Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Pustaka » Hikmah » » Mukmin yang Menjadi Cermin
Mukmin yang Menjadi Cermin
Seorang Mukmin adalah sebagai cermin bagi mukmin yang lainnya
Selasa, 19 Juni 2012
Mukmin yang Menjadi Cermin

Suatu saat aku bersandar di salah satu dinding masjid. Sekadar merasakan dinginnya bagian-bagian dinding masjid tesebut seraya melepas lelah karena aktivitas yang ditempuh seharian. Biasanya setelah menunaikan shalat berjamaah kusempatkan untuk Shalat Sunnah dan membaca beberapa ayat suci Al-Qur`an untuk menyempurnakannya. Amalan sunnah itu pula yang sering kusampaikan kepada adik-adik mahasiswa dalam obrolan sore di pelataran masjid.

 

Tapi tidak untuk hari ini, kelelahan dan mata yang semakin mengantuk membuatku enggan melakukannya meskipun telah meniatkan. Kutunda 5 menit, 10 menit, hingga akhirnya... mataku mulai terpejam tidak kuasa menahan ngantuk yang luar biasa. Mungkin kelelahan, karena kedua mataku semakin berat, sendi-sendi tubuh semakin merenggang mencari posisi nyaman untuk tidur. Semakin asik kumerasakan dinginnya dinding dan lantai masjid, semakin hilang suara-suara yang ada di sekitarku. Hingga akhirnya....

 

``Mas... mas... lagi istirahat ya... maaf mas bisa minta waktunya sebentar...?`` Tanya salah satu adik binaan ngajiku. Aku pun mengusap kedua mataku dan dengan berat hati membukanya.... ``Iya dek..., ada apa...?`` jawabku sambil mengubah posisi duduk dan berusaha untuk kembali bersandar.

 

``Ini mas... mungkin saat ini iman saya lagi melemah, bisa sharring nggak mas... bagaimana caranya agar kita bisa tetap melakukan Shalat Sunnah dan membaca Al-Qur`an setelah shalat berjamaah sedangkan kondisi kita sedang dalam kelelahan.`` Pertanyaannya lugu dengan wajah yang selalu tersenyum.

 

Aku pun kaget mendengar pertanyaannya. ``Dek... adek sudah di masjid ini berapa lama?`` tanyaku memastikan orang yang saat ini bertanya sedang tidak dalam kondisi mengejek atau mengujiku. Siapa tahu dia memperhatikanku sedari tadi. ``Baru aja dari rumah mas, kata teman-teman mas ada di sini jadi saya ke sini,`` katanya. Wajahnya bingung mendengar pertanyaanku.

 

Astagfirullahaladzim... aku pun segera memperbaiki posisi dudukku. Menunduk sejenak merasakan bahwa Allah Yang Maha Mengetahui isi hati telah menegurku dengan lembut.

 

Beberapa menit yang lalu aku tak kuasa menahan ngantuk, menunda Shalat Sunnah, hingga memutuskan untuk tidak melakukan amalan yang biasa kulakukan setelah shalat berjamaah Shalat Sunnah dan membaca Al-Qu`an. Dan sekarang lewat pertanyaan adik binaanku, Allah telah menegurku, sebuah pertanyaan yang sama dengan kondisi yang sedang dialami saat ini. Bagaimana mungkin bisa menjawab sebuah pertanyaan sedangkan kita sendiri tidak melakukannya. Bukankah Allah sangat membenci orang-orang yang menyampaikan tetapi tidak melakukan.

 

Kita terkadang sering melalaikan-Nya, melupakan-Nya bahkan sering tidak merasakan-Nya. Tapi Allah tidak sama de­ngan makhluk-Nya. Seberapa jauh makhluk-Nya menjauh dari-Nya, kasih sayang-Nya terus mendekati, melimpah, dan senantiasa menjaga kita. Maha suci Allah.

 

Dengan terus beristigfar kutepuk pundak orang yang bertanya di depanku. ``Dik, cara yang paling tepat mari kita berwudhu bersama dengan wudhu yang sebenar-benamya, sebut nama Allah di dalamnya, dan mari kita baca Al-Qur`an bersama, kemudian kita lanjutkan Shalat Isya berjamaah... insya Allah ini amalan akan lebih ringan untuk dilakukan jika dilakukan bersama,`` ajakku.

``Baik mas, insya Allah adik paham, mari kita wudhu mas.``

 

Pertanyaan sederhana adik binaanku adalah secuil kasih sayang Allah yang mengingatkan hamba-hamba-Nya. Seorang mukmin dan mukmin lainnya masing-masing menyiratkan unsur keteladanan yang dapat dicontoh satu dengan yang lainnya. Persis seperti cermin yang selalu membawa perubahan, siapa pun berdiri di depannya pasti akan berusaha untuk merapikan bagian yang acak-acakkan, membersihkan kotoran yang nempel di pakaian atau seraya berdoa memuji Rabb-Nya ketika bersyukur atas apa yang diberikan.

 

Mukmin atau saudara kita, adalah sosok yang baik yang dikirimkan oleh Allah untuk memberikan pengaruh kebaikan dan penguatan kepada kita. Maka bersyukurlah atas saudara- saudara di kiri kanan kita. Mereka bukan hanya sekadar te- man tapi mereka memiliki jiwa mukmin yang dapat menjadi cermin bagi apa yang kita lakukan. Setelah membaca ini mari sempatkan memeluk dan berjabat tangan dengan saudara kita. Mereka karunia Allah yang jarang kita syukuri adanya.

 

 

Sebagaimana Rosulilloh S.A.W bersabda dalam hadis:

 

`` Seorang Mukmin adalah sebagai cermin bagi mukmin yang lainnya``

 

~ Diriwayatkan Ath Tarbani dari Anas Ra ~







comments powered by Disqus
Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Audio Ceramah
Zina Menghapus Rezeki
KH. Yusuf Mansyur Zina Menghapus Rezeki
Rahasia Tenang Dunia Akhirat
K.H Abdullah Gymnastiar Rahasia Tenang Dunia Akhirat
Kun Fayakun
KH. Yusuf Mansyur Kun Fayakun
connect with abatasa