jakarta sudah terlalu pengap dan berjejal untuk bernapas. Terutama di kawasan kumuh di Jakarta Timur, tempat uwakku membuka warung nasi kaki lima.<><> Tapi biarlah, aku tldak peduli. Kedatanganku di Jakarta bukan untuk bersenang-senang, melainkan hendak memeras tenaga dan melanjutkan sekolah. Itulah tekadku. Kalau tldak lantaran niat itu, mana tega aku meninggalkan Ibu di rumah bersama adikku yang masih kecil?

Rupanya menjadi pelayan tldak semudah yang kubayangkan. Aku sering membuat kesalahan dalam meladeni pembeli. Kalau sudah begitu, baru aku tahu ba- gaimana perangai orang kampung setelah menjadi penduduk kota besar. Uwakku sering membentak dengan kalimat kasar: "Goblok kamu. Tidak becus melayani pelanggan." Ya, Allah. Inikah uwakku sendiri, yang di kampung terkenal lemah lembut dan budiman? Pantas ibuku tidak mau ikut ke Jakarta lagi, dan dengan deraian air mata melepas kepergianku. Ternyata Jakarta tidak seraman lampu-lampunya yang gemerlapan. Untung aku mempunyai tempat mengeluh yang paling tenteram, yakni dalam salat tahajud di sepertiga malam.

Esok harinya aku sudah dapat bangun dengan segar kembali. Namun, ada suatu pemandangan yang selalu mengusik ketenanganku, yaitu bila anak-anak SMP berseragam biru putih bergegas-gegas menuju sekolah masing-masing di waktu pagi, dan-dengan gembira pulang ke rumah mereka dlsiang hari. Aku iri dan ingin seperti mereka . Akhirnya aku tak sanggup menolak gejolak perasaanku. Secara terus terang kukatakan kepada uwakku kalaupun aku tahu ia pasti marah dan menganggapku tak tahu di uhtung. "Apa? Sekolah?" sahutnya dengan suara lantang. Aku pun berdebar-debar . "Ya, Wak. Saya ingin sekolah," jawabku dengan gemetar...

Uwakku menatap tajam! lantas berkata tegas, "Di Jakarta, kita harus bekerja keras. Siapa yang malas, pasti tersingkir. Itulah sebabnya aku sering marah-marah kepadamu, supaya kamu Jangan cengeng." Ya Wak," hanya itu yang keluar dari mulutku. Namun, ucapan uwakku berikutnya membuatku terlongong-longong tidak percaya. "Ku uji ketekunanmu. Karena itu, aku tidak keberatan. Lanjutkan sekolahmu, insya Allah aku akan membantu sebatas kemampuanku." Ya, Tuhan. Agaknya kecurigaanku kepadanya hanyalah buruk sangka yang tidak berdasar. Uwakku tetap orang kampung yang ulet dan baik hati. Aku menjadi malu kepada diri sendiri, dan berjanji tak kan menyia-nyiakan kepercayaan yang dilimpahkannya itu dengan bekerja lebih giat dan belajar dengan rajin.

Upahku sebagai pelayan kuhemat dan kutabung. Sebagian lainnya kukrimkan ke kampung untuk meringankan beban lbu yang masih menanggung biaya sekolah adikku. Supaya lebihrapi dan terjaga, kuserahkan celenganku kepada Kang Dir, anak lelaki uwakku, yang sudah kuanggap seperti abangku sendiri. Tanpa persetujuannya aku tidak bisa membelanjakan sepeser pun. Betapa bahagiaku saat itu sebab akhirnya aku bisa melanjutkan pelajaran meskipunterpaksa di SMP swasta. Atas saran Kang Dir, aku berhenti dari warung uwakku, dan kini berdagang rokok asongan. Untuk menambah penghasilan, aku juga mengantarkan koran dan majalah kepada sejumlah langganan.

Setahun kujalani kepenatan itu. Belajar sambil berjualan rokok ke pasar-pasar, ke terminal-terminal, bahkan di perempatan-perempatan jalan. Sering kulihat temanku diantarkan dengan mobil. Sopirnya membeli rokok dariku tanpa mengetahui bahwa penjualnya adalah kawan anak majikannya. Namun, aku maslh tetap mematuhi ajaran Ibuku, tiap malam salat tahajud kecuall jika tertidur sampai pagi.

Tibalah masa yang kutunggu-tunggu. Pembagian rapor kenalkan kelas. Kang Dir bertindak sebagal waliku, mengambilkan rapor itu. Alhamdullllah. Aku lang- sung melakukan sujud syukur begitu kulihat nomorku menempati peringkat kesatu dl antara murid-murid SMP lalnnya. Terbayar lunas keprihatinan dan jerih pa- yahku selama ini. Menjelang masuk tahun ketiga, aku terkesan oleh ceramah Pak Ustaz dalam acara menyambut Tahun Baru Hljriyah 1407 bahwa hljrah berartl pindah dari kehi- dupan lama yang bobrok ke dalam kehidupan baru yang penuh harapan. Aku pun bertekad akan hijrah dari keadaanku yang serba ketinggalan menuju suasana yang lebih baik.

Untuk itu aku ingin berdagang yang lebih besar, kebetulan aku mempunyai kenalan pemuda Aceh yang menjual bak-bak mandi, panci, dan bermacam-macam barang plastik. Aku menyatakan minatku hendak mengiukuti jejaknya, ia menerimaku dengan Ikhlas. Aku diberinya kesempatan untuk turut menanamkan modal. Aku setuju setelah Kang Dir juga mendukung rencanaku itu. Kukeluarkan tabunganku, dan aku mulai menjadi pengusaha kecil-kecilan. Tampaknya aku sedang dimanjakan oleh nasib. Daganganku maju, keuntungannya lumayan. Aku sudah mampu mengontrak rumah sendiri sebab terkandung maksud hendak memboyong Ibu dan adikku untuk tinggal bersama di Jakarta. Kupilih tempat di Rawamangun karena daerahnya cukup strategis untuk berjualan. Sia- pa tahu ibuku juga bisa berdagang apa saja.

Sungguh mujur peruntunganku. Ibuku tidak keberatan menyertai aku ke Jakarta. Demikian pula adikku. Cuma yang mengganjal pikiranku adalah nasib ayahku. Ia masih terus menggelandang dengan ketidak-warasannya yang makin menjadi-jadi. Namun, apa hendak dikata? lasudah tidak mengenali keluarganya lagi, la asyik bergaul dengan dirinya sendiri.<><> Tapi, apakah karena itu tiba-tiba langitku yang cerah berubah kelabu? Akibat devaluasi rupiah, daganganku tidak laku. Terpaksa usaha itu kuhentikan. Un- tung Kang Dir memberi jalan keluar. Ia mempunyai gerobak rokok dan menganggur. Disuruhnya aku memanfaatkannya untuk berjualan. Keuntungannya memang tidak sebesar dulu, tetapi cukup untuk membelanjai kebutuhan kami bertiga, lengkap dengan biaya sekolahku dan adikku sampai aku tamat SMP dan adikku naik kelas.

Sebetulnya aku agak sedih melihat nilai rapor adikku yang terlalu rendah. Namun, kesedihan itu tidak seberat beban jiwaku menghadapi sikap Kang Dir, la tidak seramah dulu. Mukanya kusam. Dan ketlka aku sedang membutuhkan biaya untuk mendaftar ke SMA, ia melontarkan geledek di telinsaku. " Ali. Gerobak rokokku akan kujual untuk membayar utang." Itu saja ucapannya. Ringkas, tetapi menyakitkan.

Lalu, apa yang harus kukerjakan untuk menyambung hldup selanjutnya? Aku memohon kebijaksanaannya. Namun, la tidak bisa dlantarkan. Gerobak rokok itu terpaksa kukembalikan . Pada saat-saat yang rawan itu dua orang sahabatku datang. Namanya WSN dan AFR. Melihat keadaanku mereka mengajakku menghadap ayah WSN yang mempunyal panti asuhan dan sebuah pesantren diluar kota. Dengan tulus ayah WSN menawarkan kepadaku untuk belajar dan bermukim di pesantrennya tanpa biaya. Adikku dimintanya untuk tinggal di panti asuhan supaya dapat dididik lebih cermat dan berdisiplin. "Sebab, dalam masalah kepandaian dan Ilmu pengetahuan, kita tidak berada di bawah bangsa lain. Namun, lantaran tidak berdisiplin, kita selalu tertinggal sekali ke belakang." ujar ayah WSN dengan bijak.

Aku bersyukur. Rupanya Inilah hikmahnya Nabl saw, memerintahkan umatnya untuk memperkokoh silaturrahmi karena para sahabat seringkali memiliki kecintaan melebihi saudara sendiri. Setiba di rumah, Ibuku menyetujui niatku hingga tanpa membuang waktu, adikku segera akan kuantarkan ke panti asuhan itu. Aku sendiri sudah mulai berkemas hendak berangkat ke pesantren. Kulihat Ibu tidak menangis, tetapi matanya basah, berkaca-kaca. Aku tahu ia amat sedih. Inilah yang menyebabkan aku semalaman tidak bisa tidur. Tegakah hatiku meninggalkan Ibu sendirian di Jakarta, dengan berbagai kesulitan dan kekurangannya? Ataukah ia harus kupulangkan ke kampung untuk menyaksikan dengan duka suaminya berkeliaran menjadi tontonan khalayak ramai?

Tldak. Aku tidak mau bertenang-tenang di pesantren sementara Ibuku berterik-terik menjajakan dagangannya. Lantas usaha apa yang bisa kulakukan? Menemukan jalan buntu itu, tiba-tiba datang kembali uluran tangan. Kali ini dari sahabatku anak-anak orang kaya: Hendi, Aris, dan Nouvrlzal. Mereka sengaja mengunjungiku untuk menawarkan bantuan yang amat berharga. Aku dipersilakan tinggal di rumah orang tua Nouvrlzal yang menampung sejumlah pemondok lain yang kesulitan membayar kontrakan. Salah seorang di antaranya adalah Pak Tri, guruku sendiri. Menurut Nouvri, aku juga bisa mengajak ibuku sekalian.

Aku minta waktu untuk berpikir. Tentu saja setelah kusampaikan terlma kasih yang tak terkira atas keikh lasan mereka hendak menolongku. Dan tatkala hal ni kukemukakan kepada Ibu, kellhatanya la kurang setuju. Dengan halus ia berkata, "Anakku. Boleh jadi hidupmu lebih terjamin dengan menumpang di rumahnya. Demikian pula Ibu, tak perlu susah-susah berdagang keliling dengan hasil tidak memadai. Namun, menikmati hasil jerih payah sendiri rasanya lebih besar dibandingkan dengan menunggangi kekayaan orang lain. Niat mereka memang ikhlas. Dan mereka sudah mendapat pahala dengan kemuliaan itu. Tetapi, kita tidak berdosa untuk menampiknya dengan sopan."

Maka kubulatkan tekadku untuk berusaha bangkit kembali. Adikku tidak jadi kubawa ke panti asuhan. Bukan karena menganggap pantl asuhan tak kan mampu menjamin penghidupan dan pendidikannya. Tidak. Aku cuma tidak tega melepaskannya dari kasih sayang Ibu yang masih sangat dibutuhkannya. Juga lantaran ibuku tampaknya begitu mencintainya, melebihi dirinya sendiri. Pantaskah semenjak Ibu terpisah dari ayahku akibat penyakit jiwanya, ia pun harus diceraikan pula dari jantung hatinya?

Namun, dengan usaha apa aku dapat mengatasi kemelut ini? Dari slapa aku blsa memperoleh petunjuk? Untuk mendapat jawabannya aku berdoa lebih lama dalam salat tahajud. Ketika penduduk sedang lelap, aku mengangkat kedua tanganku ke atas, memohon limpahan karunla-Nya. Esoknya aku datang kepada Kang Dir bagaimana pun sikapnya kini berubah kepadaku. Semua keluh-kesahku kusampaikan kepadanya. Hatinya luntur, la membolehkan aku menggunakan gerobak rokoknya, dengan syarat, dalam dua minggu harus sudah menyediakan uang sebanyak Rp 100.000, untuk membayar utangnya. Aku mengangguk walaupun kuhitung sisa uangku tlnggal Rp 45.000,00 sesudah kupotong untuk melengkapi daganganku.

Memang aku ragu-ragu, bisakah kekurangannya kuperoleh dalam jangka dua minggu? Bismillah. Aku pantang mundur. Aku yakin, dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dan kesabaran menerima ujian Tuhan, pintu keberkahan-Nya suatu saat pasti terbuka. Terbukti betul dugaanku. Para sahabatku berdatangan menambahi kekurangan yang masih Rp 55.000 itu. Dengan uang jajan mereka, teman-teman se-SMA-ku itu ada yang menyumbang Rp 10.000,00, Rp 15.000,00, dan sebagainya sehingga biaya yang kubutuhkan sudah berada di kantungku.

Aku kini dengan tenang dapat berjualan rokok dan beberapa baranq kebutuhan sehari-hari lainnya. Dan dengan keuntungannya aku bisa membiayai adikku, memperpanjang kontrak rumah, serta mengongkosi sekolahku di kelas terakhir sebuah SMA swasta. Ibuku tidak perlu lagi memeras keringat. Aku sudah mampu menanggung semua keperluan rumah tangga. Malah kepada pamanku di kampung juga kukirimkan sejumlah uang tiap bulan untuk kepentingan ayahku yang masih tetap melayang-layang dalam dunianya sendiri.

Cuma yang senantiasa membimbangkan perasaanku, sampai sekarang Kang Dir belum menagih uang gerobak itu, dan selalu menolak jika hendak kuserahkan dengan alasan orang yang mempunyai piutang belum datang. Jadi, gerobak itu masih belum menjadi milikku. Layakkah aku terus-terusan menggunakannya? Ataukah Kang Dir menyimpan maksud lain? Memperingan bebanku barangkali? Atau ...? Ah, siapakah kiranya yang bisa menjawab keragu-raguanku ini?







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa