Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Do'a orang kecil
Do'a orang kecil
Selasa, 00 0000

 

Tapi tidak. Sungguh mati tidak. Suripah tidak ingin Sutini seperti Suminem betul-betul. Sebab Suminem bukannya dicerai oleh Sudarpo. Suminem yang minta cerai dan terpaksa dikabulkan Sudarpo ketika Suminem dijanjikan bakal dijadikan istri simpanan oleh seorang camat di Subang. Ternyata tidak. Suminem dibawa ke Jakarta oleh Casmin dan digendak oleh taukeh Cina di Grogol. Untung nasibnya baik. Ia sekarang kaya-raya. Dan hartanya itulah yang menghapus kesan buruk di kampung sehingga kepulangan Suminem sekarang selalu menjadi pembicaraan ramai. Bahkan Pak Lurah ikut menyambut kedatangannya dengan mengundang makan-makan bersama para anggota arisan Mitra Wanita. Siapa sih yang tidak silau melihat berlian gemerlapan di leher dan tangan, dengan kendaraan Suzuki terbaru?

Hal itu memang pernah disinggung oleh Ustaz Sujai di masjid dalam pengajian minggu lalu. Kata Ustaz Sujai, orang dizaman sekarang gampang melupakan cacat orang lain asalkan bisa menabut uang atau memajangnya. Taruhlah seseorang berhasil menjadi hartawan dengan korupsi. Untuk membuang kesan jelek di mata masyarakat, bersedekah saja banyak-banyak kepada fakir miskin atau masjid. Dalam sekejap, koruptor itu akan dielu-elukan sebagai dermawan yang dihormati. Itulah sebabnya manusia selalu berlomba-lomba meraup kekayaan dengan segala cara, baik yang haram maupun yang tidak halal lantaran hanya kekayaanlah yang mampu mengatrol naik status seseorang di tengah masyarakat.

Sebagian besar isi pengajian itu tidak dimengerti oleh Suripah. Tapi satu hal yang diingatnya benar, Pak Ustaz Sujai orangnya kocak. Dan Suripah senang menghadiri pengajiannya sebab Ustaz Sujai tidak pernah mengutuk orang yang tidak mengerjakan sembahyang lima waktu, dan juga tidak menganggap maksiat tradisi jaringan di Kandanghaur. Makanya, setiap giliran Ustaz Sujai yang memberikan pengajian, masjid senantiasa penuh, sampai luber ke halaman, walaupun pada waktu salat jamaah isa, sebelum acara cerarnah dimulai, yang bersembahyang kurang dari satu saf.

Namun, Surifah agaknya harus memperpanjang masa kesabarannya. Dalam tiga hari belakangan ini Kang Tasrip tidak berhasil memperoleh tangkapan ikan yang memadai. Malah terhitung rugi sebab harga solar di luar pom bensin kian tinggi dan juragan pemilik kapal tidak mau menurunkan uang sewanya. Itulah yang membuat Suripah mengerutkan kening sejakpetang. Dan Slamet, anak bungsunya, beberapa kali kena damprat kemarahan. "Mau ke mana, Kang?" tegur Suripah kepada suaminya yang kala itu sudah berpakaian cukup necis. "Beli kupon Porkas," jawab Tasrip hampir tidak acuh.

Itulah yang membuat Ustaz Sujal cuma blsa mengelus dada. Ia tak habls pikir, penghasilan Pak Tasrip hanya pas-pasan, malah kurang kalau tldak dibantu oleh Tariah yang tiap bulan selalu mengirimkan uang dari Jakarta. Namun, penduduk Karangdawa, termasuk orang tua Sutini, tldak kapok-kapok membeli kupon Porkas. Apa hasilnya? Rejeki nomplok yang diharapkan tak kunjung muncul sementara yang bertambah kaya adalah penjual dan bandar buntutannya. Akibat- nya, banyak di antara mereka yang waktu pagi tidak bisa menikmati sarapan nasi, tetapi hanya memakan harapannya sendiri.

Padahal Sutini mengancam tak kan mau mengunjungi pasar jaringan dua malam lagi jika tidak dibelikan pakaian baru. Maklum, gaun dan baju yang biasa di- pakainya sudah tidak pantas untuk mejeng dl Kandanghaur. Dengan berat hati terpaksa malam Itu juga Suripah mendatangi rumah Babah Go Liem untuk minta tolong. "Wah, wah, berat sekali, BI," jawab Babah Tambun Itu. "Yang belum dibayar saja masih dua ratus ribu, tidak termasuk bunganya. Kalau sekarang ngutang lagi, lalu bagaimana membayamya?"

"Ndak banyak kok, Bah. Cuma tiga puluh lima ribu," sahut Suripah mengiba-iba. "Biar tiga puluh lima ribu kan duit semua, bukan krikil," bantah Babah Go Liem. "Saya dengar Suripah juga ngutang sama Wan Dolah sebanyak seratus dua puluh lima ribu. Apa tidak takut nanti sawah atau rumahmu kena beslah ?" "Yah, Itu sih soal nasib, Bah. Yang penting anak saya Sutini harus punya pakaian yang agak pantas. Mudah-mudahan kiriman kakaknya bulan depan sebanyak yang saya minta sebab saya sudah kirim surat mengenai jumlah utang saya," sahut Suripah agak panjang sampai sebetulnya ia sendiri sudah bosan hendak meneruskan ucapannya.

Akhirnya Babah Go Liem meluluskan permintaan Suripah. Dan hal ini membuat Babah Go Liem meng-gerutu. Selama ini ia selalu menjadi bulan-bulanan tuduhan orang. Ia dicap lintah darat, tukang renten, dan pengisap darah. Padahal ia banyak menolong penduduk Karangdawa dan sekitarnya. Kalau mendadak anak mereka sakit, mau pinjam uang kepada juragan perahu tidak diberi, kepada siapa pula mereka minta tolong?

Kalaupun untuk pinjaman itu ia menetapkan bunga sebanyak 20%, toh wajar saja mengingat orang dagang pun keuntungannya kurang-lebih sebesar itu pula. Memang sudah ada beberapa orang yang disita tambak ikannya, perahunya, rumahnya, atau sawahnya, tetapi itu semua dilakukan dengan terpaksa lantaran mereka tidak mampu melunasi utang-utangnya.

Nyatanya, dengan uang pinjaman dari Babah Go Liem, Bi Suripah mampu membuat wajah Sutini menjadi merah dadu setelah bahan brukat warna kuning gading yang dijahit Bu Sopian sore tadi selesai dan dipakainya ngepas sekali, seimbang dengan bentuk tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang tidak terlalu hitam. Rasanya tanggal delapan bulan Jumadil Awal yang tiggal besok pagi kok lama nian. Gadis-gadis Karangdawa sudah mulai gelisah menunggu suratan takdir yang seolah terbeber di lapangan Kandanghaur depan Masjid Jami Attaqwa.

Di seputar itulah pasar jaringan berlangsung, seakan secara tidak langsung digalakkan agar sesudah itu gadis-gadis yang telah memperoleh jodoh segera menghadap Kantor Urusan Agama untuk dinikahkan. Soal bagaimana nasib rumah tangga mereka sesudah itu, agaknya tidak perlu dipikirkan sejak dini. Yang penting kawin dulu sehingga para gadis terbebas dari tuduhan tidak laku atau perawan tua. "Bagaimana Tin, kamu mau menunggu Darsan di tempat yang dijanjikan dulu?" tanya Darti sambil mengoleskan bedak Fanbo di wajahnya yang bundar. Ia se- betulnya sudah membeli eye-shadow, tetapi memakainya kurang mahir sehingga Sutini memberi saran supaya tidak usah dipasang.

Seperti bulan lalu, juga dalam setiap keperluan yang lain, Sutini lebih suka berdandan di rumah Darti yang sudah diterangi lampu listrik. Ia merasa kurang leluasa mematut-matut diri di rumah sendiri. Apalagi malam ini lampu petromaks bapaknya dipakai ke laut. Akibatnya penerangan di depan cermin hanya remang-re mang. "Aku bigung Dar," jawab Sutmi. Ia memang betul-betul bmgung memikirkan sikap emaknya. "Kelihatannya emakku menyukai keluarga Darsan dan bangga aku ditaksir cowok yangkasep itu. Tetapi, dalam perkataannya, emakku seakan melarangku menemui Kang Darsan di pasar jarmgan nanti." "Mungkm maksudnya agar kamu menjajaki dulu, apakah tidak ada yang lebih baik dari Darsan ."

Sutmi mengangguk. "Barangkali." Sesudah itu pembicaraan mereka terhenti karena di luar kedengaran teman-teman mereka sudah berdatangan. Kelihatannya mereka sudah tidak sabar menanti lebih lama sampai salah seorang di antaranya berseru, "Sudah malam, Dar! Ayuk cepat. Jangan cakep-cakep, nanti kami nggak kebagian." Lalu mereka tertawa cekiklkan. Seluruhnya ada empat orang, yaitu Casmi anak Pak Carmad, Rukiyah anak Haji Karmun, Sinta anak Bi Tireng penjual rujak, dan Tina anak Pak Carik. Rata-rata umur mereka sebaya, sekitar empat belas dan enam belas tahun. Yang paling tua hanya Rukiyah, sudah delapan belas tahun, tetapi belum punya suami. Padahal umumnya, gadls setua itu di Karangdawa sudah memiliki anak berumur setahun.

Setelah puas dengan melirik kecantikannya di cermin untuk terakhir kali, Darti dan Sutini segera keluar dari kamar, yang di Karangdawa dinamakan senthong. Keduanya disambut dengan celoteh tak henti-henti oleh teman-temannya seraya melangkah dari beranda menuju ke jalan setapak yang gelap dan berdebu.

Bapak dan ibu Darti masih di masjid karena kebetulan malam itu bertepatan dengan pengajian bulanan. Dan mereka tidak merasa kehilangan pada waktu tiba di rumah, Bejo, adik Darti, mengatakan bahwa kakak perempuannya itu sudah berangkat ke Kandanghaur.

"Akhirnya sampai juga giliran anak kita, ya Mbok," ucap Pak Dakri kepada istrinya. Mbok Dakri manggut-manggut. "Betul juga ucapan Ustaz Sujai tadi. Perjalanan waktu rasanya cepat sekali. Ternyata kita sudah tua, ya Kang, sebentar lagi bakal mendapat cucu ." "Mudah-mudahan," sahut suaminya sambungannya menerawang ke masa silam, sekitar dua puluh dua tahun yang lalu. Pak Dakri mendapat jodohnya juga di alun-alun Kandanghaur. Kala itu, adat jaringan mempunyai aturan-aturan tertentu. Pemudanya harus memakai baju kampret berwarna hitam atau putih, dengan celana komprang sampai lutut, dan berselempang kain sarung.

Sedangkan para gadisnya mengenakan baju kurung berwarna hijau dengan selembar selendang di pundaknya. Yang janda juga begitu dandanannya, cuma bukan dengan baju kurung, melainkan harus memakai kebaya. Pak Dakri tersenyum sendirian sambil melihat rokok lintingannya. la teringat, setelah mondar-mandir beberapa saat sambil mengawasi para gadis yang telah menyelempangkan selendang mereka di leher, akhirnya jantungnya berdentang keras melihat seorang mojang berkulit sawo matang dengan pipi mulus dan pinggul yang bundar. "Ah, siapa tahu dia mau," gumam Dakri seraya mendekati gadis itu.

Seperti Mahipal sedang menaksir Shakila, Dakri yang saat itu masih remaja belia bergegas menghampiri gadis itu seraya berdehem-dehem. "Ehem. ...Tos aya nu gaduh? Sudah ada yang punya?" Cewek itu, aduh, menggeleng sambil melengos tersipu-sipu. "Ti mana kawitna? Asalmu dari mana?" Gadis itu, meskipun pemalu, bisa juga menjawab, "Parean Girang." Dakri kian berkobar-kobar. "Hoyong ka isun? Mau dengan aku?" Mojang itu, amboi, menganggukkan kepala. Dan itulah awal mulanya ketika remaja Dakri bermimpi yang indah-indah sepanjang mengantarkan Rasita ke Parean Girang.

Tiba di rumah hasil jaringannya itu, sebuah bangunan cukup besar menurut ukuran setempat, Rasita meryuguhkan air bening dalam kendi, lalu tidak muncul-muncul lagi. Dakri hanya ditemani orang tua Rasita. Menjelang saatnya permisi, ayah Rasita langsung bertanya, "Kamu sungguh-sungguh mau dengan anakku?" Kala itu Dakri yang tersipu-sipu. la menjawab gemetar, "Saya sungguh-sungguh ." Maka sejak malam itu dilakukanlah penjajakan-penjajakan. Orang tua Rasita berusaha mengenal calon besan dan calon menantunya. Sedangkan Dakri berusaha makln dekat dengan calon istrlnya. Tiap malam ia menemuinya di pasar jaringan, lalu mengantarkannya ke Parean Girang, dan baru pulang menjelang larut malam.

Sesudah musim jaringan lewat lantaran rembulan kian tua, bapak dan emak Dakri datang untuk melamar Rasita. Mereka menyerahkan sejumlah uang dan membagi-bagikan sirih kepada para tetangga sebagai isyarat bahwa Rasita sudah tidak bebas lagi. Gadis Itu telah diikat. Lantas, menurut tradisi masa itu, Dakri berkewajiban mengabdi kepada calon mertua, yang dinamakan sambatan. Umumnya dengan menggarap sawah calon mertuanya sampai panen. Apakah sendirian, atau bersama teman-temannya, semua diserahkan kepada calon menantu.

Calon mertua hanya tahu, sawah itu harus bisa dijual pada waktunya untuk biaya perhelatan kawin. "Seandainya Darti terkabul memperoleh jodohnya, Kang, kita mau nanggap apa buat meramalkan perkawinannya?" tanya Mbok Raslta sesudah selesai menyeduh kopi untuk Kang Dakri. "Nanggap apa, ya? Video apa layar tancap?" Pak Dakri juga belum tahu sebaiknya tanggapan apa yang paling patut bagi pernikahan anaknya kelak. "Sandiwara aja ya, Kang." Itulah permlntaan istrinya, dan Itulah keputusan Pak Dakri. Namun, semua itu bergantung pada nasib. Apakah betul Darti bakal mendapat jodoh dan apakah tambak ikannya akan panen, atau tanaman padinya akan melimpah? Yang jelas, kalau perlu mereka akan berutang dulu kepada Ba- bah Go Liem untuk membiayai pesta perkawlnan Darti. Supaya meriah dan tidak kalah oleh yang lain.

Pak Dakri maslh teringat betul pada waktu menikah dengan Rasita. Untuk meramalkan pelaminan dlpanggilkan tanjidor dari Indramayu Kota. Sudah tentu pengunjungnya berduyun-duyun dari segala penjuru karena perkumpulan tanjidor dari Indramayu Kota sangat terkenal masa itu dan bayarannya juga paling mahal.

Namun, bagl Darti, yang terpikir belum sejauh Itu. Bersama keempat kawan sebayanya mereka memang berdebar-debar setelah menapaki pematang sebelum tiba di jalan besar. Sandal jepitnya sampai hampir putus terinjak kaki Sutini yang tadi hampir jatuh tersandung gundukan tanah. Mereka benar sudah mempunyai pasangan yang didapat dalam pasar jaringan bulan lalu.

Tetapi, niat mereka lebih cenderung untuk bersenang-senang dulu, seperti Paramita Russadhy dengan Adi Bing Slamet dalam film terbaru yang mereka tonton di halaman rumah Pak Lurah, Minggu kemarin. Itulah yang tldak bisa dlterima oleh kaum tua. Dulu pasar jaringan bukan arena untuk berpelukan atau berciuman di pojok-pojok gelap. Oleh karena itu, mereka tidak risi meskipun tempat diselenggarakannya pasar jaringan berdekatan dengan masjid. Pada zaman Itu upacara tersebut malah agak berbau sakral dan ritu'al lantaran mereka mengharapkan bakal dapat jodoh orang sekampung, yang sesuku dan seagama.

Makanya, rumah tangga kaum tua yang didapat darl pasar jaringan diberkatl Tuhan, dan nyaris tidak satu pun yang berantakan di tengah jalan. "Jauh sekali bedanya dengan anak-anak sekarang," ucap Mbok Rasita ketlka membicarakan masalah tersebut dengan suaminya. "Aku juga tidak mengerti, mengapa bisa berubah seperti itu," sahut Pak Dakri membenarkan ucapan istrinya. "Dengan susah payah mereka dibiayai orang tuanya, kadang-kadang sampai hampir habis-habisan untuk pesta perkawinan tiga hari-tiga malam. Tetapi, paling lama setahun rumah tangga mereka sudah hancur . Bekas suaminya akan kawin lagi, sedangkan sang istri biasanya keluar dari desa dan pulang-pulang membawa suami atau harta benda yang beraneka macam." "Mudah-mudahan Darti tidak begitu, ya Kang," ucap Mbok Rasita dengan wajah serba cemas. Tapi penuh harap. Mudah"mudahan.







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa