Or signin with
Logo Abatasa Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Kehormatan
Kehormatan
Selasa, 00 0000

 

"Biasanya Rasulullah selalu minum susu atau lain-lainnya tiap kali berbuka puasa. Ia memang membanyakkan minum kalau bersantap," ujar Anas bin Malik mengisahkan kehidupan Rasulullah yang bersahaja, tetapi selalu rapi dan teratur. "Pada suatu hari aku mempersiapkan minuman untuk berbuka. Ketika itu aku masih tinggal di rumahnya. Sengaja kusediakan secawan susu bagi Rasulullah yang sejak petang belum pulang . Namun, ternyata sampai lewat waktu berbuka, Rasulullah tidak datang. Oleh karena itu, susu tersebut kuminum habis sebab aku menduga, pasti Rasulullah mendapat undangan berbuka bersama di rumah salah seorang sahabatnya. Begitu pula makanan yang kusediakan baginya, daripada dingin lebih baik kuhabiskan juga."

 

Anas bin Malik terhenti sejenak. Matanya membasah. Lalu dengan tersendat-sendat ia melanjutkan, "Menjelang larut malam Rasulullah tiba dari perjalanannya yang hampir sehari suntuk. Ia disertai seorang sahabat yang sering mengiringkan kepergiannya. Kutanyakan kepada sahabat itu, apakah Rasulullah sudah dijamu seseorang pada saat berbuka puasa. Ia menggeleng dan mengatakan bahwa Rasulullah baru minum segelas air putih. Oh, tentu saja aku menyesal dan kebingungan. Aku juga kasihan kepada Nabi. Pasti ia kelaparan dan kehausan. Lantas, ke mana aku harus mencari susu dan makanan di tengah malam. begitu? Untunglah, Sampai terbit fajar Rasulullah tidak meminta apa-apa. Aku lega, namun aku pun terharu akan kearifan dan kebijakannya,"

Demikianlah sikap yang diajarkan Nabi kepada para penerus dan pewarisnya, yaitu menjaga muruah atau kehormatan orang lain yang hendaknya amat diutamakan. Apalagi menjaga kehormatan diri sendiri.

Misalnya yang dialami oleh Jawad al-Amili ketika ia sudah siap hendak menikmati makan malamnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, presis pada waktu ia akan mulai menyuapkan sepotong rotinya. Ia pun mengurungkan makannya dulu untuk membuka pintu.

Ternyata yang datang adalah pelayan seorang ulama kaya bernama Bahrul-Ulum. Pelayan itu berkata, "Tuan ditunggu majikan saya untuk santap malam besama."Jawad segera berganti pakaian, lantas bergegas memenuhi undangan itu. Tiba di sana, hidangan mewah telah tersedia diatas talam. Seolah-olah air liurnya meleleh karena perutnya sudah keroncongan. Akan tetapi, apa yang didengar dari mulut Bahrul-Ulum? Bukan kalimat sopan mempersilakan, malahan teguran yang cukup keras: "Apakah engkau tidak takut kepada Allah, tidak takarub kepada-Nya, dan tidak malu di hadapan-Nya?" Jawad terkeiut setengah mati. Tergagap.

Ia bertanya, "Apa maksud engkau?" Bahrul-Ulum menjelaskan, "Salah seorang saudara engkau tidak mampu membeli beras atau gandum untuk menghidupi keluarganya, la hanya sanggup memberi mereka makanan sehari-hari berupa kurma kering. Itu pun dia mengutang dari seorang juragan dua kali sehari, pagi dan malam saja karena memang ia sangat tidak mampu. Baru saja aku mendengar kabar bahwa juragan itu menolak memberinya kurma kering sebagaimana biasanya. Dengan keras juragan jtu berkata, "Utangmu sudah kelewat banyak." Dia tidak saja malu, tetapl juga amat sedih. Bagaimana ia harus memberi makan keluarganya malam ini? Maka alangkah hinanya engkau kalau berfoya-foya dengan makanan serba lezat sementara saudaraengkau itu menahan rasa lapar sampai pagi."

"Demi Allah, aku tidak tahu keadaannya semiskin itu. Ia tidakpernah bercerita atau mengadu kepadaku." sanggah Jawad penuh rasa malu. "Itulah kemuliaan pribadi saudara engkau itu. Ia tidak mau menyebarkan kesulitannya supaya diketahui dan dikasihani. Oleh karena itu, kalau engkau sekarang sudah tahu dan engkau masih enak makan sendirian tanpa melayangkan ingatan engkau kepadanya, sungguh engkau ini seorang Yahudi atau kafir. Dan yang membuatku marah sekali adalah keteledoran engkau yang tidak pernah melihat-lihat atau memantau bagaimana keadaan saudara-saudara engkau." Kemudian Bahrul-Ulum menyerahkan talam berisi makanan serba mewah itu. "Nah, sekarang biarlah pelayanku membawa talam ini bersama engkau ke rumahnya. Ajaklah dia dan keluarganya makan bersama. Dan ini sejumlah uang, sisipkan diam-diam di bawah kasurnya."

Sesudah itu Bahrul-Ulum memperingatkan, "Ketahuilah, aku tak kan makan sampai engkau kembali kemari dan memberi tahu bahwa ia dan keluarganya sudah kenyang menikmati hidangan itu." Berangkatlah Jawad diiringkan pelayan Bahrul-Ulum ke rumah saudaranya itu. Begitu berhadap-hadapan dengan tuan rumah, Jawad berkata, "Aku ingin makan malam dengan engkau."

Setelah duduk menghadapi talam itu, saudara Ja, wad tersebut berkata, "lni pasti bukan makanan engkau sendiri karena terlalu mewah, tidak sesuai dengan keadaan penghidupan engkau. Maka bila engkau tidak menceritakan dari mana asal-usulnya, dan aku tidak yakin akan kehalalannya, jangan harap aku dan keluargaku akan menyentuhnya."

Terpaksa Jawad mengisahan peristiwanya. Meskipun hatinya kurang puas, saudara Jawad itu mau menikmati hidangan yang sangat lezat tersebut. Sesudah selesai, ia berkata,"Demi Allah, tidak seorang pula tetanggaku yang mengetahui kemiskinanku kecuali si juragan penjual bahan makanan itu."







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa